Akademisi yang Menebarkan Inspirasi

anis baswedan

Indonesia sudah seharusnya bangga memiliki putra bangsa seperti Anies Baswedan. Tokoh muda yang berasal dari lingkungan perguruan tinggi, lulusan S2 dan S3 dari luar negeri namun memiliki kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Meski dirinya pernah menuntut ilmu dan bekerja di luar negeri, namun rasa kecintaannya pada negeri ini tak pernah pudar. Meski dirinya memiliki kesempatan untuk meraih karier yang gemilang dan imbalan yang menggiurkan bila bekerja di negeri orang, hal tersebut tak dapat menghalangi ayah dari empat orang anak tersebut pulang ke Indonesia. Keinginan untuk mencari solusi permasalahan di bidang pendidikan kian membuatkan tekad suami dari Fery Farhati Ganis itu untuk berbuat sesuatu bagi negerinya.

Pengalaman menuntut ilmu dan bekerja di luar negeri telah membentuk dirinya sebagai calon pemimpin masa depan yang memiliki kompetensi global. Namun modal itu saja belum cukup, pengetahuan atas permasalahan yang dihadapi masyarakat di negerinya juga diperlukan. Murid-murid yang putus sekolah karena ketiadaan biaya, sekolah yang kekurangan guru, anak-anak kurang gizi adalah beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat dan memerlukan uluran tangan warga lainnya termasuk kaum terdidik untuk berbuat dan bertindak nyata.

Benar apa yang dikatakan oleh Anies bahwa pemimpin yang diperlukan Indonesia saat ini adalah seseorang yang memiliki kompetensi tingkat global dan sekaligus memahami permasalahan negerinya hingga tingkat akar rumput. Pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat untuk berbuat nyata dan terjun langsung memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Indonesia saat ini memerlukan pemimpin yang mau turun tangan dan menginspirasi pengikutnya untuk mengerahkan kemampuan yang dimiliki demi kemajuan negeri ini. Pemimpin adalah seseorang yang memberikan harapan dan bukan seseorang yang sering berkeluh kesah dan melontarkan ratapan.

Anies telah mencontohkan apa yang diucapkannya dengan memelopori gerakan Indonesia Mengajar (IM). Setelah mengetahui permasalahan di bidang pendidikan yang salah satunya adalah kurangnya tenaga guru di daerah terisolir, Anies sesuai dengan kompetensinya merekrut sarjana-sarjana berprestasi. Program yang memiliki motto setahun mengajar dan seumur hidup menginspirasi itu tidak disangka dibanjiri peminat meski persyaratan yang ditetapkan cukup ketat.

Beberapa anak muda yang telah bekerja dan memiliki karier yang menjanjikan di masa depan rela bergabung dan membagikan ilmunya untuk adik-adiknya di tingkat SD yang tinggal di daerah pedalaman. Tak cukup hanya memiliki nilai indeks prestasi yang tinggi dan kemampuan berorganisasi yang diperlukan para kandidat untuk lolos dan diterima menjadi pengajar muda. Kemampuan untuk bertahan dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan lingkungan baru adalah persyaratan lain yang harus dimiliki oleh para pengajar muda tersebut.

Ketika melepas para pengajar muda angkatan pertama tahun 2010 di bandara Soekarno-Hatta tepat pada tanggal 10 Nopember, Anies mengatakan bahwa melunasi janji-janji kemerdekaan adalah sebuah kehormatan. Salah satu janji kemerdekaan yang sampai saat ini belum dilunasi adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Para pengajar muda ini mendapat kehormatan dari bangsa dan negara karena memiliki kesempatan yang tidak setiap orang dapatkan, yaitu ikut mencerdaskan anak didik yang tinggal di pelosok negeri.

Meski para pengajar muda tersebut hanya tinggal dan mengajar setahun, namun jejak dan kehadiran mereka akan memberikan inspirasi sepanjang hayat bagi murid-muridnya. Keberadaan mereka setahun di daerah terisolir diharapkan mengilhami anak-anak didiknya seumur hidupnya.

