Nggak ada Ruginya Merendahkan Hati

Kalau ada orang lain nggak suka dengan diri kita dan kita mengetahuinya, biasanya bukan hanya dia yang bermuka masam, bersikap sinis dengan kita atau berkata-kata dengan kalimat yang menjatuhkan mental. Diri kita yang sudah tahu terkadang juga ikut-ikutan terbawa sikapnya. Berusaha menghindar bila bertemu atau membuang muka saat berpapasan.

Terus sikap kita bagaimana? Ganti membalas dengan bersikap cuek? Menjawab ucapannya dengan kata-kata setajam silet? Atau menjauhi dia ketika berada di depan umum. Kalau kita melakukan semua itu, lalu apa bedanya diri kita dengannya?

Bersikap merendahkan hati adalah pilihan yang lebih baik. Memang tidak mudah untuk dilakukan. Ini yang pernah saya alami ketika menolak membantu teman mengerjakan tugas yang bukan menjadi tugas saya. Bukan itu saja, tugas itu harus diselesaikan dalam semalam karena besoknya harus dipresentasikan. Tak hanya satu tugas, tapi tiga sekaligus.

Karena nggak mau bantu, akhirnya komentar sinis saya terima. Dibilang percuma punya keterampilan tapi hanya untuk diri sendiri, nggak mau bantu teman pas perlu pertolongan. Hubungan yang tadinya akrab pun akhirnya renggang. Sebulan saya nggak disapa. Kalau bertemu, dia pasang muka masam dan bersikap cuek. Semuanya berubah. Hingga akhirnya saya curhat dengan bos.

“Nggak apa-apa kalau dia cuek. Dekati terus. Sapa dia kalau ketemu. Tanya gimana kabarnya. Jangan sampai menjauhi dia. Nggak ada ruginya kok kita merendah. Nanti akhirnya orang yang akan menilai”,ujar bos menasehati saya.

Jurus-jurus itu sedikit demi sedikit saya pakai. Awalnya memang berat. Kaku dan canggung untuk memulai. Salah tingkah ketika melakukannya. Terasa membawa beban berat di punggung ketika hendak menemuinya di ruangan kerjanya. Mulut terasa terkunci waktu mau menyapanya. Namun saya ingat-ingat kembali kata-kata bos,”Nggak ada ruginya kok kita merendahkan hati”.

Ketika di kantor, saya datangi ruang kerjanya. Saya ucapkan salam dan sapa dia. Pertama kali, jawabnya pendek-pendek saja. “Baik, sambil matanya terus menatap ke layar komputer”. Saya tahan-tahan perasaan dalam hati. Hitung-hitung berlatih kesabaran. Tetap rendah hati meski jawabannya setengah hati.

Lain waktu, saya telepon dia. Saya minta pendapat dan sarannya tentang masalah pekerjaan. Dia juga masih menanggapi dengan jawaban seperlunya, formal, nggak ada gurauan dan canda ria seperti sebelumnya. Sikap memulai menyapa dan tetap merendahkan hati itu tetap saya lakukan. Hari demi hari berusaha konsisten bersikap seperti itu.

Seperti air yang menetes di bebatuan, pelan tapi pasti lama kelamaan berlubang juga batu tersebut. Dengan pendekatan seperti itu, sikap teman yang awalnya cuek akhirnya berangsur berubah. Benar seperti yang dibilang bos, nggak ada ruginya saya bersikap rendah hati.

Malah sekarang saya punya pengalaman berharga. Nggak canggung dan kaku lagi menghadapi orang yang jelas-jelas nggak suka. Nggak salah tingkah berpapasan dengannya. Berani menyapa lebih dulu dan bersikap ramah dengannya.

Pada akhirnya orang lain yang akan menilai, siapa yang sebenarnya berjiwa besar dan memiliki hati seluas samudera. Walah, kok malah kayak judul sinetron.

Iklan

14 pemikiran pada “Nggak ada Ruginya Merendahkan Hati

    1. ya, sebaiknya seperti itu.. saya sendiri awalnya juga berat sekali. cuma kalau dipikir-pikir apa nanti seterusnya akan begitu? kalau ketemu saling diam dan nggak ada yg mau menyapa? 🙂
      kalau kita punya niat kuat, Insya Allah kita bisa kok.

  1. Iya pak Yudhi, rendah hati itu memang susahnya pake banget. kitanya pasti buru2 kebawa emosi dan gengsi. Pasti dalam hati akan terbersit “Ihh, emang siapa situ, cuek ya cuek aja. kalo perlu kuat2an cuek!”
    harus banyak belajar ini…
    nice share pak ^_^

    1. masalahnya, kita akan sering ketemu dengan orang seperti itu, Annisa. apalagi kalau sama-sama satu tempat kerja. jadi kalau awalnya emosi itu wajar, tapi kalau keterusan begitu, sama-sama cuek dan jaga gengsi kita sendiri yang rugi… pelan-pelan saja dicoba Insya Allah bisa dan diri kita pun lebih tenang dan plong. nggak ada ganjalan di hati

  2. pelajaran berharga ada di sini.
    berat pastinya…. enaknya ya membalas dengan hal yg sama, tapi itu bikin diri kita sama seperti dia, kan pak?

    1. benar, mbak. memang harus siap mental kalau menerima respon yang seperti itu. namun ada pepatah jawa yang mengatakan wong ngalah duwur wekasane. orang yang mengalah dan merendahkan hati itu endingnya akan baik

  3. Benar Mas walaupun pas kita melakukan itu sambil melihat sikap dia yg cuek dan mungkin tambah ngeselin, tapi semakin lama hati semakin terbiasa…
    kalau saya pribadi terkadang yang berat itu bukan menahan sakit hati karena perlakuan tidak menyenangkan..tapi yg berat itu menahan diri untuk tidak membalas.

    1. ya..ya… itu memang perlu kesabaran ekstra. Kalau kita membiasakan diri Insya Allah keinginan untuk spontan membalas itu akan terkendali dan yang terucap adalah kata-kata yg tidak emosional.

  4. merendah hati nggak merugi ya mas, kl sdh terbiasa mnrtku jg nggak masalah, bukan dlm Kasus di atas sj, namun merendah hati jg dlm hal lainnya 🙂

    1. sepakat, mbak. sikap itu bisa dibiasakan untuk hal lain seperti pertemanan. kebanyakan orang akan lebih suka berteman atau menjalin relasi dengan orang yg merendahkan hatinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s