Jangan Lelah Memperbaiki Diri

Dua hari yang lalu (9/12), di Bintaro Jakarta, sebuah rangkaian kereta api menabrak mobil tangki Pertamina yang mengangkut elpiji. Sebuah kecelakaan yang diduga akibat perilaku pengemudi truk tangki yang ceroboh. Menerobos palang pintu kereta api meski suara alarm pintu perlintasan telah berbunyi. Sebuah kesalahan yang harus dibayar mahal. Lima korban meninggal dan 33 orang luka-luka. Tak lupa, ucapan bela sungkawa dan duka cita yang mendalam kita sampaikan kepada pihak keluarga korban.

Peristiwa itu tak lama terjadi setelah dua BUMN yang mengelola perkerataapian dan minyak di negeri ini mendapat penghargaan. PT KAI dengan Ignatius Jonan sebagai dirutnya baru saja terpilih sebagai CEO BUMN terbaik dalam BUMN Award tahun 2013.

Sementara itu, Karen Agustiawan, direktur utama wanita pertama di Pertamina berhasil membawa BUMN itu masuk 500 perusahaan terbaik menurut Forbes. Pertamina merupakan perusahaan pertama Indonesia yang berhasil mencetak sejarah dan berada di posisi 122 dunia.

Tentu tak fair jika kasus kecelakaan itu hanya ditimpakan kepada kedua BUMN tersebut. Masih ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu human factor. Sebagus apa pun sistem yang dibuat untuk memperkecil resiko kecelakaan kerja, jika manusianya ceroboh dan tidak taat aturan, bahaya besar menghadang di depan mata.

Ini yang juga kurang disadari masyarakat kita. Khususnya pengguna jalan. Lampu kuning di perempatan lalu lintas adalah pertanda untuk memperlambat kendaraan. Bukan sebagai isyarat untuk tancap gas. Bunyi alarm di perlintasan kereta api adalah pertanda agar para pengguna jalan di kedua sisi pintu perlintasan kereta api harus memperlambat laju kendaraannya. Bukan justru isyarat untuk mempercepat kendaraan agar lolos dari palang pintu kereta api.

Jika kesadaran untuk mendahulukan kepentingan umum belum tertanam dengan baik di dalam benak masing-masing warga, resiko terjadinya kecelakaan tetap akan tinggi.

Agak sulit saya membayangkan mengapa pengemudi truk tangki itu nekat menerobos pintu perlintasan kereta. Padahal suara alarm telah berbunyi. Apakah dia tidak memikirkan resiko yang terjadi? Resiko yang tak hanya mempertaruhkan nyawanya, namun juga nyawa orang lain. Kenapa dia tidak bersabar menunggu beberapa menit dan melanjutkan perjalanan setelah kereta melintas? Daripada mengejar waktu sampai di tujuan, namun justru berakhir dengan tabrakan yang mengorbankan nyawa orang lain.

Kecelakaan ini adalah sebuah momen untuk menyadarkan kita semua. Terutama para pengemudi dan pengguna jalan lainnya. Bahwa kelalaian sekecil apapun tetaplah besar resikonya. Sebuah kecerobohan yang terjadi harus dibayar sangat mahal oleh orang lain dan juga dirinya.

Secanggih apapun sistemnya dan sehebat apapun teknologinya, semuanya tergantung pada orang yang menggunakannya. Karena itu, perbaikan sistem dan teknologi juga harus diimbangi dengan perbaikan orangnya. Termasuk pembenahan sikap dan perilakunya ketika bekerja. Dan ini bukan hanya tugas pemerintah atau BUMN.

Ini adalah tugas setiap individu untuk selalu mengoreksi diri. Kewajiban setiap warga untuk introspeksi tentang apa yang telah dilakukannya. Diperlukan peran serta aktif masyarakat agar lebih cermat dan berhati-hati dalam bekerja. Tak ada kata lelah untuk memperbaiki diri. Tak ada istilah letih untuk membenahi sikap dan perilaku kita agar jangan sampai jatuh korban lagi.

Jika diri kita masih merasa enggan dan tidak peduli, coba kita bayangkan, bagaimana seandainya yang menjadi korban dari kelalaian dan kecerobohan itu adalah salah satu dari anggota keluarga kita?