Mahasiswa yang Ringan Tangan

Tiga mahasiswa Praktek Kerja Lapang dari Bogor itu tanpa diminta langsung maju ke depan ruang pertemuan. Melihat saya sibuk menyalakan proyektor dan menyambungkan kabelnya ke laptop, mereka mendekat dan langsung turun tangan. Menyalakan pengeras suara yang akan saya gunakan untuk presentasi. Mencari stop kontak, mencoba suara sampai mengatur volumenya. “Sudah siap, pak, pengeras suaranya”ungkapnya.

Apa yang mereka lakukan mungkin bagi sebagian orang nampaknya sederhana. Belum selesai saya menampilkan bahan presentasi di layar lebar, mereka telah membereskan urusan sound system. Satu kebaikan telah mereka perbuat di siang hari itu

Melihat sikap mereka, saya yakin apa yang mereka lakukan adalah hasil sebuah kebiasaan. Salut. Dan kebiasaan itu nggak akan mungkin muncul secara tiba-tiba. Kebiasaan yang terbentuk karena pembiasaan atau dibiasakan oleh lingkungan sebelumnya. Kebiasaan yang tidak bisa membiarkan orang lain dalam kesulitan. Kebiasaan mau menolong meski tanpa diminta. Dari kejadian  itu, saya menyimpulkan mereka orang yang ringan tangan dan punya inisiatif yang tinggi.

Mahasiswa-mahasiswa seperti itu yang saya yakin akan sukses dalam studi, pekerjaan dan hidupnya. Karena mereka tidak hanya menunggu untuk bertindak, menunggu instruksi untuk beraksi. Namun sebaliknya, memiliki kemauan dan mengambil insiatif untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan.

20 pemikiran pada “Mahasiswa yang Ringan Tangan

  1. setuju banget pak. inisiatif membantu itu tidak secara tiba-tiba. pasti ada tahapan membelajarannya.
    saya jadi ingat acara TV barat, yang membahas pengaruh PS terhadap empati anak-anak. disitu diteliti oleh pakar, anak2 yg biasa mainan PS yang berisi kekerasan, maka dia tidak punya simpati/empati terhadap sesuatu dihadapannya/ lingkungan. waktu itu si pakar mengadakan perbincangan satu persatu anak, sambil ‘sengaja’ menjatuhkan tempat alat tulis. anak2 yg biasa main game kekerasan , tidak tergerak sama sekali membantu mengambilkan wadah yang jatuh itu. hamper semua begitu. tapi untuk anak2 yg mainnya PS sepak bola atau yang bukan kekerasan, mereka masih punya inisiatif menolong

    1. wah ini referensi yg bagus sekali dan ilmiah, mbak. rupanya mainan PS atau game u/ anak2 pun harus dipilih-pilih ya, krn punya pengaruh ke tingkat simpati/empati mereka thd apa yg terjadi di sekitarnya.

  2. saya juga ringan tangan lho Mas..terutama kalau suruh clemat clemut panganan..hahaaa..ning abot alot nek kon nyandak gawean..hihikks..

    pripun kabare,Mas. Sugeng nindaaken ibadah siam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s