Antara Puasa Ramadhan, Piala Dunia dan Pilpres

Puasa Ramadhan tahun ini benar-benar istimewa. Bukan hanya bulannya saja yang istimewa. Juga karena bertepatan dengan ajang Piala Dunia (Pildun) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Jarang lho tahun-tahun sebelumnya bisa terjadi seperti itu.

Tantangan untuk meraih juara dan pemenang tak hanya dihadapi oleh peserta pildun atau pilpres. Predikat taqwa yang menjadi tujuan ibadah puasa pun menghadapi tantangan yang tak ringan. Suasana pildun dan pilpres secara langsung maupun nggak langsung akan mempengaruhi konsentrasi puasa kita.

Tak hanya peserta pildun saja yang bersaing mengalahkan lawannya agar lolos ke babak 16 besar, maju ke perempat final, tampil di semifinal, bertanding di final dan menjadi juara. Nggak cuma dua capres saja yang saling berupaya dan berkampanye untuk memikat massa agar memilih dirinya. Umat Islam yang menjalani puasa Ramadhan pun harus berjuang agar tetap istiqomah melakukan amalan-amalan sunah: tadarus, tarawih, sholat tahajud, mengkaji Al Qur’an. Kenapa?

Karena ibadah-ibadah sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan tahun ini godaan dan tantangannya juga ekstra. Di saat bangun dini hari, kita harus memilih antara mengerjakan shalat tahajud atau menonton tim kesayangan. Memutuskan untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid atau tetap di rumah karena pertandingan lagi seru-serunya.

Nggak hanya itu. Malam harinya, di saat akan melaksanakan sholat tarawih godaan dan tantangan lainnya juga muncul. Bentuknya adalah tayangan jadwal debat capres, siaran ulang tayangan pertandingan pildun atau cerita sinetron favorit .

Godaan dan tantangan nggak hanya di dunia nyata, namun juga muncul dari dunia maya. Maksud hati ingin membaca status yang bermanfaat ketika membuka akun facebook. Namun yang dilihat justru status-status para pendukung capres yang cenderung saling menyerang, menjelekkan, atau menyindir capres pesaingnya.

Di sinilah diri kita sebenarnya sedang diuji. Pada saat inilah diri kita sejatinya sedang merasakan makna puasa: pengendalian diri. Mampukah kita sebagai pendukung salah satu capres menahan diri untuk tidak balas mengejek atau menghina? Sanggupkah kita berpuasa tak hanya makan dan minum saja? Namun juga berpuasa dari membuat update status yang memancing kemarahan pihak lain dan menggantinya dengan kata-kata yang menentramkan hati. Dapatkah kita bersabar dan tidak terpancing untuk menyerang pihak lain yang berbeda pilihan dengan kita?

Mungkin inilah salah satu hikmah puasa Ramadhan tahun ini. Bisa jadi ini adalah cara Allah memberikan pelajaran kepada diri kita. Agar dalam suasana berbeda awal penetapan Ramadhan, ketika berbeda pendapat dan berbeda pilihan, kita tetap mampu mengendalikan diri.

Jangan sampai kita tergolong kepada orang-orang yang dikatakan Nabi Muhammad sebagai orang-orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

Selamat berpuasa di bulan Ramadhan.

7 pemikiran pada “Antara Puasa Ramadhan, Piala Dunia dan Pilpres

  1. Amiin ..
    Nampaknya hanya di Indonesia Awal Puasa bisa beda dan saling menghormati, kalo di Malaysia atau Brunei konon sudah dianggap subversif.,
    Met menjalankan Ibadah Puasa Pak Yudhi,

  2. tingkat derajat puasanya baru sampai pada derajat ‘shiyamul ‘awam’ je, Mas.
    angger poso,opo opo kerso,..yo ngrasani,yo nggosip,yo ndelok sing mines mines…
    urung biso ngeker howo songo ..hihiks..

      1. atine melu poso yo wis tingkatan “khowasul khowas.” …tingkat puasane poro waliyullah.. lha kaya dewe ngene iki iso poso tingkatan sing nomer 2 wae wis hebat banget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s