Merawat Pertemanan

Rupanya bukan hanya badan kita saja yang perlu dirawat. Pertemanan dan persahabatan yang telah terjalin juga perlu dirawat dan dijaga dengan baik. Karena kita tak akan tahu apa yang terjadi dengan kisah jalinan pertemanan itu di kemudian hari.

Cerita di atas nampaknya juga saya alami ketika mendampingi beberapa tamu yang datang ke lapangan. Pernah ada satu tamu yang berkunjung ke tempat kerja, ternyata dia teman semasa SD yang pernah tinggal satu kompleks di Cirebon.

Ketika dia bertanya apakah dulu pernah tinggal di Cirebon dan menyebut dengan benar nama bapak saya, saya pun tercengang. Kok dia tahu tentang orangtua saya? Pasti dia pernah kenal dengan keluarga saya. Setelah saya ingat-ingat, ternyata orangtuanya  saat itu bekerja di kantor yang sama dengan bapak saya.

Obrolan pun mengalir dengan lancar. Dunia memang terasa sempit. Sebuah pertemuan yang justru terjadi di tengah rimba belantara. Bukan di tengah keramaian kota. Sayang ingatan itu muncul pada saat dia dan teman-temannya sebagai peneliti berpamitan pulang setelah melakukan observasi lapangan.

Kejadian kedua saya alami juga ketika mendampingi tamu. Bedanya, tamu ini saya kenal ketika saya sudah bekerja di perusahaan. Siapa menyangka, tamu yang waktu pertama datang ke camp sebagai mahasiswa S2 dan melakukan riset untuk menyusun thesis, kini datang sebagai penilai (auditor).

Ini yang saya alami ketika mendampingi tiga orang tamu lembaga penilai berstandar internasional dalam kegiatan Sustainabe Forest Manageent (SFM) atau Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dua minggu yang lalu.

Beberapa hari menjelang penilaian, ada email masuk dan memberitahukan ada perubahan nama auditor. Dan nama auditor penggantinya cukup saya kenal. Karena selama riset di lapangan, saya sering bertemu dan berdiskusi dengannya.

Bahkan ketika dia pulang ke Bogor, dari camp sampai Pontianak pernah sama-sama satu perjalanan. Satu kamar ketika singgah di Nanga Pinoh dan satu bis ke Pontianak. Saya masih ingat, setelah tiba di kantor agen bis malam, dia sempat saya antar ke hotel sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Tak pernah terpikirkan kalau sang mahasiswa S2 itu kini sudah bergelar Doktor dan sekaligus sebagai auditor. Ada satu hal yang membuat saya terkesan dengan sikapnya. Tetap low profile. Pada saat opening meeting, di hadapan auditor lain dan juga karyawan perusahaan, dia mengakui kalau masih baru sebagai seorang auditor.

Dia bahkan mengakui belajar banyak selama di lapangan ketika melaksanakan riset S2. Banyak pengalaman yang diperoleh tentang bagaimana mengelola hutan tropis. Sebuah pengakuan yang tulus dan mengesankan.

Pada saat proses audit, dengan latar belakang sebagai dosen sekaligus peneliti, kajian dan riset yang dilakukan perusahaan mendapat apresiasi yang tinggi. Terutama jika hasil riset itu juga diterapkan dalam skala opersasional.

Dia mencontohkan seperti pada saat melihat pembibitan. Penggunaan media hasil trial dan error untuk bibit tanaman dinilai cukup berhasil. Penggunaan kompos dari campuran sisa-sisa kayu yang lapuk, dedaunan dan kotoran ternak tidak kalah dengan penggunaan pupuk kimia.

Selain dapat menekan cost pembelian pupuk kimia juga memiliki nilai tambah. Karena dapat meminimalkan limbah sisa kayu yang tak terpakai. Ketertarikan dengan riset juga terlihat saat dia menanyakan apakah pihak perusahaan juga menjalin kerjasama dengan pihak lain. Kebetulan karena saat itu saya yang mendampingi, beberapa paper hasil riset saya tunjukkan.

