Pilih Karyawan Baru atau Berpengalaman?

“…Kebetulan semua karyawan saya didik sendiri. Belum kuat bayar yang sudah berpengalaman”

– Ika Koentjoro –

Terus terang saya tertarik dengan quotenya mbak Ika di atas. Sebagai momtrepeneur, ibu-ibu yang juga wirausahawan, kalimat di atas memang menarik untuk ditulis.

Di era di mana sebagian orang lebih memilih jalan pintas ini, Mbak Ika yang punya usaha distribusi makanan ringan ternyata punya prinsip lain. Dalam mencari karyawan, dia lebih suka mendidik karyawan baru daripada menerima karyawan yang berpengalaman. “Nggak kuat bayar gajinya kalau terima yang sudah pengalaman”katanya. Hahaha…. biasanya modal pengalaman ini sering jadi jurus untuk tawar-menawar gaji, ya mbak. Prinsip wani piro akhirnya jadi senjata utama.

Bagi sebagian pengusaha atau pimpinan, memperkerjakan karyawan berpengalaman memang bikin nyaman. Nggak perlu capek-capek bikin program pelatihan atau magang. Cukup dikenalkan dengan beberapa pucuk pimpinan, dikasih tahu tugasnya, jelaskan apa masalahnya di tempat kerjanya, kemudian biarkan dia bekerja.

Pendek kata, dengan segala bekal pengalaman dan banyak makan asam garam , diharapkan semua akan berjalan lancar. Jadi ingat kata-kata teman saya, kalau ada yang bilang sudah banyak makan asam garam, perlu ditanya lebih lanjut berapa ton asam garam yang sudah dimakan?🙂

Kalau memilih karyawan baru, berarti bersiaplah untuk lapang dada dan menyediakan lebih banyak waktu untuknya. Menerima karyawan baru juga harus menyiapkan diri ekstra sabar. Jangankan yang kerja di kantor atau punya usaha. Istri saya saja bilang kalau dulu waktu masih ada asisten rumah tangga yang baru dan masih muda, harus sering kasih contoh.

Nggak cukup cuma ngomong doang. Percuma kalau hanya main perintah, tapi nggak pernah kasih contoh gimana mengerjakannya. Kalau disuruh menyetrika baju kemudian nggak rapi dan masih ada yang kusut di bagian lekukan di lengan atau kerah, harus dikasih tahu. Dicontohkan dengan langsung menyetrika di depan dia.

Kalau cucian nggak bersih karena nggak direndam dulu dengan sabun cuci atau cuma dibilas sekali ya dia harus magang dulu. Lakukan gimana cara merendam, mencuci dan membilas cucian sesuai keinginan kita.

Apalagi kalau nyucinya pakai mesin cuci. Harus dicontohkan tombol-tombol mana yang harus ditekan. Kenapa harus begitu? Karena bisa saja sebelum kerja ikut kita, dia mencuci bajunya biasa di sungai atau pancuran. Jadi langsung dicemplungkan di air, dikucek pakai sabun di atas batu, terus dicemplungkan lagi di sungai untuk dibilas. Beda orang beda cara dan kebiasaannya.

Itu baru tingkatan rumah tangga. Apalagi untuk pekerjaan di kantor atau perusahaan. Harus sabar kalau karyawan baru itu sudah dikasih tahu tapi kerjanya masih salah. Perlu sering dipantau karena belum bisa dilepas seperti karyawan berpengalaman.

Menerima karyawan baru berarti juga harus sabar mengenalkan budaya dan sistem kerja. Usaha untuk membentuk karyawan agar sesuai dengan budaya kerja lebih mudah dibandingkan dengan karyawan yang punya banyak pengalaman. Kenapa?

Kembali ke faktor sudah banyak makan asam garam tadi. Karyawan berpengalaman di satu sisi memang punya kelebihan: pengalamannya. Namun kelebihan itu terkadang digunakan untuk membanding-bandingkan tempat kerja yang baru dengan tempat kerja dia sebelumnya.

Dan biasanya yang dibandingkan adalah yang sudah dilakukan di tempat kerja sebelumnya tapi belum dilakukan di tempat yang baru. Apa yang sudah ada di tempat lama, tapi belum ada di tempat sekarang.

Padahal sebenarnya masing-masing tempat kerja memiliki keunikan tersendiri. Punya kultur yang khas. Pekerjaannya bisa sama, tapi sifat bosnya bisa beda. Yang satu punya bos yang masih muda dan sudah tergolong generasi ketiga. Tapi di tempat lain dia punya bos yang masih terhitung generasi pertama dan belum ada tanda-tanda didelegasikan ke generasi kedua. Tugasnya bisa sama, tapi dari sisi kultur kerja bagaikan bumi dengan langit.

Di tempat kerja lama, forum diskusi dan rapat bisa dilakukan dalam suasana informal dan kapan saja. Tidak hanya di ruang pertemuan. Bisa saat ngobrol makan siang atau waktu olahraga sore. Sementara di tempat kerja baru, saat meeting ruang dan waktunya ditentukan.

Kalau dibanding-bandingkan, ya cenderung berat sebelah. Karena lebih mengunggulkan tempat kerjanya yang lama. Kalau mau dikupas lagi, tugas sebenarnya dia di tempat kerja yang baru apa sih? Bukankah untuk menjadikannya lebih maju dan lebih menguntungkan? Dengan segudang pengalaman dan bayaran mahal, mampu tidak dia menjadikannya lebih baik? Meski tentengan sudah disediakan, bisa nggak dia menghadapi tantangan di tempat baru?

Dan akhirnya, kalau memang tempat kerja yang lama lebih nyaman dan lebih baik, mengapa dia harus berhenti dan pindah kerja?

12 pemikiran pada “Pilih Karyawan Baru atau Berpengalaman?

  1. Ada plus minusnya masing-masing memang Pak antara kedua pilihan itu dan meskipun berpengalaman harus dilihat dulu bagaimanakah kandidat dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru seeerti yang Pak Yudhi tulis.

    1. Ya, benar, Mas. Karyawan baru biasanya menjalani masa percobaan sebelum diangkat sebagai karyawan tetap. Seharusnya yang sudah berpengalaman juga diberikan perlakuan serupa. Hanya jangka waktunya yang berbeda. Ini perlu untuk mengetahui apakah dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus melihat kinerjanya.

      1. belum pak. sepertinya saya nggak berbakat. pernah ikutan join cuma ternyata usahanya bangkrut. untung modal yang disertakan nggak banyak

    1. Untuk posisi-posisi tertentu yang sifatnya strategis, karyawan berpengalaman memang diperlukan. Yang diperlukan adalah kemampuan mengenali budaya, sistem kerja dan problem di tempat yang baru. Kemudian berusaha menjadikannya lebih efisien, produktif dan menginspirasi karyawan lainnya untuk memperbaiki diri

  2. Bener bgt tuh Mas, kalau kita terima yg berpengalaman harus mau bayar lebih dan siap stiap saat ditinggal sama dia juga, soalnya org tipe ini selalu mencari yg lebih baik…Nah kalo yg belum berpengalaman memang kudu sabar extra tapi setidaknya mereka lebih mengenak kata setia dan loyal(walau sering bikin emosi)wkwkk

    1. Mungkin seperti pengalaman waktu kita pertama kali kerja ya, bro. Senior yg memberikan training rada-rada emosi kalau kita lelet, sering salah dan nggak paham dengan tugasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s