Tetap Menulis meski nggak Fit

Apa kabar sobat? Semoga baik dan sehat di hari ini. Mungkin sobat blogger nggak menyangka kalau postingan sebelumnya saya buat ketika kondisi badan lagi nggak fit. Sejak hari Rabu lalu saya terkena demam. Badan terasa dingin. Di malam hari hawa dingin itu terasa menusuk hingga tulang meski saya sudah memakai jaket dan berselimut cover bed ketika tidur.

Berbeda dengan kondisi cuaca di pulau Jawa yang sering hujan deras dan berakibat bajir. Cuaca di tempat kerja ini berubah-ubah, jarang hujan tapi suhunya sejuk dan anginnya cukup kencang. Pernah saya tanya teman kerja yang punya termometer.

Setelah makan malam, saya tanya, “Berapa suhu udaranya, pak?” Beranjak dari tempat tidur dia mengambil termometer di dinding dan mengamati posisi air raksa merah di dalam tabung, “21,5 derajad, padahal biasanya 27 derajad”. Nggak bisa dibayangkan gimana kalau suhunya sampai di bawah nol  seperti yang terjadi di beberapa tempat di Amerika dan Eropa.

“Pantas hawanya sejuk”jawab saya sambil pamit pulang. Untuk mengusir hawa sejuk itu, dua hari berturut-turut saya minta tolong mbak-mbak yang masak di dapur kantor untuk membuatkan jahe hangat dicampur sedikit gula jawa. Setelah menyeruput beberapa kali, cukup menghangatkan badan di malam hari. Dugaan saya kalau sudah minum jahe hangat rasa dingin di badan mulai berkurang.

Ternyata dugaan saya keliru, keesokan harinya badan masih terasa dingin. Padahal paginya sempat masak air hangat untuk mandi. Selama ini sebelum pergi ke kantor, saya biasa mandi jam 5.30 dan jarang pakai air hangat. Sampai siang belum juga ada perubahan. Akhirnya setelah jam istirahat dan masuk kantor saya minta surat pengantar untuk berobat.

Menunggu sebentar karena ada seorang pasien ibu dan anak, saya duduk di sebelah ruang praktek. Setelah diperiksa, petugas medis mengatakan ada radang di bagian tenggorokan dan itu yang menyebabkan demam. Saya juga minta diperiksa tekanan darah, asam urat dan gula darah.

Hasilnya untuk tekanan darah 110/80, asam urat 2,9 dan gula darah 143. Tekanan darah saya memang jarang di atas 120/80 karena termasuk orang yang punya tekanan darah rendah. Mungkin ini ada faktor turunan juga dari orangtua terutama bapak.

Yang bikin saya terkejut adalah hasil tes asam urat. Ternyata nilanya di bawah standar. Ketika saya tanya berapa standarnya, petugas medis bilang antara 3,7-7. Sedangkan gula darah tergolong normal karena antara  100-170. Sempat diolok-olok teman, kalau orang yang kena tekanan darah rendah itu harus sering makan hati🙂

Setelah minum obat dan vitamin, kondisi badan alhamdulillah membaik. Sejak kemarin demam di badan sudah mulai berkurang, namun flu dan pilek masih belum hilang. Dan hari ini kondisi badan sudah mulai segar kembali. Menulis pun rasanya lebih nikmat karena nggak terganggu pilek.

Pengalaman ketika sakit demam itu mengajarkan kepada saya, bahwa kita tidak tahu persis apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika seseorang sedang menulis. Kita tak mengetahui kondisi penulis saat itu apakah dia sehat wal afiat, sedang sakit, sedih, bahagia, putus asa atau kecewa. Kita tak sepenuhnya paham suasana hati ketika jari-jemari penulis mengetikkan kata demi kata.

Dan saya tersadar bahwa di balik sebuah tulisan yang dibuat, ternyata ada berbagai macam kondisi fisik dan psikis yang sedang dialami sang penulis. Jika badan fit dan suasana hati sedang damai, tentu proses menulis nggak akan terganggu. Berbeda halnya ketika badan nggak fit dan lagi nggak mood. Akhirnya, kemauan yang kuat dan keinginan untuk berbagilah yang menyebabkan seseorang tetap berusaha konsisten untuk menulis.

24 pemikiran pada “Tetap Menulis meski nggak Fit

  1. Salut, Pak Yudhi, sedang tidak fit juga masih disempatkan menulis. Tapi menulis memang bisa jadi hiburan kok.

    21 derajat tampaknya pas dan nyaman. Siang ini di sini suhunya -10C. Cerah, tapi jadi malas keluar, padahal libur.

    1. Trims, pak Eki. Mungkin sudah termasuk kecanduan nulis ya, pak. Kalau ide yang sudah ada di kepala nggak dituliskan, rasanya menjadi ganjalan dan belum plong.

  2. kalau saya biasanya tak jadwal mas penerbitan postingannya di blog. Jadi, 1 hari khusus untuk membuat 7 artikel, yang mana masing-masing artikel akan diterbitkan hari yang akan datang selama 7 hari. Jadi, lebih ringan ngeblog nya hehehe😀

  3. Bener banget Pak. Dibalik tulisan yang tayang terdapat berbagai macam kondisi penulisnya. Salut buat njenengan Pak. Semoga segera fit dan pulih seperti sedia kala ya Pak..

  4. kecanduan menulis ya Mas..??
    salut deh sama mas Hendro, semangat sekali untuk menulis dan sangat jeli mengambil hikmah dari sebuah peristiwa…
    Tapi memang bener seperti yang Mas katakan, kita tidak tahu persis apa yang sedang dialami oleh penulis di balik setiap tulisan yang kita baca…entah sedang baik – baik saja atau sebaliknya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s