Tawaran Pindah Kerja

Tanpa terasa, sembilan belas tahun sudah saya bekerja di tempat sekarang. Selama itu, belum pernah sekalipun saya pindah kerja ke tempat lain. Kalau diibaratkan dalam sepakbola mungkin seperti Steven Gerrard, pemain tengah Liverpool yang betah di Anfield dan nggak pindah ke klub lainnya.

Sudah dua kali saya ditawari pindah kerja oleh dua teman seangkatan waktu kuliah. Teman pertama waktu itu datang untuk studi banding di tempat kerja bersama tiga orang lainnya. Dia sudah bekerja di grup perusahaan penghasil bubur kertas di Sumatera. Posisinya sudah lumayan, termasuk jajaran top manajemen.

Dalam perjalanan ke lapangan, dia cerita perusahaannya sedang mengembangkan usaha menanam jenis meranti. Selama ini grup perusahaannya menanam jenis-jenis akasia yang termasuk cepat tumbuh. Jenis pohon itu untuk bahan baku bubur kertas (pulp) dan dalam waktu 10 – 15 tahun sudah bisa dipanen.

Beda dengan jenis pohon meranti yang perlu waktu 20 tahun untuk dipanen. Kalau akasia untuk bahan baku pulp, meranti yang ditebang sebagian besar untuk bahan baku kayu lapis. Nah, kalau rumah teman-teman blogger dinding atau plafonnya dari triplek berarti itu dari sebagian besar terbuat dari kayu meranti.

Sewaktu dalam perjalanan pulang ke base camp, pembicaraan mulai mengarah ke hal lain. Berapa gaji saya perbulan? Fasilitas apa saja yang diterima untuk posisi setingkat saya? Di dalam kendaraan itu saya jawab semua pertanyaannya. Usahanya untuk menawari saya nggak berhenti sampai di situ.

Selesai makan malam dia datang ke kamar membawa sekeping VCD tentang profil perusahaannya. Wah, serius juga nih proses pendekatannya. Sambil ngobrol kami berdua melihat profil perusahaannya yang ditayangkan dalam bahasa Inggris. Sebuah perusahaan multinasional yang berorientasi ekspor dan termasuk salah satu dari tiga besar perusahaan penghasil bubur kertas di Indonesia.

Selesai melihat tayangan itu, dia bilang kalau tertarik supaya kirim surat lamaran. Nanti dia akan bantu untuk sampaikan ke pimpinannya di sana. Waktu itu saya masih belum memberikan jawaban atau keputusan. Saya bilang terima kasih sudah menawari dan saya pikir-pikir dulu.

Beberapa minggu saya belum memberikan jawaban. Pada saat mengikuti acara seminar di kampus UGM, teman saya yang kerja di Sumatera tadi menelepon teman seangkatan yang menjadi dosen di kampus.

Kebetulan waktu itu saya sedang ngobrol dan duduk di depan dosen yang menjadi ketua panitia seminar tersebut. Setelah diberitahu kalau saya ada di situ juga, teman yang menawarkan pekerjaan tadi menanyakan lagi ke saya. Saya bilang terima kasih atas tawarannya dan setelah dipertimbangkan untuk saat ini saya masih belum ada rencana untuk pindah kerja.

Terus dia tanya, “Kenapa? Apa tawaran gaji dan fasilitas masih kurang?. “Bukan itu pertimbangannya. Saya sudah bicara dengan istri dan keluargalah yang menjadi pertimbangan utama”jawab saya.

Dia masih mencoba membujuk lagi dengan pertanyaan,”Benar nih, nggak menyesal dengan tawaran yang diberikan? Kalau masalah keluarga nanti bisa dibicarakan, apakah keluarga mau menyusul pindah ke Sumatera atau kamu yang pulang sebulan atau dua bulan sekali”.

Sebuah tawaran yang menggiurkan. Gaji lebih tinggi, fasilitas lebih menarik dan ada bantuan kemudahan untuk bertemu keluarga. Namun saya tetap dengan keputusan semula. Menolak secara halus dengan mengatakan saya masih betah di tempat kerja yang sekarang.

“Ok, kalau memang seperti itu keputusannya”katanya. Saya pun sekali lagi mengucapkan terima kasih atas tawarannya.

Tawaran kedua juga datang dari teman seangkatan yang sekarang menjadi salah satu auditor independen. Ketika mengaudit salah satu perusahaan di Kalteng, dia menelepon ke handphone saya sore hari sepulang kerja.

