Indra Sjafri, Pelatih Sekaligus Motivator Ulung

Masih melanjutkan postingan sebelumnya tentang pelatih Timnas U-19 yang cetar membahana, Indra Sjafri. Sosok dari Minangkabau yang saat ini namanya moncer dan membangkitkan optimisme di tengah berbagai berita bernada pesimisme yang melanda negeri ini. Figur yang juga mampu membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia.

Sepakbola memang universal. Meski berbeda suku, agama, ras dan antar golongan, hampir semua orang membicarakan Timnas U-19. Mulai dari rakyat hingga pejabat. Dari warung kaki lima hingga hotel bintang lima. Timnas U-19 juara piala AFF dan lolos ke putaran piala Asia 2014 sudah bikin senang hati kita. Apalagi kalau mampu menembus empat besar dan meraih tiket piala Dunia 2015.

Selain jeli memilih pemain dan ahli meracik strategi permainan, Indra Sjafri ternyata juga seorang motivator ulung. Simak saja pernyataannya ketika Timnas U-19 akan bertanding melawan Korsel.

Bila sebagian besar pengamat bola maupun mantan pemain lebih mengunggulkan skuad negeri ginseng untuk memenangkan partai Indonesia-Korsel, Indra Sjafri justru sebaliknya.

Dia tanamkan keyakinan pada para pemainnya bahwa Korea bisa dikalahkan. “Kita nggak berada di bawah Korea. Justru Korea yang posisinya berada di bawah kita”ungkapnya. Sepekan sebelum bertanding dia janjikan kemenangan atas juara bertahan Piala Asia U-19 tahun 2012 itu. Ucapan yang dianggap sebagai mimpi di siang bolong oleh pelatih lainnya.

Bagi banyak orang, ucapan-ucapan Indra Sjafri tersebut sulit untuk dipercaya dan seakan-akan hanya membual bisa mengalahkan Korea. Dari hitungan prestasi, postur tubuh dan skill, di atas kertas pasukan Laskar Taeguk tersebut diprediksi banyak pengamat lebih unggul dibandingkan tim Merah Putih.

Namun ketika peluit kick off dibunyikan di Gelora Bung Karno, yang terlihat justru sebaliknya. Pemain-pemain Korea seperti kehabisan akal untuk meladeni TimnasU-19. Pelatih Korea yang pada menit-menit awal terlihat duduk santai mulai terlihat tegang dan berdiri di pinggir lapangan ketika timnya kebobolan terlebih dahulu oleh gol Evan Dimas.

Saat itu, kita melihat bagaimana para pemain tak hanya mampu mengungguli Korea namun yang menonjol adalah semangat bermain yang tidak mau kalah dari lawannya yang ditunjukkan Evan Dimas cs.

Juga rasa percaya diri yang tinggi dari timnas U-19 menghadapi juara Piala Asia 12 kali. Tidak terlihat keraguan sedikitpun dan rasa gentar dengan nama besar Korsel. Yang muncul justru permainan yang bertenaga, para pemain yang tak kenal lelah menjelajah setiap area dan berusaha keras merebut bola dari pemain lawan.

Motivasi yang disuntikkan Indra Sjafri telah membangkitkan kepercayaan diri Timnas U-19. Evan Dimas cs  tidak mau negaranya diinjak-injak dan dipermalukan di kandang sendiri oleh tim lawan. Sikap pantang menyerah dan militansi serta rasa nasionalisme tinggi terbawa dalam permainan. Semangat bermain yang pernah juga ditunjukkan Timnas Senior ketika bertanding di Piala Asia 2007 di SUGBK.

Meski saat ini Timnas U-19 diberikan kesempatan untuk berlibur seminggu dan menikmati prestasi lolos ke putaran final Piala Asia tahun 2014, bukan berarti kata-kata motivasi Indra Sajfri juga terhenti.
Dengan fasilitas media social, sang pelatih tetap rajin berkicau menyemangati pemain asuhannya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air untuk terus mengejar mimpi.

“Tidak ada kata tidak mungkin. Semua bisa terjadi jika kamu yakin.”

Tak hanya itu, Indra Sjafri juga mengingatkan agar Evan Dimas cs tak sombong dengan keberhasilannya mengalahkan Korea dan menjadi juara grup G tanpa pernah terkalahkan.

Sikap dan tindakan tersebut benar-benar menunjukkan kepada kita, bagaimana totalitas dan passion Indra Sjafri terhadap profesinya tak perlu diragukan lagi. Kata-kata motivasi tak hanya disampaikan ketika pemain berkumpul dan akan bertanding. Namun juga ketika pemain kembali ke kampung halamannya untuk beristirahat. Hal tersebut sekaligus juga menandakan bagaimana kedekatan seorang pelatih dengan pemain asuhannya.

Tak heran, ketika bertanding di lapangan para pemain memperlihatkan rasa hormat dan bermain sepenuh hati. Begitu hormatnya kepada sang pelatih, sampai ketika Muchlis Hadi Ning dan Yabes Roni ketika melakukan kesalahan karena memiliki peluang emas dan gagal mencetak gol, keduanya meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangannya di dada sambil melihat ke tepi lapangan. Joss tenan…

Rasa hormat yang juga ditunjukkan ketika pemain diganti dan keluar lapangan. Jika di tim sepakbola lainnya pemain lain hanya bersalaman dengan sang pelatih pada saat keluar lapangan, pemain Timnas U-19 bahkan sampai mencium tangan Indra Sjafri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s