Dibantu Calo Tiket Bandara

Tak pernah terbayangkan, gara-gara lupa konfirmasi tiket pesawat, saya terpaksa harus menginap semalam di Jakarta. Kejadiannya sudah berlangsung cukup lama, sekitar enam belas tahun yang lalu.

Saat itu, bulan Juli 1997, saya melangsungkan pernikahan di Jogja. Termasuk kilat juga mulai kenal sampai menikah, prosesnya hanya enam bulan. Itu pun dijalani dengan hubungan jarak jauh. Istilah sekarang LDR. Saya kerja di Kalimantan dan istri kerja di Jakarta.

Tiga hari setelah resepsi pernikahan, saya kembali ke Pontianak melalui Jakarta. Ada telegram dari perusahaan yang isinya akan ada proses sertifikasi dan harap maklum. Meski tidak ada kalimat yang menyuruh pulang, namun kalimat harap maklum tersebut bermakna saya perlu hadir pada saat kegiatan tersebut.

Tiket pesawat Jakarta-Pontianak sudah di tangan. Rencananya dari Jogja ke Jakarta saya menggunakan kereta api. Setiba di stasiun Gambir saya langsung menuju konter city check in maskapai Merpati Airlines. Dada saya langsung berdetak keras ketika petugas memberitahukan nama saya tidak terdaftar dalam penerbangan pada hari itu. Petugas menjelaskan, nama saya digantikan penumpang lain karena saya tidak konfirmasi kepastian berangkat beberapa hari sebelumnya.

Dengan tiket pesawat masih di tangan, saya bergegas ke bandara Soekarno-Hatta menumpang bis Damri. Saya menghubungi pihak Merpati dan bertanya apakah bisa diubah waktunya untuk keberangkatan esok harinya. Ternyata nggak bisa. Penerbangan untuk besok penuh.

Akhirnya saya kembalikan tiket tersebut dan minta diganti uang (refund). Meski dijelaskan kalau harga tiket dipotong 25 % tetap saya terima, karena uangnya bisa digunakan membeli tiket maskapai lainnya.

Selanjutnya, saya berburu tiket ke maskapai lainnya agar bisa berangkat hari itu juga dan tidak perlu menginap. Jawaban dari maskapai penerbangan lainnya juga sama, penerbangan Jakarta-Pontianak hari itu penuh. Untuk besok yang ada tiket cadangan, jadi belum ada kepastian bisa berangkat atau nggak.

Pada saat kebingungan mencari tiket itulah seorang calo mendekati saya. Dia menanyakan mau kemana dan apakah sudah dapat tiket. Saya bilang mau cari tiket ke Pontianak untuk hari ini juga. Dia menghubungi seseorang dan menegaskan kalau tiket yang saya cari memang habis. Berarti informasi petugas di bagian konter maskapai tadi memang benar.

Kemudian dia menawarkan tiket untuk besok hari dan tanpa ragu-ragu saya langsung menerimanya. Setelah tawar-menawar harga akhirnya selembar tiket Mandala Airlines saya dapatkan.

Meski tiket untuk besok sudah beres, masalah berikutnya muncul. Di mana saya harus menginap semalam di Jakarta? Karena nggak ada rencana bakal menginap, saya nggak membawa banyak uang tunai selama di perjalanan.

Mau menginap di hotel, tarifnya lumayan mahal untuk ukuran saya. Sekitar 300 – 400 ribu semalam. Hampir sama dengan harga tiketnya. Tanpa saya duga, calo tiket tadi menawarkan supaya menginap di rumahnya di sekitar bandara.

Kesempatan baik datang dan nggak boleh di tolak. Mungkin jalannya memang harus seperti itu. Setelah menunggu hingga sore hari, akhirnya saya diajak menuju rumahnya. Sebuah tempat berbentuk rumah petak dengan dua kamar tidur, dapur, kamar mandi sekaligus tempat cuci dan ruang tamu.

Rupanya di rumah itu, dia tinggal tidak bersama keluarganya, namun bersama empat orang kawannya. Profesinya juga sama-sama calo di bandara. Baru tahu saya, rupanya mereka adalah para perantau yang bekerja sebagai calo tiket di bandara dan menyewa rumah untuk tempat tinggal. Saya membayangkan sebelumnya kalau dia penduduk asli Jakarta dan tinggal di rumah itu bersama istri dan anak-anaknya.