Saya kaget karena ada telepon masuk dari nomor tak dikenal. Setelah saya jawab, terdengar suara dari seberang yang memperkenalkan dirinya. Rupanya teman ini diminta mencari kandidat yang akan ditempatkan di Papua sebagai camp manager. Sebuah jabatan yang berada di atas posisi saya saat ini. Mungkin bagi sebagian orang ditawari jabatan atau posisi yang lebih tinggi akan tertarik dan nggak banyak pertimbangan untuk menerimanya.

Namun bagi saya, sekali lagi pertimbangan keluarga menjadi yang utama. Sambil gurau saya bilang kalau masih bujangan, tawaran itu tanpa pikir panjang akan saya ambil. Namun karena sudah punya keluarga, sebaiknya ditawarkan ke kandidat lain.

Dua tawaran pindah kerja yang saya tolak dengan halus karena pertimbangan keluarga. Saya cuma berpikir sederhana, menghargai keluarga terutama istri. Ceritanya, sebelum menikah dengan saya dia pernah bekerja di Jakarta. Setelah menikah, dia memutuskan berhenti bekerja dan mengikuti saya pindah ke Pontianak. Pertimbangannya, kalau dia tetap bekerja di Jakarta dan posisi saya di Kalimantan, frekuensi bertemu akan lebih jarang daripada kalau dia menetap di Pontianak.

Dia sudah mengalah untuk mengikuti suami. Dan itu bukanlah keputusan yang mudah. Karena sebagai anak sulung, tentu orangtuanya mengharapkan anaknya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Tawaran kerja dengan iming-iming gaji yang lebih besar, fasilitas yang lebih lengkap memang menarik. Namun bagi saya, pertimbangan keluarga tetaplah yang utama.

20 pemikiran pada “Tawaran Pindah Kerja

  1. keputusan njenengan sudah tepat pak…lebih baik tetap berkumpul dengan keluarga. apalagi istri sudah berkorban untuk ikut njenengan ke pontianak.
    btw tawarannya kok jauh semua ya😛

    1. makasih, bro. sebelum memutuskan, saya juga sudah minta pendapat dengan istri. meski dia menyerahkan keputusan akhirnya ke saya, berat sekali rasanya menerima tawaran-tawaran itu.

  2. Setuju Mas..keluarga yg utama..apalagi kalau anak-anak sudah besar. PINDAH itu terkadang bukan hal yg mudah. Jangankan pindah kerja, pindah karena penempatan aja kadang ngak enak hehe..Kalau udah cocok ngapain pindah ya Mas hehe

  3. keluarga tetep no siji yo, mas. .
    pokoke mangan enak, tidur nyenyak, ples fasilitas lengkap dan kumpul keluarga bukan masalah….hehehe..

      1. itu pasti, Mas.! opo meneh yen agi kesel/sayah njur dipijeti mbok wedok..jiaaann maknyussss..(*selanjutnya [iso] terserah Anda ..hahaa..

        “Sejauh apa pun seorang lelaki melangkahkan kaki, menyusuri tiap jengkal tanah bahkan hingga seluruh penjuru bumi untuk mencari kebahagiaan, hanya pada saat kembali kepada keluarganya-lah dia akan menemukan kebahagiaan itu sendiri…”

        ah, terlalu apik komentar yg sering saya tuliskan terkait keluarga..

        hahaaa..sssttt..! ethok2 e saya jadi lelaki apikan,Mas..

      2. hehheeee….sesekali juga perlu menonjolkan sisi afektif, setiap orang pasti memiliki sisi paling melo dalam jiwanya.. (*haalaahh*)
        Suka2 aja mas, kalau dikembangkan takutnya jadi pujangga kawanen..hahaaa

  4. semua punya pertimbangan masing-masing mas soal itu. kita pun tak berhak menghakimi tanpa mencari tahu pertimbangan mereka di balik setiap keputusan kan? sama seperti saya mas, mengambil pekerjaan sekarang juga karena keluarga tapi dalam pertimbangan berbeda dengan mas.
    Apapun pilihan, selama dijalani dengan sebaik mungkin, akan memberikan hasil yang baik kan mas?

    1. Benar, bro. Setiap orang punya pertimbangan dan sudut pandang yg berbeda dalam memilih pekerjaan.
      Sepanjang dia mampu mengaktualisasikan dirinya, membawa perubahan yg positip bagi dirinya dan di tempatnya bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s