Kalau Bisa Dipermudah Kenapa Harus Dipersulit?

Ada beberapa perubahan yang saya lihat di sebagian jajaran birokrasi pemerintahan saat ini. Terutama dalam pelayanan publik. Proses yang lebih transparan dan tidak berbelit-belit. Pemeo “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah” yang sebelumnya susah dihilangkan secara perlahan mulai ditinggalkan. Mungkin penilaian saya agak subyektif, namun seperti itu kesimpulan ketika mengurus pengambilan sertifikat rumah di bank milik pemerintah.

Awalnya, saya tidak menyadari kalau angsuran KPR ternyata sudah lunas pada bulan Juni 2013. Perkiraaan saya baru lunas Desember 2013. Setelah saya baca dengan teliti rekening koran terakhir dan buku tabungan, ternyata saya salah memprediksi bulan pelunasan KPR. Pantas di rekening tabungan tidak ada lagi pemotongan pada bulan Juli 2013.

Mengetahui bahwa angsuran sudah lunas, tanggal 12 Pebruari lalu saya dan istri bersama-sama ke bank untuk mengurus pengambilan sertifikat rumah. Terletak di lantai dua, bagian yang berkaitan dengan KPR memang tidak seramai dengan bagian CSO dan teller yang berada di lantai satu. Suasana kerjanya hening dan beberapa ruang kerja karyawan dibuat sekat-sekat.

Setelah menjelaskan maksud kedatangan saya, seorang karyawati meminta supaya menemui rekannya yang duduk di sebelah. Karena rekan prianya itu sedang melayani nasabah lain, selanjutnya saya diminta untuk menunggu di luar ruangan. Saat itu hanya ada saya dan istri yang antri untuk menunggu giliran berikutnya.

Menunggu sekitar setengah jam, kemudian saya dipersilakan untuk menemui karyawan yang mengurusi pengambilan sertifikat rumah yang asli.  Setelah saya jelaskan maksud kedatangan, Bapak tersebut kemudian menanyakan apakah saya membawa KTP. Saya cari-cari di dalam dompet, ternyata KTP nggak terbawa. Yang ada SIM, kartu ATM dan salinan KTP.  Beruntung Bapak tersebut tidak mempermasalahkan ketika saya hanya bisa menunjukkan salinan KTP.

Setelah menyerahkan salinan KTP, akta jual beli serta fotocopy sertifikat, bapak tersebut menjelaskan kalau untuk mengambil sertifikat asli perlu proses. Karena dokumen tersebut tidak disimpan di kantor cabang jalan Diponegoro, tapi di kantor cabang jalan Sidas. Dan dia meminta waktu untuk menghubungi rekannya di kantor cabang tersebut untuk menyiapkan dokumennya.

Ketika saya tanya kapan sertifikat tersebut bisa diambil, secara diplomatis dia menjawab supaya saya meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Mendengar penjelasannya, saya tuliskan nomor telepon rumah dan nomor HP. Juga saya jelaskan kalau saya akan kembali ke Nanga Pinoh esok harinya.

Saat kembali ke rumah, hingga jam 5 sore belum juga ada telepon dari bapak tersebut. Saya waktu itu sudah pasrah, mungkin baru besok ada pemberitahuan kapan dokumennya bisa diambil. Tak diduga, ketika kami sekeluarga menikmati makan malam sekitar jam 7, ponsel saya berbunyi. Di layar, tertulis nomor kode wilayah 0561. Berarti menelponnya dari kantor dan bukan dari ponsel. Setelah saya angkat teleponnya, terdengar suara seorang bapak yang sedang memperkenalkan dirinya dan ingin berbicara dengan saya.

“Sertifikat aslinya sudah siap, pak. Silakan diambil besok di kantor”ujarnya.

