Magnet Nasionalisme Timnas U-19

Empat kali menyaksikan penampilan Timnas Indonesia U-19 di layar kaca dalam tur Internasional Timur Tengah, tak hanya menikmati indahnya gocekan Evan Dimas cs. Sepotong kebanggaan sontak muncul di dalam dada menyaksikan para suporter yang datang ke stadion dan mendukung para pemain asuhan pelatih Indra Sjafri.

Sejak pertandingan kedua melawan Oman U-19 (14/4) yang dimenangkan Timnas 2-1, dua kali melawan UEA U-19 yang juga dimenangkan dengan skor 4-1 dan 2-1 hingga ketika ditahan imbang 2-2 oleh klub Al Shabab, dukungan masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri tak pernah surut.

Sepanjang pertandingan, dengan atribut yang didominasi warna merah putih mereka begitu bersemangat mendukung Timnas. Rasa cinta terhadap Timnas mereka wujudkan dengan mengenakan kostum Timnas, mengibarkan bendera merah putih, membawa spanduk, juga meneriakkan yel-yel In-do-ne-sia berulang-ulang.

Yang mengagumkan, mereka juga hapal dan tak ketinggalan menyanyikan lagu Garuda di Dadaku. Apabila hal itu dilakukan oleh para suporter di negeri sendiri, seperti di Gelora Bung Karno, Stadion Manahan Solo atau Stadion Delta Sidoarjo, dukungan fanatik itu bukanlah hal yang mengherankan. Tapi suasana yang kental dengan Indonesia itu terjadi di Muscat, Oman dan Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka rela menyediakan waktunya datang ke stadion dan mendukung timnas kesayangannya. “Bahkan ada yang rela cuti kerja demi Timnas” kata pembawa acara di televisi ketika membaca salah satu spanduk di stadion.

Mungkin para pemain, ofisial dan penonton tuan rumah agak terheran-heran dan tidak menyangka sebegitu semangatnya mereka mendukung timnas U-19. Padahal level pertandingan itu adalah laga uji coba dan bukan sebuah turnamen atau kejuaraan.

Melihat tayangan tersebut, Timnas U-19 tampaknya telah menjadi ikon baru untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di dada warga Indonesia yang bekerja dan tinggal di luar negeri. Evan Dimas cs dan pelatih Indra Sjafri adalah magnet yang menerbitkan rasa kebanggaan masyarakat Indonesia  terhadap negerinya di tengah karut marut kondisi tanah air.

Para pemain, pelatih dan ofisial Timnas U-19 tak hanya mampu meracik sebuah tim yang solid dan meminjam istilah pelatih Timnas UEA-19, Khalifa Mubarak: telah menemukan harmoni permainan. Percaya diri bermain di kandang lawan, menampilkan pola permainan yang berciri khas Indonesia dan enak ditonton. Namun juga membagikan sekeping  nasionalisme dan kebanggaan bagi bangsa Indonesia, terutama yang berada di luar negeri.

Korea Selatan, Oman dan UEA, para pesaing di piala AFC Oktober 2014 di Myanmar telah dikalahkan. Semoga Timnas U-19 menembus babak semifinal piala AFC dan lolos ke piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru.

Dari Timnas U-19, kita sebenarnya bisa belajar bagaimana memberikan hasil karya yang terbaik yang membanggakan bagi bangsa dan negara ini.

Sumber foto: republika.co.id

Iklan

6 pemikiran pada “Magnet Nasionalisme Timnas U-19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s