Good News from Indonesia

IMG01685-20131205-0504

Judul postingan ini saya pilih sama seperti judul buku yang baru saja selesai saya baca. Buku yang berisi berita-berita positip tentang Indonesia. Memangnya selama ini tidak ada berita yang baik? Ada. Tapi yang lebih banyak ditayangkan media justru berita-berita yang bikin kita khawatir, cemas, galau, pesimis dan sepertinya negeri ini memiliki masa depan yang suram.

Kalau kita lihat teve dan baca media arus utama, sebagian besar isinya membuat pemirsa dan pembacanya punya perasaan negatif tentang Indonesia. Lihat saja kasus-kasus korupsi, kekerasan aparat, perkelahian antar warga, tawuran pelajar atau bencana alam gunung meletus, banjir, longsor dan kemacetan di kota dan daerah. Semua berita itu nyaris setiap hari kita terima dan  menyurutkan rasa optimisme untuk menjalani hari demi hari.

Tak hanya saat ini saja. Beberapa tahun lalu  pada saat reformasi tahun 1998, para pengamat memrediksi nasib Indonesia akan seperti Yugoslavia.  Terpecah-pecah menjadi Bosnia Herzegovina, Kroasia, Montenegro, Serbia. Beberapa daerah akan memerdekakan diri dari NKRI. Ternyata setelah 15 tahun, prediksi itu tak terbukti. Yang ada bukan memerdekakan diri. Tapi justru beberapa daerah memekarkan diri menjadi kabupaten, kotamadya atau propinsi baru 🙂

Penulis, Akhyar Hananto, yang lahir dan besar di sebuah desa di lereng gunung Merapi, Sleman,  pernah mengalami hal yang tak mengenakkan dengan berita yang lebih banyak berisi kekerasan tersebut.

Ketika di Bandara Ngurah Rai Denpasar menunggu pesawat lepas landas, berita pagi yang ditayangkan televisi adalah hal-hal yang buruk. Perkelahian antar warga. Pagi-pagi penumpang pesawat sudah disuguhi berita yang bikin emosi cepat terbakar. Sampai-sampai anak kecil warga asing yang terpana melihat berita itu didekati oleh ibunya. Matanya ditutup dengan tangan dan dibawa ke tempat lain agar tak meneruskan melihat tayangan itu.

Makanya, sekarang ini saya jarang nonton televisi lokal. Hanya acara-acara tertentu saja yang saya lihat seperti Kick Andy, Mario Teguh Golden Ways atau siaran langsung olahraga. Sumber informasi lebih banyak saya dapatkan dari media cetak dan internet.

Berbeda ketika penulis transit di Singapura dan melihat tayangan televisi di bandara Changi misalnya. Saat itu tayangan yang dilihat adalah Channel NewsAsia yang menayangkan perkembangan dan kemajuan negara tersebut. Dengan pengalamannya sering bepergian ke luar negeri, berbagai cerita dari warga asing tentang Indonesia  makin menebalkan keyakinannya bahwa negeri ini tak seburuk seperti yang diberitakan televisi. Tak semuanya negatif.

Simaklah ketika penulis berkunjung ke kepulauan Solomon. Dalam perjalanan dari Yogyakarta-Jakarta-Singapura-Brisbane dan ke Honiara pada hari berikutnya, penulis mendapat kejutan dari petugas bandara di Brisbane. Dia mendapat oleh-oleh berharga untuk disampaikan kepada kita semua.

Petugas bandara itu menyampaikan,”Saya mencintai Indonesia, mungkin lebih dari sebagian orang Indonesia sendiri mencintai bangsanya. Sampaikan kepada media massa di Indonesia untuk berhenti memberitakan hanya yang buruk-buruk tentang bangsanya dan mengesampingkan jutaan berita bagus yang layak disampaikan”. Bagaimana dia bisa mendapatkan channel gosip dan sensasional? Ternyata dia sering ke Indonesia dan menonton Buser, berita siang dan lain-lain. Ternyata orang luar negeri pun merasa kesal dengan berita-berita seperti itu.

Kejutan berikutnya dialami penulis pada saat di Honiara, ibukota kepulauan Solomon. Dia bertemu dengan Michael, salah satu warga yang terkejut  mengetahui penulis berasal dari Indonesia. Di matanya, Indonesia adalah negara yang menghasilkan Rinso, Blueband, Buavita, Tango, Kacang Garuda dan lain-lain. Indonesia adalah negara yang dahulu banyak diceritakan guru-gurunya waktu sekolah dasar tentang keindahan, pluralitas dan keramahtamahan penduduknya. “Sebelum Tuhan memanggil saya, saya harus sempat berkunjung ke Indonesia. Semoga Dia mengijinkan saya,”lanjut Michael.

