Belajar Ikhlas

“Sing penting nggaweo amben sing apik. Mengko longane teko dewe”demikian salah satu pesan guru saya yang masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Sebuah pepatah atau tepatnya petuah Jawa yang mengajarkan diri saya untuk tidak terlalu hitung-hitungan dalam berbuat. “Yang penting bikinlah ranjang atau tempat tidur yang bagus. Nanti kolongnya akan datang sendiri” mungkin seperti itu terjemahannya.

Emang nggak mudah menerapkan petuah itu di era wani piro seperti saat ini. Sebuah era dimana tawar-menawar menjadi hal penting sebelum sebuah pekerjaan dieksekusi. Sebuah prasyarat harus dipenuhi dulu sebelum kaki melangkah.

Kalau pironya belum deal, sebuah pekerjaan nggak akan diselesaikan. Sebelum berapanya disanggupi, jangan dulu mulai dikerjakan. Semua serba penuh perhitungan. Sangat komersil dan segalanya diukur dengan materi.

Tak terkecuali, falsafah wani piro itu juga merambah hingga ke dunia kerja. Yang bertugas sebagai ujung tombak dalam melayani orang lain pun belum tentu murni berasal dari dalam hatinya. Namun karena tuntutan standar opersasional prosedur di dalam bekerja.

Kalau sudah seperti itu, kerjanya dalam melayani jadi seperti robot. Kaku. Baru melayani kalau diperintah. Mulai bergerak kalau ada instruksi. Mau bertindak kalau ada imbalannya. Sebenarnya dari sikap seseorang, bisa dibedakan kok orang yang tulus melayani atau karena tuntutan pekerjaan. Senyum front liner  atau customer officer yang benar-benar ramah atau karena keterpaksaan.

Kalau kita renungkan sejenak, sebenarnya petuah di atas masih relevan dengan kondisi sekarang. Bahwa kita nggak perlu cemas nggak kebagian hasil setelah bekerja dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Nggak perlu khawatir kalau longan atau kolong tempat tidurnya nggak akan kita terima setelah membuat ranjang atau tempat tidur.

Justru kita perlu cemas kalau nggak pernah bikin ranjang yang bagus tapi tiba-tiba dapat kolongnya. Perlu khawatir kalau nggak pernah bikin tempat tidur sampai selesai tapi minta  bagian kolongnya. Itu bisa saja terjadi. Nggak kerja tapi dapat imbalan. Atau kerja nggak tuntas menyelesaikan tugas tapi minta bagian yang sama.

Namun kita perlu hati-hati. Gusti ora sare. Sebenarnya imbalan atau hasil yang diterima itu belum tentu membawa keberkahan. Sama seperti kenikmatan yang oleh Allah terus-menerus diberikan kepada seseorang hingga ia terlena. Dalam bahasa agama disebut isti’draj atau dilulu dalam bahasa Jawa.

Sampai pada satu saat, akhirnya segala kenikmatan tersebut dicabut. Seperti mengulur benang layangan. Kemudian pada saatnya benang tersebut ditarik dan disentak dengan cepat. Dan pada saat itulah, biasanya seseorang baru tersadar.

14 pemikiran pada “Belajar Ikhlas

  1. Memang tidak semua orang bisa mengerjakan sesuatu sepenuh hati karena mereka llack of motivated dan juga mereka gak ada impian…
    Ada Film Korea, lucu sih,,,tapi ngena saat dia nasehatin seorang anak SD kelas 6 yang suka bolos, dia bilang “miliki impian” benar saja setelah memiliki impian ada perjuangan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s