Bagi para pengajar muda, tinggal dan mengajar selama setahun di daerah terpencil adalah pengalaman yang akan memperkaya wawasan dan sudut pandang berpikir mereka mengenai permasalahan yang dihadapi negeri ini. Bersentuhan langsung dengan masalah di tingkat akar rumput adalah training sebenarnya yang mereka dapatkan di kehidupan nyata. Bila sebelumnya mereka adalah karyawan di sebuah perusahaan dan tinggal di kota besar, serta berjarak dengan anggota masyarakat karena lebih berorientasi mengejar target dan visi misi perusahaan, tinggal bersama masyarakat adalah sebuah kondisi yang berbeda 180 derajat.

Seperti kisah pengajar muda bernama Bayu Adi Persada yang ditempatkan di Desa Bibinoi, sebuah desa yang di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Tugas sebagai pengajar muda tidak hanya mengajar anak-anak SD di kelas, namun juga dihadapkan pada berbagai permasalahan rumit kehidupan. Tak terkecuali dengan Bayu yang tinggal serumah dengan Pak Adin Kepala Sekolah SD Bibinoi. Selama berada di rumah Pak Adin, Bayu baru mengetahui ternyata Pak Adin memiliki anak-anak yang bermasalah. Ada yang putus kuliah, malas sekolah bahkan hamil di luar nikah.

Meski tugas utamanya adalah mengajar anak-anak di kelas, namun masalah yang dihadapi anak-anak pak Adin tersebut memaksanya untuk jalan keluar mencari sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pertentangan hati nurani juga terjadi ketika dia memutuskan untuk tidak menaikkan lima orang anak ke kelas IV. Malam harinya setelah pembagian rapor, salah satu muridnya yang tidak naik kelas bernama Diki mendatanginya untuk belajar. Sempat terjadi dialog antara guru dan murid yang cukup mengharukan.

Ketika ditanya apakah orangtua Diki marah dan memukulnya karena tidak naik kelas, Diki menjawab saat itu ayahnya marah dan mengatakan Diki tidak naik kelas karena bodoh. Sebuah jawaban yang membuat Bayu terdiam karena tidak menyangka sang ayah akan merendahkan anaknya dengan mengatakannya sebagai anak bodoh. Sebuah kata yang seharusnya dihindari oleh orangtua apalagi seorang guru terhadap anak didiknya. Dengan bijaksana Bayu mengatakan kalau Diki tidak bodoh dan cuma kurang kerja keras. Selanjutnya anak itu mengiyakan dan percaya dengan penjelasan Bayu untuk belajar lebih keras.

Tinggal di rumah salah warga, menyelami denyut kehidupan di desa, berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda latar belakang agama, suku, maupun tingkat pendidikan adalah pengalaman baru yang dapat memperkaya pengalaman hidup mereka tentang saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang hidup di tempat yang berbeda. Tak hanya itu, kemampuan berpikir dan daya tahan mereka juga diuji dengan berbagai kesulitan yang dihadapi di tempat baru.

Bila sewaktu bekerja mereka pernah mendapatkan training atau outbound dari lembaga pelatihan tentang membangun kebersamaan dalam sebuah tim, belajar mengambil keputusan, mengatasi tantangan dan bagaimana meraih target yang diinginkan, maka tinggal dan bekerja bersama-sama masyarakat adalah praktek langsung dalam menghadapi masalah dan tantangan kehidupan.

Terjun ke masyarakat adalah metode pelatihan yang efektif yang dapat membentuk sikap dan pola pikir mereka dalam pengambilan keputusan ketika mereka menjadi pemimpin. Salah satu pelajaran yang diperoleh para pengajar muda itu adalah bahwa pengambilan sebuah keputusan atau kebijakan seharusnya tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak peraturan yang lahir dari meja birokrat atau teknokrat yang tidak membumi. Beberapa keputusan yang dihasilkan tidak bertitik tolak dari upaya mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. Simak saja baru-baru ini ketika terbit peraturan presiden yang memberikan fasilitas berobat bagi para pejabat negara beserta keluarganya.

