Pelatihan yang tak Meletihkan

pelatihan GIS

“Bingung belajar GIS, Pak. Menunya banyak sekali”.Tersenyum geli saya memandang ekspresi wajahnya.

Itulah komentar salah satu peserta inhouse training Geographic Information System (GIS) ketika saya tanya tanggapannya di hari pertama. Inhouse training di ruang rapat kantor yang diberikan karyawan pemetaan untuk karyawan bagian penatausahaan hasil hutan.

Jumlah pesertanya nggak terlalu banyak, 13 orang. Pengajarnya empat orang. Dilaksanakan malam hari jam 19.00-21.30 selama empat hari. Mulai tanggal 10-13 Juni yang lalu. Pagi hingga sore mereka bekerja sesuai bagiannya, malamnya dilanjutkan mengikuti pelatihan.

Bentuk pelatihannya memang tidak terlalu formal seperti pelatihan atau training pada umumnya. Seperti mengirim karyawan untuk belajar di tempat diklat atau mendatangkan instruktur. Terus para peserta duduk manis mendengarkan para pengajar bergantian menerangkan materi. Kalau model yang seperti ini apalagi sampai berhari-hari memang bikin peserta jenuh. Dan waktu terasa lama berlalu.

Dalam inhouse training GIS itu, metode yang digunakan adalah memberdayakan karyawan untuk berbagi ilmu. Karyawan yang sudah pernah mendapatkan pelatihan dan sehari-hari bekerja di bagian GIS, malamnya menjadi tutor bagi karyawan bagian lain. Biaya training gratis. “Sudah dapat ilmu gratis, selama pelatihan dikasih snack lagi”kata peserta lainnya.

Dan satu hal lagi yang bermanfaat bagi karyawan lainnya. Snack untuk peserta seperti risoles, kue lapis, lemper bukan dibeli dari toko atau warung, tapi dibuat oleh istri karyawan. Benar-benar acara yang diadakan dari karyawan, oleh karyawan, dan untuk karyawan.

Suasana inhouse training pun dibuat informal, nggak perlu harus pakai baju lengan panjang, dasi dan bersepatu. Pakai kaos berlogo klub sepakbola favoritnya juga boleh. Metodenya pun lebih banyak praktek. Satu topik misalkan tentang digitasi diajarkan langkah-langkahnya. Setelah itu peserta praktek menggunakan laptop. Karena nggak semua punya laptop, terkadang satu laptop dipakai 2-3 orang bergantian. Jadi dibuat lima kelompok untuk prakteknya. Satu kelompok tadi didampingi oleh satu tutor.

Belajar GIS yang awalnya terasa sulit, karena menggunakan metode langsung praktek, akhirnya malah mengasyikkan dan bikin ketagihan. Ada yang minta supaya waktunya ditambah. “Kalau cuma empat hari sih, nggak cukup”kata salah satu peserta. Saya bilang, “Untuk kali ini inhouse training dasar-dasar GIS sudah cukup. Silakan diteruskan prakteknya secara mandiri. Kalau ada waktu senggang, dicoba lagi. Setelah mentok dan ada masalah baru tanya”.

Kalau bentuk pelatihannya seperti ini memang tidak terasa meletihkan, namun justru menyenangkan dan bikin ketagihan. Saya baru memahami. Ternyata proses berbagi ilmu dan transfer pengetahuan terkadang lebih efektif bila dikemas dalam bentuk pelatihan atau inhouse training yang lebih bersuasana informal. Rileks, kadang diselingi bercanda, langsung praktek dan berkesan bagi peserta maupun pengajar.

12 pemikiran pada “Pelatihan yang tak Meletihkan

    1. gpp, mbak. sy malah senag dapat pertanyaan spt itu.

      secara garis besar, GIS/SIG adalah informasi spasial (keruangan) sebuah wilayah, mbak. wilayah di sini bisa berupa sebuah kota, desa, tempat wisata, daerah bencana atau kampus. untuk bisa menjalankan GIS harus ada hardware, software, brainware dan database.

      karena database yg disimpan cukup banyak, komputer yg dipakai juga harus punya memori besar baik RAM atau Hardisknya. untuk softwarenya biasa menggunakan Arcview atau yg sekarang ini yg lebih anyar adalah ArcGIS 10.2

      ada dua unsur yg ditampilkan dalam informasi spasial: peta dan database/atribut. untuk contoh mudahnya gini mbak : misalkan GIS kota Surabaya untuk kantor Dinas Kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil).sorry kalau penyebutan nama instansinya salah.

