Sudahkah Anda Ngobrol Hari Ini?

Mungkin kedengaran aneh judul postingan di atas. Saya mengartikan ngobrol sebagai aktivitas antara dua orang atau lebih membicarakan hal-hal ringan sampai urusan yang berat. Mulai urusan pribadi sampai urusan studi. Dari masalah pekerjaaan sampai rumah tangga. Ngobrol adalah berbicara dalam suasana santai dan tidak terburu-buru waktu.

Masalahnya, di era serba digital seperti sekarang ini ngobrol sepertinya sudah tergantikan dengan berbagai macam gadget dan media sosial. Kita hampir nggak punya waktu lagi untuk ngobrol dengan keluarga, dengan suami atau istri, anak, orangtua, tetangga juga teman kerja. Waktu kita justru banyak tersita untuk ngobrol dengan teman-teman di dunia maya.

Ngobrol tak selamanya berkonotasi negatip. Selama ini sering kita artikan ngobrol sama dengan menggosip, menggunjing atau membicarakan kejelekan orang lain. Juga kegiatan yang nggak bermanfaat. Bagi orang-orang yang mengagung-agungkan produktivitas, ngobrol adalah kegiatan yang membuang-buang waktu tanpa ada hasil yang nyata.

Padahal ngobrol juga memiliki nilai positip, yaitu sebagai terapi jiwa. Setiap orang pasti punya masalah, namun tak setiap orang tahu gimana mengatasinya😦 . Nah, di sinilah perlunya ngobrol atau istilah anak muda sekarang curhat (curahan hati). Dia perlu orang lain yang mau mendengarkan keluhan dan masalahnya. Syukur-syukur sekalian jalan keluarnya. Nah, ini bisa dilakukan kalau dia punya waktu ngobrol dengan orang lain yang dia percaya.

Saya pernah dengar dari bos bahwa di luar negeri yang namanya psikolog itu termasuk salah satu profesi yang paling dicari. Mulai presiden, menteri, pengusaha, artis semuanya memerlukan psikolog. Bayarannya per jam. Jadi kalau kita konsultasi dengannya membicarakan masalah yang dihadapi, siap-siap saja berhitung dengan waktu. Makin lama berbicara makin mahal bayarannya.

Terus apa hubungannya antara psikolog dengan ngobrol? Sangat erat. Sebagai orang yang punya masalah, klien akan diminta untuk menceritakan masalah dan unek-unek yang ada di hati. Nah, tugas si psikolog itu mendengarkannya. Dengan ngobrol, kita juga bisa berperan seolah-olah sebagai psikolog.

Keluhan dan unek-unek istri, suami, anak, atau teman kita dengarkan dengan penuh perhatian. Meski nggak bisa memberikan jalan keluar, ada yang mau mendengarkan saja sudah membantu mengurangi beban kejiwaan. Dengan mengungkapkan unek-unek sudah membuat hati terasa lebih ringan. Beban di dada juga terasa berkurang. Apalagi kalau kita bisa memberikan jalan keluar dan terbukti berhasil. Dan itu bisa dilakukan dengan cara ngobrol.

Sudahkah anda menyediakan waktu untuk ngobrol hari ini?🙂

17 pemikiran pada “Sudahkah Anda Ngobrol Hari Ini?

  1. Dewi

    hmm,,,,, sudaaahhh,,,, aku kalo dah di rumah hape harus di nomor empatkan pak,, wong hape saya bukan gadget mah itungannya,, hahahaha,, tapi emang dasarnya aku lebih suka ngobrol sama orang dari pada sama hape,, (kecuali kalo suami lagi tugas luar kota…😛 )

  2. Sudaaahh,😀
    Dan biasanya kalau lagi banyak pikiran terus ngobrol (meskipun obrolannya bukan tentang masalah kita) beban di hati jadi agak ringan, dan setelah itu, lebih siap menghadapi masalah itu lagi x))

  3. sudahhhh
    jam istirahat siang, tiap pulang ke rumah, belum juga masuk rumah dah disambut teriakan anak-anak, berebut perhatian supaya diperhatikan cerita mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s