Ketika sebagian masyarakat belum mendapatkan layanan kesehatan yang semestinya, justru para pejabat dan keluarganya yang lebih dulu memperoleh fasilitas kesehatan. Di saat masyarakat miskin kesulitan membawa anggota keluarganya untuk berobat karena mahalnya biaya berobat, justru para pengambil kebijakan menerbitkan keputusan yang mengutamakan dirinya. Beruntung, setelah banyak pihak yang protes akhirnya keputusan tersebut dibatalkan.

Kepekaan dalam membuat keputusan dengan mempertimbangkan rasa empati masyarakat adalah hal yang langka di negeri ini. Sebagian kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru lebih banyak menimbulkan sikap skeptis warga masyarakat. Bisa jadi para pejabat yang mengeluarkan berbagai kebijakan dan keputusan yang kontradiktif itu karena mereka memiliki pemahaman yang kurang mengenai permasalahan yang terjadi di lapangan.

Keterasahan nurani dan akal pikiran mereka tidak cukup memadai untuk mengenali problem di tingkat bawah. Bila kita telusuri lebih jauh, ketidakmampuan mengenali masalah tersebut terjadi, karena mereka tidak pernah tinggal di tengah-tengah masyarakat golongan menengah ke bawah. Ketidakpekaan para pemimpin memahami apa yang dirasakan rakyat kecil terbentuk, karena mereka tidak pernah hadir untuk mendengar keluh kesah dan uneg-uneg masyarakatnya.

Tak heran kalau yang muncul sebagai pemimpin adalah orang-orang yang cenderung mengutamakan kepentingan golongannya, keluarganya dan dirinya sendiri. Kekuasaan yang diperoleh bukan digunakan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, namun sebagai jalan untuk memperkaya diri dan bergaya hidup mewah di tengah rakyatnya yang miskin. Anggaran pemerintah yang seharusnya dialokasikan untuk membangun dan merawat jalan, justru disalahgunakan untuk berfoya-foya membeli barang-barang mewah.

Sulit dimengerti, bagaimana seorang pemimpin wilayah bisa berbelanja hingga milyaran rupiah di luar negeri, sementara sarana transportasi jalan di wilayah pemerintahannya banyak yang rusak dan berlubang. Rakyat tak habis pikir, bagaimana seorang pimpinan Mahkamah Konstitusi yang notabene merupakan benteng terakhir dalam penegakan hukum justru terlibat dalam kasus suap, memiliki rekening hingga ratusan milyar dan puluhan kendaraan mewah. Tak sulit mencari contoh pemimpin seperti itu yang tidak mampu berempati terhadap kesulitan rakyatnya dan akhirnya terjerat kasus hukum dan dinyatakan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebagai anggota masyarakat, tentu kita berharap pada pemilihan presiden tahun 2014 akan terpilih seorang pemimpin yang benar-benar bekerja demi kepentingan bangsa dan negara. Seorang pemimpin yang mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan partai, kelompok, golongan atau dirinya sendiri. Sosok pemimpin yang mampu menggerakkan warga masyarakat untuk meraih apa yang menjadi janji-janji kemerdekaan bangsa ini.

Bila yang kita harapkan itu terjadi, sejarah akan mencatat dengan tinta emas bahwa di Indonesia telah hadir seorang pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya dan juga dihargai oleh bangsa lain, karena mampu menebar inspirasi yang dibuktikannya dengan satunya ucapan dan perbuatan.

Sumber :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Anies_Baswedan
2. https://indonesiamengajar.org/
3. http://rinaldimunir.wordpress.com/2013/06/21/anak-anak-angin-buku-catatan-pengalaman-guru-muda-di-halmahera-selatan

4. http://aniesbaswedan.com/inspirasi/rubah-pandangan-menjadi-optimis

Iklan

6 pemikiran pada “Akademisi yang Menebarkan Inspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s