Atau cerita menarik ketika dia bertemu  warga Indonesia yang sudah 17 tahun berada di New York. Pertemuan yang tidak disengaja, karena saat itu musim salju dan  karena kedinginan penulis kemudian masuk ke sebuah coffe shop. Tak dinyana ketika penulis membuka jaket dan kaosnya yang bertuliskan,“Damn! I Love Indonesia”, ada seorang yang menyapanya dengan halus,“Are you from Indonesia?”Spontan penulis menjawab dengan bahasa sehari-hari (Jawa),”Injih”

Setelah mengobrol, tak disangka rupanya dia bertemu warga Indonesia asal Magelang bernama Widyanto. “Pasti sudah kerasan ya, Mas…di Amerika? Sudah tidak kangen Magelang?” tanya penulis. Wajah sahabat barunya itu mendadak sendu.”Amerika memang negara sangat maju. Namun banyak hal yang tidak saya dapatkan di sini. Seperti yang saya dapatkan di tanah air,”ujarnya sambil mengusap matanya.

Dia bercerita betapa merindukan sinar matahari, suasana pedesaan yang penuh kekeluargaan, para petani yang pergi ke sawah sesudah subuh, atau setiap ada hajatan seluruh warga kampung berkumpul. Satu hal yang mengingatkannya pada Indonesia, terutama kampung halamannya di Magelang.

Kisah menarik lainnya diceritakan dalam buku ini  tentang temannya yang orang Rusia. Temannya itu pernah berkeliling pulau Jawa dan Bali untuk berwisata kuliner. Di luar dugaan,  lidah Kaukasiannya bisa menerima variasi masakan Betawi, Sunda, Jogja, Jawa Tengah hingga Bali. Dari masakan pedas khas Sunda, sate, hingga bebek goreng dia menyukainya. “Orang Indonesia itu nggak bisa makan tanpa sambal, kerupuk dan garam, dan itu sangat khas”katanya.

Itu baru dari satu sisi yaitu kuliner yang diakui warga asing. Belum lagi dari sisi ekonomi. Saat ini Indonesia masuk negara urutan ke-16  dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) di atas US $ 1 trilyun. Bagi yang pernah belajar ilmu ekonomi tentu tahu istilah PDB. Yang mengagetkan adalah penulis justru membaca berita itu di harian The Strait Times Januari 2012 ketika berada di negara lain.

Tak hanya itu, dari angka pertumbuhan ekonomi 6 % per tahun, Indonesia unggul di atas negara-negara Eropa yang tumbuh 0-2 % per tahun. Negara yang angka pertumbuhan ekonominya di atas Indonesia hanya ada dua. China dan India.  Kalau lihat angka itu memang masuk akal. Meski saya bukan ahli ekonomi , tapi saya lihat pertumbuhan itu memang benar. Mau buktinya?  Tak perlu jauh-jauh.

Di kota-kota besar bahkan  berbagai di daerah,  usaha masyarakat berkembang. Industri rumah tangga  bertambah, investasi dari luar negeri  deras mengalir.  Pendapatan masyarakat juga meningkat. Tak heran kalau daya beli masyarakat juga naik. Jalan-jalan dipenuhi dengan berbagai merek mobil dan sepeda motor.  Meski banyak di antaranya yang beli dengan cara kredit. Bermacam gadget canggih dengan harga yang tidak murah laris manis. Ingat, bagaimana ketika salah satu seeri smartphone terbaru diluncurkan di Indonesia. Warga harus antre untuk mendapatkannya.

Belum lagi dengan bisnis properti.  Pembangunan rumah baru tumbuh bak jamur di musim hujan.  Di dekat perumahan tempat tinggal saya di Pontianak, rumah-rumah yang dibangun harganya sudah mencapai  ratusan juta rupiah. Dan pembelinya tetap ada. Sebagai perbandingan, rumah tipe 36 yang tahun 1997 harganya 20 juta, saat ini nilainya sudah mencapai 10 kali lipat.

Ini menunjukkan kemampuan masyarakat untuk membeli produk barang meningkat.

Bukti lainnya, pergilah anda ke bandara-bandara di Indonesia. Makin banyak penumpang yang bepergian menggunakan pesawat terbang. Bahkan ada anekdot, suasana di beberapa bandara saat ini sudah seperti di terminal bis karena ramainya penumpang 🙂

Pertumbuhan ekonomi itu tak hanya di kota. Di tempat kerja saya yang berada di pedalaman Kalteng, banyak penduduk di desa yang  saat ini punya usaha sembako, ayam potong, jasa perahu klotok dan bahkan bengkel motor.

Di salah satu kecamatan baru hasil pemekaran yang letaknya di tepi hulu sungai Katingan, ada satu orang yang mendirikan tempat penginapan. Dia jeli melihat peluang karena tempat tersebut adalah wilayah transit warga yang bepergian dari Kalteng ke Kalbar atau sebaliknya.

Setelah membaca buku Akhyari Hananto ini, pelan-pelan rasa pesimis dan nada negatif tentang negeri ini mulai pudar. Ini yang saya rasakan. Di balik berbagai kasus dan masalah yang menimpa negeri ini, ternyata masih banyak sisi positip yang selama ini mungkin belum kita ketahui.