Pantas waktu saya ke rumahnya suasananya sepi. Tak lama setelah kami tiba, teman-temannya pun berdatangan. Dia menjelaskan kalau ada satu penumpang yang malam ini mau menginap karena baru bisa berangkat esok harinya.

Ketika di bandara penampilan mereka terkesan necis, berpakaian rapi dan tegas. Namun setelah berada di rumah kontrakan itu, semuanya berubah. Penuh canda dan terlihat akrab. Berpenampilan sederhana, makan nasi bungkus bersama-sama dan terjalin ikatan persaudaraan yang erat.

Kemudian saya dipersilakan menggunakan satu kamar tidur dekat dapur untuk istirahat. Sempat nggak enak hati juga saya tolak. Namun saya tetap diminta untuk tidur di kamar yang sudah ditentukan. Karena rasa letih yang tak tertahankan setelah seharian bolak balik di bandara mengurus tiket, saya pun tertidur pulas. Sebelumnya saya dipesan supaya besok paginya berangkat bersama-sama ke bandara.

Tak pernah terbayangkan, sebuah kisah yang berawal dari urusan tiket pesawat akhirnya sampai menginap semalam di rumah kontrakan calo tiket. Sebuah hikmah dalam kehidupan saya dapatkan. Ternyata dia tak hanya menolong mencarikan tiket, namun juga menyediakan tempat untuk menginap. Secercah kebaikan hati muncul ketika melihat penumpang yang mengalami kesulitan.

Ketika pagi harinya saya menyerahkan uang sebagai tanda terima kasih atas bantuannya, dia menolak. “Pakai saja uangnya untuk pulang, Mas”katanya. Di bandara dia benar-benar berhitung masalah harga tiket, namun ketika di rumah kontrakan, dia tak mempermasalahkan biaya penggantian menginap.

Rupanya Allah punya skenario lain dengan diri saya saat itu. Gagal berangkat dengan Merpati dan harus menginap di Jakarta adalah rencanaNya. Meski saya lupa konform tiket, itu adalah bagian dari episode yang harus saya jalani. KeinginanNya untuk mempertemukan saya dan mengambil hikmah dari sepenggal kehidupan seseorang yang berprofesi sebagai calo bandara.

Satu pelajaran saya dapatkan waktu itu. Bahwa kita tak bisa hanya menilai seseorang dari apa yang kita lihat. Menilai dari satu sisi. Di balik kehidupan mereka, ada nilai-nilai universal yang kini kian pudar. Keinginan untuk menolong orang lain. Meski profesi mereka mengutamakan materi, namun di balik itu masih ada sikap untuk membantu sesama.

15 pemikiran pada “Dibantu Calo Tiket Bandara

    1. Benar, Chris. Terkadang kita mengalami kejadian di luar yg kita perkirakan. Yg awalnya kita duga sebuah kesulitan ternyata terkandung hikmah kehidupan. Saya nggak pernah menyangka ditolong dgn cara spt itu.

  1. Sungguh kisah yang mengharukan, Pak Yudhi. Allah benar-benar Maha Penolong dan mampu membolak-balik hati hamba-Nya, sehingga muncul jiwa sosial yang tinggi pada diri calo tersebut.

    1. Alhamdulillah, pak Iwan. Pada situasi sulit, saya waktu itu diberikan jalan keluar yg nggak disangka-sangka. Ditolong Allah melalui seorang calo yg baik hati.

  2. telegram? apa kabarnya? saya hanya mendengar dari cerita belum pernah menerima dan mengirimnya. Seru kali ya.
    Well, Allah maha mengetahui apa yang umat butuhkan.

    1. waktu itu untuk kirim berita, selain pakai surat juga via telegram karena lebih cepat sampai. setau saya sih sekarang ini produk itu udah nggak ada lagi. digantikan sms dan email.
      benar, Mas. Sebuah pertolongan dari Allah yg benar-benar di luar perkiraan saya

      1. ya, mas. telegram apalagi surat via pos sering bikin yg menerima berdebar-debar dan nggak sabar untuk membacanya
        sampai sekarang koleksi surat menyurat via pos dgn istri masih saya simpan.🙂

  3. Mayang Tsamrotul Qolbi

    Maaf boleh saya bertanya, apakah anda masih punya no kontak calo yang membantu anda?
    Karena saya butuh untuk menjual tiket yang sudah kadung terbeli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s