Quick Count ala Rumah Makan

Setiap kali menempuh perjalanan Pinoh-Pontianak pergi pulang menggunakan kendaraan umum, bis yang saya tumpangi selalu singgah di rumah makan di daerah Sosok. Ada beberapa rumah makan yang menjadi persinggahan bis-bis antar kota maupun antar negara. Masing-masing rumah makan memiliki pelanggan dari perusahaan otobis yang berbeda.

Di tempat ini, para penumpang yang ingin makan dipersilakan antri mengambil hidangan yang diletakkan di etalase kaca secara prasmanan. Selesai mengambil makanan, penumpang duduk di dalam ruangan yang terpisah dengan sopir. Tak lama, ada karyawan yang mendatangi meja penumpang dan menanyakan jenis minuman yang diinginkan. Setelah memesan minuman, dia lalu melihat apa saja hidangan yang tersaji di atas piring. Tanpa kalkulator dia langsung melakukan hitung cepat dan mencatat pada sepotong kertas harga makanan yang sedang dinikmati penumpang.

Hasilnya, tak sampai setengah menit kertas yang berisi harga makanan itu diletakkan dalam posisi angkanya tertutup di atas meja. Biasanya saya penasaran ingin tahu berapa sih harga makanan yang harus dibayar. Tapi rasa penasaran itu saya tahan dulu sampai selesai makan.

Sebelum menuju kasir saya buka kertas itu. Tertulis Rp 16.000 untuk sepiring nasi putih, sayur daun ubi, dua potong tahu goreng, sepotong tempe goreng dan segelas teh panas manis. Kenapa saya hanya makan dengan lauk seperti itu? Belajar dari pengalaman teman yang pernah juga makan di rumah makan tersebut. Makan di rumah makan dengan perhitungan ala quick count seperti ini memang harus hati-hati memilih lauknya. Saya biasanya menghindari mengambil lauk berupa ayam atau daging, karena harganya mahal.

Tak hanya itu. Kita juga perlu sedikit kritis dan tidak terburu-buru langsung membayar ke kasir. Perlu teliti apakah harga yang harus kita bayar tidak kemahalan dengan menu yang dimakan. Karena menghitung harga makanan  dengan cara quick count seperti ini bisa saja salah. Apalagi kalau kita makan tak hanya sendirian, tapi bersama-sama keluarga atau teman-teman.

Ini yang pernah dialami istri saya ketika makan bersama anak-anak. Waktu menerima kertas yang berisi harga makanan yang harus dibayar untuk lima orang, istri saya minta supaya hitungannya dicek lagi karena terlalu mahal. Akhirnya setelah dicek ulang, ternyata memang benar ada kesalahan perhitungan. Memang nggak semua penumpang mengecek ulang hasil quick count harga makanan. Waktu yang hanya sekitar setengah jam untuk singgah di rumah makan terkadang membuat penumpang tak sempat lagi untuk memeriksa apakah harganya wajar atau terlalu mahal.

7 pemikiran pada “Quick Count ala Rumah Makan

  1. waktu naik bis dari jakarta ke semarang dan sebaliknya, sempat mampir di rumah makan. tapi ibu saya nggak mau makan nasi di situ, akhirnya cuma beli roti dan minum teh manis aja. kami bayar ongkos bis sekalian makan. tapi ya dengan menu tertentu. kalau lebih mahal ya nambah kekurangannya aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s