Iklan

24 pemikiran pada “Good News from Indonesia

  1. Langsung terenyuhh baca postingannya (belum bukunya loh)
    jujur aja, saya juga kadang pesimis sama Indonesia, rada minder gitu, sering banding2kan dengan negara lain,… ahhh, memang harus mencintai Indonesia, karena kalau sudah cinta biasanya nggak melulu melihat hal2 negatifnya

    1. Wawasan saya jg terbuka setelah membaca buku ini. Media selama ini kurang seimbang dalam memberitakan sesuatu hal tentang negeri kita, Chris.

      Lebih banyak sisi negatif yg ditampilkan. Padahal harusnya meliput dari dua sisi, biarkan pembaca yg menilainya. Mungkin karena mereka menganut paham “Bad news is good news”

  2. mhilal

    GNFI selalu saya ikuti perkembangan beritanya melalui facebook dan Twitter.
    Betul. Berita di televisi dan koran kebanyak berisi hal negatif.
    Membaca twit dan status GNFI tak hanya menumbuhkan harapan, namun juga kebanggaan.
    Harapan saya tak hanya tumbuh, tapi juga membara berkobar.
    GNFI, entah buku, twit maupun status FB, adalah salah satu bacaan wajib.
    omong2, ini postingan yang bagus sekali, pak 🙂

    1. Makasih infonya tentang GNFI. Virus-virus optimisme dan sisi positip negeri ini memang harus disebarkan, termasuk via postingan.
      Beruntung ada media alternatif seperti internet dan ini media yg tepat untuk memposting hal-hal yg positip.. 🙂

  3. wah meresensi bukunya mantab banget Mas…
    Smoga semua elemen bangsa ini kembali optimis ya Mas..supaya Indonesia lebih baik lagi ke depannya .AMIN

  4. Benar sekali Mas Yudhi, media kita selalu menampilkan berita negatif dan memberi porsi yang sedikit untuk “good news”, istilah “bad news is a good news” tak bisa hilang begitu saja dari media yang melulu mengejar rating dan sensasi.

  5. Setuju banget dengan postingannya Pak Yudhi ini. Sungguh mengherankan media kita ini. Porsi pemberitaan yang buruk-buruk dan kurang bermutu terlalu tinggi ya. Tentu media beralasan krn berita buruk, gossip ,petaka dsb itulah yang banyak digemari masyarakat dan ratingnya tinggi. Tapi masalahya itu mirip telor sama ayam. Masyarakat menjadi begitu, karena digiring oleh media juga. Ayo Pak..saya setuju kita para blogger harus berusaha menulis hal-hal yang positive tentang Indonesia kita.

    1. Saya bersyukur, punya teman spt mbak Dani yg juga punya komitmen yg sama. Lebih banyak memposting hal-hal yg positip dan kelebihan2 negeri ini…

      Saya juga heran, kok malah orang luar negeri yg sering mengapresiasi dan berbicara tentang hal yg positip tentang negeri kita…..

  6. maaf mas lama tidak berkunjung kemari, apa kabar..?

    saya pribadi juga sering kesal kalau nonton tv, terlalu banyak tayangan yg kurang mendidik, justru lebih sering tayangan kriminalitas, gosip, korupsi, unjuk rasa, dunia klenik / mitos dst…yg sifatnya kontroversial hanya utk mengejar rating, bahkan tdk jarang siarannya terkesan mendiskreditkan pihak lain dng mengekspose berita2 negatif utk menarik simpati dan empati pemirsa.

    saya pribadi menilai siaran media kurang berimbang dlm menyampaikan informasi.

    btw, bukunya boleh jg tuh,mas..kalau dilemparkan ke sini saya siap menangkapnya kok..!? *ngarep gratisan..
    heehheehee..

    salam dari sintang

    1. Alhamdulillah, bro. Lagi sibuk ya di Sintang? Kabar saya baik dan sehat. Syukurlah, bro Zainal sudah berpikir kritis dalam melihat tayangan televisi lokal kita.

      Sedikit banyak, tayangan2 yg seperti itu akan mempengaruhi sisi psikologis pemirsa. Pemirsa akan jadi pesimis dgn masa depan negeri ini. Padahal kenyataannya ‘kan nggak semuanya spt itu.

      Mengenai bukunya, kalau tertarik boleh saya lemparkan ke tempat awak….kapan nih kita bisa Kopdar? 🙂

      1. Kopdar..?? saya juga sudah lama mikir gitu,mas.. apalagi kalo bisa bikin semacam komunitas blogger Sintang dan Melawi. Pasti seru ya..?

      2. bener, mas.. sekalian berbagi cerita, dan pengalamannya..
        Saya ngikut aja kapan Mas Hendro siap, saya tahu mas banyak kesibukan.
        Kalau sekarang2 saya lg di Tayan, mas. Mungkin bulan februari baru kembali..biasa lah nguli.

      3. ok…baiknya kapan2 kita yg kopdaran dulu, bro. saya beberapa bulan ini sering ke sintang… antar jemput tamu ke bandara…Tayan makin maju dan ramai ya sekarang….

      4. iya mas, luar biasa pesat. apalgi sekarang mulai dibangun jembatan. mudah2an cepat selesai..

        kalau gak keberatan bolh minta no hp gak mas.? no hp saya ada di page Pengurus Kandang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s