Beda Tempat, Beda Cara Belanjanya

IMG01789-20140128-1708

Di kota-kota besar, kalau belanja sayuran, buah-buahan dan kebutuhan dapur lainnya biasanya kita akan ke pasar modern, pasar tradisional, mall atau supermarket. Segala macam keperluan sehari-hari termasuk untuk memasak bisa kita dapatkan di situ. Yang diperlukan adalah kemauan kita untuk mendatangi tempat-tempat tersebut.

Di daerah yang agak pinggiran kota, ada juga yang biasa berbelanja di warung yang berada di sekitar rumah. Tipe warung seperti ini biasanya si pedagang akan kulakan dulu ke pasar induk atau pasar besar. Mereka berangkat pagi-pagi untuk belanja sayuran, buah-buahan, ikan segar, juga jajanan pasar. Tiba di warung, belanjaan berupa ikan, tahu, tempe dan sayur-sayuran biasanya ditempatkan di bagian depan di dekat jalan. Di ruangan dalam biasanya dijajakan berbagai macam makanan ringan, minuman, sabun, minyak goreng dan barang-barang keperluan rumah tangga sehari-hari.

Warung seperti ini yang biasanya tempat istri berbelanja. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, pulangnya mampir dulu ke warung. Belanja bahan makanan keperluan makan siang dan makan malam. Kenapa nggak ke pasar induk? Jaraknya lebih jauh dan harus memutar. Sementara kalau ke supermarket atau mall, baru buka jam 9 atau 10.

Itu tadi cara berbelanja di kota. Lain lagi cara di camp. Ada tiga cara yang biasanya karyawan atau mbak-mbak di dapur  lakukan untuk mendapatkan bahan makanan.

Pertama, belanja lewat Koperasi Karyawan (Kopkar). Setiap lima hari sekali 4 karyawan Kopkar akan pergi ke Nanga Pinoh untuk belanja. Waktu belanjanya dua hari. Biasanya mereka pergi setelah subuh, sekitar jam 5. Setelah sampai di Nanga Pinoh kurang lebih jam 8 mereka akan kulakan barang-barang, belanja titipan karyawan dan kirim uang titipan karyawan juga. Setelah sehari mutar-mutar kota, menginap semalam, besok siangnya mereka akan kembali ke camp.

IMG01787-20140128-1707

Dari Nanga Pinoh mereka menyewa satu truk untuk mengangkut barang-barang belanjaan ke Logpond. Setelah itu barang dilangsir ke truk perusahaan dan diangkut ke Kopkar. Nah, disinilah biasanya keluarga karyawan sudah menunggu untuk berbelanja. Untuk masing-masing dapur camp, biasanya sayur-mayur dan barang lainnya sudah dibagi-bagi. Selesai dikemas, sore atau malam itu juga barang-barang  diantarkan ke masing-masing camp. Untuk camp yang berada di jalan yang arahnya berbeda akan diantarkan esok harinya.

Cara kedua, orang-orang di camp biasanya belanja dari penjual yang datang naik sepeda motor dari Nanga Pinoh. Sekali seminggu penjual ini datang membawa dagangan bermacam sayuran, buah-buahan dan ikan. Salut juga dengan pedagang ini karena harus menempuh perjalanan 2,5 jam naik motor untuk mencari nafkah sampai ke tengah hutan.

Terakhir, adalah membeli dari penduduk desa yang menjajakan hasil kebun dan ladang ke camp-camp. Biasanya seminggu sekali truk perusahaan akan melayani ibu-ibu, remaja dan anak-anak berjualan. Mereka dijemput di desa dan diantar ke camp-camp untuk berjualan. Setelah selesai, biasanya mereka berbelanja sembako dan diantar lagi pulang ke desa. Semua bantuan transportasi dari perusahaan tanpa dipungut biaya alias gratis.

Di luar jadwal seminggu sekali itu, mereka juga terkadang menumpang kendaraan lainnya untuk berjualan. Setelah tiba di camp, biasanya ibu-ibu ini akan menawarkan ke keluarga karyawan dan juru masak dapur. Terkadang saat mereka berjalan lewat di depan kantor, karyawan yang punya kegemaran memasak juga ikut berbelanja.

IMG_4953_A

Mereka meletakkan dagangannya dalam keranjang yang biasa disebut tengkalang. Sambil berjalan mereka akan menggendong tengkalang dan menawarkan dagangannya. Sebagian besar yang dijual adalah sayur dan buah lokal yang mungkin agak susah ditemui di pasar modern. Sayur pakis, jantung pisang, daun ubi (bentuknya runcing), umbut rotan muda, rebung sampai sawi hutan yang rasanya pahit sekali. Pernah karena nggak tahu dan nggak nanya, saya langsung ambil sayur ini agak banyak karena bentuknya mirip sawi. Rasanya setelah dimakan… waduh lebih pahit daripada daun papaya 😦

Sayur-mayur itu sebagian besar cocok untuk dibuat lalapan. Dengan tambahan sambal terasi, ikan sungai dan nasi hangat, menunya nggak hanya sedap namun juga sehat. Rasanya jadi lapar deh :-). Selain sayur, penduduk juga menjual buah-buahan, seperti kemantang (mangga pakel/kuweni), durian, lengkeng, sembulan (seperti duku tapi masam). Kalau sedang berada di Pontianak, terkadang saya merindukan makanan seperti itu.

Dimana teman-teman kalau belanja keperluan dapur? Ke mall, pasar atau warung?

Iklan

10 pemikiran pada “Beda Tempat, Beda Cara Belanjanya

      1. nggak, pak. cuma dulu sering masukin sayuran ke dalam panci plus air buat bikin sayur bening untuk sarapannya syaikhan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s