“Oh, iya. Jam berapa bisa saya ambil, pak?”tanya saya

 “Agak siang, sekitar jam sepuluh”jawabnya singkat

“Terima kasih, Pak. Wah, malam begini masih kerja di kantor, Pak?”tanya saya spontan

“Ya, Pak”ucapnya perlahan sambil menutup pembicaraan

Baru saya mengetahui, ternyata bapak tadi masih bekerja hingga malam untuk menyiapkan berkas sertifikat yang saya minta dan menyempatkan untuk menghubungi saat itu juga.

Keesokan harinya, sekitar jam sepuluh saya dan istri mendatangi lagi bank tersebut. Sesuai dengan pembicaraan malam sebelumnya, ternyata berkas dokumen telah disiapkan semua. Mulai sertifikat asli, surat bukti pelunasan kredit, surat untuk kantor pertanahan untuk proses peroyaan dan surat bukti tanda terima berkas. Setelah menandatangani surat serah terima berkas, saya pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

Setelah sertifikat diterima, proses selanjutnya adalah peroyaan di kantor pertanahan. Sang bapak tadi juga berpesan agar segera mengurus proses tersebut dan surat pengantar dari bank jangan sampai hilang.

Salut untuk Bapak yang telah berusaha melayani nasabah dengan maksimal. Ternyata proses pengambilan sertifikat rumah tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Cukup satu hari. Bicara tentang pelayanan untuk masyarakat, seharusnya memang seperti itu. Kalau suatu urusan bisa dipermudah kenapa harus dipersulit?

Iklan

26 pemikiran pada “Kalau Bisa Dipermudah Kenapa Harus Dipersulit?

    1. Ya, Chris. Segala puji hanya bagi Allah, akhirnya lunas juga. Dijalani saja prosesnya.

      Kalau ada dana lebih misal dapat THR, bonus atau arisan, pakai saja untuk bayar angsuran ekstra. Insya Allah angsurannya nggak sampai 15 th.

  1. wah selamat yah. Udah tenang dunk. Keknya bisa dibuat nyicil rumah lainnya deh. Berani? Hehehe… soal pelayanan, klo judulnya Bank, walau bank pemerintah, mereka masih profesional lah. Coba klo dept pemerintah yg lainnya. Huh.

    1. Makasih, mbak Ina. Rencana selanjutnya masih dirembug sama keluarga. Yg jelas prioritas pertama nabung lagi untuk berangkat ke Tanah Suci, kemudian menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak. Insya Allah.

  2. alhamdulillah..

    melu bungah sedulur tuwo (kewanen ngaku2 sedulur..bandem duit sisan..! hahaa)
    lagi seneng , biasane njur syukuran.. *ngenteni diundang kenduren)

      1. Hehe..enggih Mas. Pokokmen tak tagih lho..
        Kapan ke Sintang, Mas..? Bulan2 ini saya lg di rumah.. ora ono wong mbutuhke tenagane yo nganggur…

      2. Enggih,Mas. Doaku menyertai Kangmas Hendro selalu,mugo2 tamune akeh sing liwat Sintang lan motormabure yo ora ilang koyo nggone tanggane kae sing nganti saiki durung ketemu..

  3. kalo di kebanyakan bank memang pelayanan ke cust no satu. dibelakang itu karyawannya kejar2an demi kasi yg terbaik buat cust nya. soalnya bisnis perbankan mainnya di kepercayaan masyarakat sih

  4. kerja di bank emang tidak segampang yg terlihat Mas hehehe….mereka kadang kena marah tanpa bisa membalas marah, krn itu peraturan…ngak bisa pulang cepat kalau belum beres dan belum bisa tutup cabang kalau masih ada yg selisih…soalnya istri juga bankir xixixi
    jadi malah curcol wkwkwk

    1. wow memang spt itu ya sistem kerja di bank…..yg saya dengar juga begitu. transaksi pada hari itu, pembukuannya harus selesai hari itu juga. kalau perlu dilembur sampai malam. nggak ada istilah diselesaikan besok atau nanti 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s