      peta kota Surabaya misalkan terdiri dari katakanlah 5 kecamatan dan 10 kelurahan. kelurahan A lokasinya dalam GIS akan memiliki peta dan atribut yg berbeda dengan kelurahan lainnya (luas, bentuk, jumlah penduduk, mata pencaharian penduduk dll).

      atribut masing-masing kelurahan, misal jumlah penduduk dan keterangannya bisa diinput dari data e-KTP (jenis kelamin, umur, pekerjaan, alamat, status, agama, RT/RW). itulah sebabnya kalau e-KTP ini berjalan, akan sangat membantu pembuatan GIS data kependudukan suatu wilayah.

      dalam aplikasi GIS, wilayah kelurahan dan kecamatan itu bisa ditampilkan dalam bentuk peta digital. jika kita mengklik salah satu desa misalkan A1, maka atributnya akan muncul. demikian jg kalau kita ganti mengklik kelurahan lainnya.

      GIS jg punya kemampuan untuk menampilkan data sesuai keinginan kita (query). misalkan kita ingin tahu berapa sih jumlah penduduk yg bekerja sebagai guru di kecamatan B. atau kita ingin tahu berapa sih jumlah penduduk wanita yg sudah berumur 30 tahun ke atas dan belum kawin di seluruh kecamatan.🙂 harusnya dalam e-KTP statusnya menikah/belum menikah ya, bukan kawin dan belum kawin

      nggak hanya itu, mbak. untuk instansi lain misalkan dinas pertamanan dan kebersihan, mereka punya GIS yg berbeda dengan kantor disdukcapil. biasanya dinas ini akan memetakan kota dari sisi tata guna atau pemanfataan lahannya. misalnya dimana dan berapa luas untuk ruang publik (termasuk taman bungkul), areal pemukiman warga, kawasan bisnis, dll. beda instansi beda pula keperluannya untuk pembuatan GIS. bisa jadi pemanfaatan suatu lahan, misalkan untuk ruang publik lokasinya akan berada di beberapa kelurahan/kecamatan.

      demikian juga dengan instansi lain misalkan diknas. mereka bisa membuat GIS yg berbeda dgn kedua instansi sebelumnya. misalkan GIS dibuat lebih mengarah pada informasi wilayah sekolah (SD, SMP, SMA/SMK dan perguruan tinggi).

      gimana mbak Indri penjelasannya?

      1. Trims pak Yudhi, jelas sekali🙂 Sy pernah berkunjung ke pemkab Sragen, saat itu mrk bnyk rekrut anak2 ITB utk bikin GISnya Sragen, agar dpt dipetakan mana daerah industri, pertanian dan perdagangan. Lalu sempat jg ambil kursus di Coursera ttg geospatial, sebelum akhirnya sy drop krn ngga sempat ngerjain tugasnya. GIS ini perlu pemrogaman khusus, atau ada aplikasi shg semua bs jalankan Pak? Datanya bottom up ya, jadi tdk perlu satelit? Makasih ya pak🙂

      2. Wow, berarti sudah punya dasar-dasar geospatial dong, mbak.
        GIS ini software aplikasi dan bukan pemrograman. Biasanya aplikasi yg dipakai adalah Arc GIS atau Arc Map. Kurang lebih sama dengan aplikasi MS Office, spt Excel, Word atau Power Point. Bedanya adalah ArcGIS atau Arc Map punya menu lebih banyak. Asal mau belajar, sebenarnya semua orang bisa menjalankan🙂. Nggak perlu harus S1 atau S2. Karena di tempat kerja saya yg menjalankan adalah lulusan SMA dan D3🙂
        Mengenai datanya ada yg sudah bawaan di ArcGIS spt peta dunia dan peta Indonesia. Namun untuk membangun GIS suatu wilayah sesuai yg kita inginkan, datanya di lapangan harus diambil dulu pakai GPS (koordinat, bentuk wilayah, track dll). Setelah itu baru diupload ke PC/laptop. Kalau sudah menjalankan aplikasi ini, rasanya mengasyikkan, mbak. Seperti cerita teman kerja yg awalnya nggak ngerti, akhirnya setelah ikut training malah ketagihan🙂.

      3. Jd bs dgn memadukan peta yg sdh ada di GPS dgn database GIS, kita jd bs bikin map yg customized ya pak. Menarik nih, smg kalau ada kursus lg sy bs ikut dgn elboh serius. Trims atas penjelasannya pak Yudhi🙂

      4. benar, mbak. bisa sekali, karena sebagian besar database GIS (peta) sumbernya dari GPS. untuk tahap awal sebaiknya mbak Indri install dulu softwarenya (Arc GIS/Arc Map). Nanti saya kirimi softcopy panduan dasar-dasarnya🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s