Hadiah Terindah dari Prof. Ohta

IMG01690-20131206-0959

Berbunga-bunga hati saya membaca email Prof. Ohta, salah satu tamu yang pernah berkunjung ke tempat kerja dua minggu lalu. Seorang profesor emeritus dari Kyoto University yang datang untuk kedua kalinya ke lapangan. Kali ini, kunjungan guru besar berusia enam puluh empat tahun itu ditemani Yuhei san, salah satu staf dari JIFPRO.

Bukan oleh-oleh berupa kue khas Jepang yang dikemas secara menawan yang membuat saya terkesan. Atau disiplinnya terhadap waktu yang menjadi ciri khas dirinya. Namun seuntai ucapan terima kasih yang membuat diri saya merasa tersanjung.

Meski baru dikirimkan dua minggu setelah kunjungan, namun ucapan terima kasih itu seperti hadiah terindah yang saya terima di pengujung tahun 2013 ini.

Seperti ini ucapan terima kasihnya :

Dear Pak Yudhi,

I hope you are fine and everything is going well as ever.
About 2 weeks has already passed after returning to Tokyo from SBK. I am sorry for this belated email to express our thanks to you.

We like to express our sincerest appreciation for everything you have done for us during our stay in SBK. Again I was very much impressed by such well organized and careful forest management in your company. Certainly SFM of SBK is one of the most advanced practices in world tropics.

Of course successful timber production by enrichment planting using indigenous tree species is outstanding; however at the same time, careful and warm attention to indigenous Dayak community and also conserving biodiversity in the area. I believe that your intensive efforts to provide public services including education for local people (I still remember cheerful smiles of kid in your SD!) are highly valuable.

Please give our best regard and appreciation to the young gentlemen who helped us in the field.

Again, a lot of thanks for your warm hearted kindness you have given to us, and the best of health to you.

Best regard,

Ohta Seiichi
Professor emeritus of Kyoto University
Scientific advisor for JIFPRO

Kenapa saya sebut hadiah terindah? Tak banyak tamu-tamu yang setelah berkunjung ke lapangan, kemudian mengungkapkan rasa terima kasihnya dalam bentuk surat. Meski disampaikan lewat email, kalimat-kalimat yang disampaikan mencerminkan kerendahan hatinya. Juga rasa apresiasi atas pelayanan selama saya dampingi dan kesan yang mendalam tentang kegiatan pengelolaan hutan.

Tak kenal maka tak sayang. Tak pernah ke lapangan maka tak akan dapat informasi yang sebenarnya bagaimana sebuah hutan dikelola. Juga bagamana perusahaan menjalin interaksi dengan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.

Selama ini, informasi yang kita terima dan lihat di media massa tentang kondisi hutan memang tidak berimbang. Media lebih banyak menampilkan kondisi hutan dengan sudut pandang negatip. Mulai illegal logging, kebakaran hutan, penyebab banjir dan tanah longsor hingga kurang peduli dengan masyarakat yang tinggal di  hutan.

Penyajian informasi yang berat sebelah dan berulang-ulang itu akan membentuk opini umum. Tanpa disadari, publik akan terpengaruh dan berasumsi bahwa pengelolaan hutan di negeri ini tidak ada yang profesional.

Kunjungan Ohta san dan Yuhei san langsung ke lapangan setidaknya menepis anggapan itu. Memang ada perusahaan yang bekerja semau gue dan tidak menerapkan kaidah-kaidah pengelolaan hutan lestari. Namun hal itu tidak dapat dijadikan patokan dan pembenaran bahwa semua perusahaan, milik pemerintah maupun swasta berbuat seperti itu.

Kesan dan pendapat Ohta san setidaknya menampilkan sudut pandang yang berbeda. Ternyata hutan dapat dikelola dengan lestari. Keanekaragaman tumbuhan dan hewan dapat dipertahankan. Kegiatan penanaman dengan jenis-jenis lokal Kalimantan juga dilakukan untuk menjamin pasokan produksi kayu. Tak hanya itu, mereka juga melihat langsung bagaimana perusahaan  punya kepedulian bagi pemberdayaan masyarakat lokal yang didominasi oleh etnis Dayak.

Kunjungan Ohta san dan Yuhei san memberikan pelajaran bagi diri saya.  Semangat belajar dan keingintahuan yang begitu besar. Mereka datang jauh-jauh dari jepang untuk melihat bagaimana hutan tropis di negeri ini dikelola. Karena di negaranya yang memiliki empat musim memang tidak memiliki hutan yang beraneka ragam isinya. Mereka datang dan tidak segan-segan untuk belajar dan bertanya.

Meski telah bergelar guru besar, namun keinginannya untuk mempelajari sesuatu yang baru tak dapat dihalangi. Bahkan dia mendatangi langsung ke sumber utama informasi itu berada. Bukan hanya sekadar menerima berita atau informasi dari media atau seseorang.

Terkadang, untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi, sesekali kita memang perlu langsung datang ke lokasi. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mengamati perkembangan dan proses yang sedang berjalan. Dan tak hanya berhenti pada informasi yang diterima, kemudian menganggap dirinya menjadi orang yang paling tahu dengan kondisi di lapangan .

17 pemikiran pada “Hadiah Terindah dari Prof. Ohta

  1. Ini, pak.
    Info seperti ini yang layak dibaca dan didengar oleh anak negeri.
    Adakah Pak Yudhi pernah membuat tulisan tentang kegiatan pengelolaan hutan secara bersama-sama ini? Saya ingin membacanya🙂

  2. Begitulah tradisi masyarakat yang beradab (civilized). Menghargai apapun yang orang lain lakukan untuk membantu mereka. Patut kita tiru dan budayakan. Kapan-kapan boleh saya mampir dan berkunjung juga? Tapi saya bukan profesor, apalagi ahli kehutanan.😀

    1. Benar, pak Eki. Mengucapkan terima kasih memang nampaknya sepele. Namun bagi mereka hal tsb sudah menjadi kebiasaan. Bahkan bisa dikatakan suatu budaya untuk menghargai pertolongan orang lain.

      Wah, kalau tamu-tamu yg ke hutan, nggak cuma yg bergelar guru besar saja, pak. Mahasiswa/i yg datang untuk praktek kerja atau riset juga ada. Tahun depan malah ada dua perguruan tinggi yg sudah pesan tempat untuk mengirimkan mahasiswanya praktek🙂

  3. menerima ucapan terima kasih dari seseorang itu memang rasanya luar biasa banget.
    karenanya, ucapan terima kasih itu saya letakkan sebagai kata pengantar di bagian depan buku saya…. *ups, malah ngiklan*😀

    1. Ya, ucapan terima kasih di buku biasanya ditulis oleh pengarang di bagian depan.
      wow, selamat ya, mas. sudah sukses nerbitkan buku. jadi penasaran ingin langsung ke tkp🙂

  4. Itu yang membedakan budaya barat dengan budaya timur Bang, selalu tidak lupa untuk berterimakasih atas segala bantuan yang diberikan oleh orang lain. Btw, salam kenal ya Bang…🙂

    1. Berterima kasih, minta tolong dan maaf. Tiga kata kunci yg perlu dibiasakan dalam berkomunikasi dgn org lain. tentu agar jalinan pertemanan semakin erat.

      Salam kenal kembali, bro
      Jempol juga buat Blogger Borneo Network-nya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s