Koleksi Novel yang Menjadi Film

IMG01785-20140117-0554

Cukup kaget juga, beberapa novel yang pernah saya beli akhirnya dilayarlebarkan. Mulai dari Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Trilogi Negeri 5 Menara, 9 Summers 10 Autumns, Habibie dan Ainun, terakhir adalah 99 Cahaya di Langit Eropa. Cuma dua novel pertama nasibnya nggak jelas karena pernah dipinjam teman dan tak kembali.

Semuanya novel bagus yang terinspirasi dari kisah nyata pengarangnya. Ini yang bikin saya tertarik. Novel yang dibuat based on true stories. Ini jenis bacaan yang lebih saya sukai daripada buku-buku lain yang banyak berisi teori. Meski sudah kerja dan ditempatkan di tengah hutan, kebiasaan membaca novel yang sudah mendarah daging sejak SMA nggak pernah pudar.

Novel-novel itu seperti teman yang setia dalam menjalani hari demi hari. Membaca novel seperti sedang mendengarkan penuturan seorang sahabat yang bercerita tentang perjalanannya menyusuri belahan dunia lain. Menyimak petuahnya dalam memberikan solusi ketika masalah datang silih berganti. Laksana pelita yang menerangi kemana arah kaki ini melangkah. Ibarat kompas yang memandu perjalanan diri ini kembali ke lintasan yang semestinya.

Ya, sebuah novel bisa bercerita banyak kepada diri saya. Itulah sebabnya setiap bulan, ketika ke kota saya selalu usahakan untuk beli satu novel baru. Saya bawa ke hutan dan saya baca sampai tuntas.

Ada kesamaan yang bisa saya petik setelah membaca novel-novel yang akhirnya ditampilkan dalam layar lebar itu. Semua pelakunya pernah belajar dan bekerja di luar negeri. Seperti Alif dalam Ranah 3 Warna yang meraih mimpinya terbang ke negeri paman Sam setelah mendapatkan beasiswa dan bekerja di sana sebagai jurnalis. Juga Iwan, anak sopir angkot yang prestasi kerjanya cemerlang di lembaga riset internasional, akhirnya dipromosikan untuk menempati pos kerja yang baru di New York.

Demikian juga dengan Habibie, salah satu putra bangsa yang menempuh studi dan bekerja di Jerman yang namanya mendunia karena teorinya tentang keretakan pada pesawat terbang. Dan yang terbaru adalah buah karya Hanum dan Rangga, 99 Cahaya di Langit Eropa. Sebuah novel yang dibuat berdasarkan kisah perjalanan mereka saat menempuh studi di Austria dan pengalaman menyusuri kembali jejak-jejak peradaban serta masa keemasan Islam di Spanyol dan Turki. Novel yang akhirnya difilmkan dan diputar perdana pada awal Desember 2013  itu sekarang telah ditonton tak kurang dari 1 juta orang.

Mereka yang menjadi pengarang yang juga pelaku utama dalam novel tersebut saat ini telah kembali ke negerinya. Berkarya dan memberikan manfaat untuk saudara-saudaranya di tanah air. Seperti yang dilakukan oleh pengarang Negeri Lima Menara, Ahmad Fuady, berbagi keterampilan menulis dan mendirikan yayasan lima menara untuk membantu anak-anak putus sekolah.

Saya sungguh ikut berbangga hati karena hasil karya sastra mereka saat ini telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Diakui dan diapresiasi oleh masyarakat di dalam negeri dan juga luar negeri. Benih-benih penulis baru akan tumbuh dan menghiasi dunia sastra nusantara.

Ini juga pertanda bagus, bahwa masyarakat mulai tertarik dan menghargai karya sastra. Di tengah derasnya produk dan budaya impor, dunia sastra kita justru mampu tampil gemilang dalam berkarya.

47 pemikiran pada “Koleksi Novel yang Menjadi Film

  1. Baru baca novelnya Iwan Setyawan aja nih.
    Iya nih rata-rata yg diangkat ke layar lebar, ceritanya tentang mereka-mereka yg sukses ke luar negeri.

    1. Benar sekali,pak Eki. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Banyak manfaatnya membaca novel-novel berkualitas seperti itu. Wawasan tambah luas, nggak ketinggalan informasi dan juga menentramkan hati 🙂

    1. Saya juga jarang nonton filmnya,pak. Karena lebih sering di hutan. Pas kebetulan ke kota, filmnya sudah selesai diputar.

      Betul, pak Iwan. Membaca novelnya memang membuat kita serasa larut dalam cerita pengarangnya

    1. Wow, senang sekali bisa nonton di layar lebar, pak. Setahu saya akan ada film lanjutannya, menceritakan kisah perjalanan pengarangnya ketika di Spanyol dan Turki.

      Mungkin saja kalau mau ke sana, pak. Siap-siap mantel tebal pak kena udara dingin🙂
      Salam kembali.

      1. baca buku pertama ahmad fuady, jadi menunggu2 buku selanjutnya. Baca bukunya iwan setiawan banyak menguras air mata hehehe…. tapi agak nyesal, penuturannya menurut saya kurang bagus

      1. mungkin spt tips bikin judul postingan yg menarik mas, pakai angka di depannya, mungkin lho mas, Cuma nebak aja🙂

        wah .. enggak serajin mas Yudhi nih aku baca novelnya apalagi novel berbhs Indonesia

  2. mmhh… lama buanget gak baca novel. sampe lupa kapan trakhir. pengen nulis novel tapi ga pernah baca, keknya ga mungkin juga yah…

    1. sibuk dengan pekerjaan dan keluarga ya, mbak Ina? biasanya sih para penulis novel itu punya kegemaran membaca, juga mengamati detil apa yang dialami, dilihat dan dirasakan.
      catatan-catatan yg ditulis di blog mbak Ina itu sebenarnya bisa jadi novel juga, lho.

      1. tapi mas klo blog kan ceritanya nggak sambung menyambung. ……
        keknya harus beli 1 novel buat pancingan deh.

    1. hahaha…. yang dituturkan pengarangnya memang ada satu periode ketika mereka tinggal di luar negeri.itupun dengan proses yang nggak mudah dan harus kerja keras untuk bisa ke sana..:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s