Melihat beberapa paper dalam bahasa Inggris, dia terkejut dan tidak menyangka kalau hasil riset itu sudah dipublikasikan dalam jurnai ilmiah internasional. Bahkan karena tertarik, paper-paper itu dipinjam dan dibawa masuk ke kamar.

Setelah membaca beberapa paper hasil riset kerjasama, satu hal yang dia sarankan kepada pihak perusahaan pada saat closing meeting. Agar penelitian kerjasama dengan pihak-pihak luar itu juga dapat diterapkan dalam skala operasional. Karena riset yang baik dan bermanfaat adalah ketika hasilnya dapat diaplikasikan di lapangan.

Sebuah saran yang berbobot dari seorang dosen sekaligus peneliti yang tahu  lapangan. Memang tak sedikit hasil riset yang kurang applicable. Hanya selesai sampai di laci meja sang peneliti. Tak banyak yang memberikan manfaat untuk orang banyak.

Sejatinya, riset merupakan hasil pekerjaan ilmiah terhadap suatu fenomena yang terjadi. Berdasarkan hipotesis atau dugaan sementara, sang peneliti mengujinya dengan melakukan serangkaian eksperimen, interview atau observasi untuk mengetahui mengapa fenomena itu terjadi. Selanjutnya, hasilnya dianalisis dan disimpulkan menjadi suatu hasil penelitian. Muaranya adalah saran atau rekomendasi agar hasilnya diuji coba di lapangan.

Tak hanya kegiatan risetnya yang membuat saya memposting cerita ini. Namun jalinan pertemanan yang muncul kembali dalam bentuk yang baru. Dari asisten dosen menjadi auditor. Dari seorang peneliti menjadi penilai. Kalau sebelumnya saya memposisikan diri sebagai teman bicara dan berdiskusi bagi dirinya sebagai peneliti. Di lain waktu saya berada pada posisi pihak memberikan penjelasan terhadap sebuah obyek yang dinilai olehnya sebagai auditor.

Peran berbeda sang asisten dosen dan auditor tersebut yang membuat saya teringat dengan nasihat pimpinan bahwa kita hidup ini ibarat berada dalam satu kapal. Di dalam kapal itu ada beberapa orang penumpang yang mungkin baru kita kenal pada saat kita berada di kapal. Pada saat kita berdiri di haluan untuk merasakan deburan ombak dan hembusan angin, bisa jadi kita ketemu dan berkenalan dengan orang baru.

Kita jangan beranggapan bahwa pertemuan dan perkenalan itu adalah yang terakhir karena kita tinggal di sebuah kapal. Bisa jadi setelah selesai berkenalan, ngobrol dan berpisah, kita bisa bertemu lagi dengannya suatu saat di restoran pada saat makan. Bisa juga pada saat berada di geladak ketika hendak keluar dari kapal setelah tiba di pelabuhan. Bahkan bisa jadi bertemu di suatu tempat di kota yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Bukan masalah pertemuan kedua dan selanjutnya yang penting. Namun, bagaimana kesan kita saat pertemuan pertama di bagian haluan kapal itu yang akan mempengaruhi saat kita bertemu kembali untuk kedua atau ketiga kalinya.

Jika pertemuan pertama berlangsung akrab dan berkesan, maka pertemuan kedua akan terasa bermanfaat dan meninggalkan kesan baik yang mendalam. Bahkan kita akan merancang untuk bisa bertemu lagi di tempat dan waktu yang berbeda.

Namun jika pertemuan pertama tersebut salah satu pihak ada yang dikecewakan atau bahkan dirugikan, keadaannya menjadi lain. Pertemuan kedua dan selanjutnya bisa saja terjadi secara tidak sengaja. Namun akan terasa hambar. Bila bertemu, bukan lagi karena dasar ketulusan tapi rasa keterpaksaan, sehingga yang terjadi adalah bertemu dan berusaha untuk tidak berlama-lama berbicara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s