Kegedhen Empyak Kurang Cagak

Sebuah SMS masuk ke ponsel saya. Isinya mengejutkan karena seorang rekan minta pinjaman sekitar 100 juta. Di SMS dia juga cerita kalau rumahnya akan disita bank bila utangnya nggak dilunasi.

Saya tidak pernah membayangkan kalau SMS itu datang dari salah seorang rekan kerja yang selama ini saya golongkan kelas menengah ke atas. Ada apa gerangan kok dia sampai pinjam uang ratusan juta? Padahal kalau dilihat penampilannya sewaktu bekerja memang cukup bergengsi.

Saya lihat di kantor dia sering gonta-ganti mobil. Kendaraan terbarunya Toyota Fortuner yang harganya tiga ratusan juta lebih. Jauh mentereng dbandingkan dengan saya yang masih setia memakai Suzuki Carry tahun 1991. Selain bekerja di grup perusahaan swasta yang sama dengan saya, jiwa bisnisnya juga jalan. Bosan dengan mobil yang dipakai lantas dijual. Kemudian dia beli mobil keluaran terbaru yang harganya lebih mahal. Sebelum membeli Fortuner, dia punya mobil sedan yang akhirnya dijual ke teman kerjanya di kantor. Sebelum punya sedan saya pernah lihat dia mengendarai minibus.

Pernah juga saya diajak untuk bisnis pulsa elektronik. Saya terima tawarannya karena nilainya masih sesuai dengan kemampuan keuangan. Juga saya anggap bermanfaat minimal kalau saya habis pulsa nggak perlu repot-repot cari voucher. Bisa isi pulsa sendiri juga sekali-kali transfer pulsa untuk istri dan anak-anak. Hal itu terus berjalan sampai sekarang. Dia juga pernah menawarkan investasi emas batangan. Namun tawaran yang satu ini saya tolak karena perlu modal besar sampai puluhan juta. Terakhir saya dengar dia memperluas investasinya di bidang valutat asing (valas).

Saya menilai dia termasuk orang yang lincah, ulet dan berhasil dalam bisnisnya hingga datang SMS yang tak terduga itu. Saya baru mengetahui dari cerita rekan kantor lainnya rupanya dia terjerat utang bank. Saya tidak tahu pasti apakah ini salah satu trik dia untuk menarik simpati dan rasa iba saya agar meminjamkan uang atau kondisi keuangannya memang benar-benar sudah parah. Saat itu saya hanya berpikir, kalaupun dia benar-benar terjerat utang bank ratusan juta, saya tetap tidak dapat menolongnya karena uang ratusan juta bagi saya adalah jumlah yang besar.

Yang saya nggak mengerti adalah kenapa untuk berinvestasi dia harus menggadaikan rumahnya ke bank. Padahal keluarga dia tinggal di situ. Apakah tidak ada pilihan lain? Kenapa dia nggak menggadaikan Fortunernya untuk mendapat pinjaman? Menggadaikan rumah tinggal untuk mendapat pinjaman adalah langkah yang sangat beresiko. Karena sewaktu-waktu bisa saja kita diusir gara-gara nggak bisa mengembalikan pinjaman.

Saya teringat dengan pepatah Jawa Kegedhen Empyak Kurang Cagak. Arti sebenarnya adalah atap rumah yang terlalu besar sementara tiangnya kurang. Bila kita membuat atap yang ukurannya besar tapi jumlah tiang-tiangnya kurang, atap tetap bisa berdiri tapi lama kelamaan ambruk bila hujan lebat atau terkena angin kencang. Karena berat atap nggak mampu disangga oleh tiang-tiangnya. Pepatah di atas juga bisa diartikan seseorang yang ingin tampil mewah dan dianggap wah oleh lingkungan sekitarnya. Namun tidak didukung oleh kemampuan dirinya yang sebenarnya. Kemampuan itu bisa dalam bentuk keuangan, kesehatan atau pengetahuan.

Dalam bahasa Indonesia pepatah tersebut kurang lebih sama artinya dengan Besar Pasak daripada Tiang. Namun peribahasa tersebut lebih ditujukan pada seseorang yang memiliki pengeluaran lebih besar daripada pendapatan atau penghasilannya.

Ada satu pelajaran yang saya dapatkan dari masalah yang dihadapi rekan kerja tersebut. Bahwa kita seharusnya memperhitungan dengan matang sebelum berinvestasi. Boleh-boleh saja kita menanamkan uang untuk menambah penghasilan atau menjaga penampilan. Namun jangan sampai keblalasan sehingga malah menghabiskan uang dan tabungan kita. Karena dalam berumah tangga, selain investasi masih ada kebutuhan lainnya yang harus kita penuhi. Mulai dari belanja kebutuhan sehari-hari, membayar tagihan air, listrik, telepon, biaya sekolah anak-anak, cicilan kendaraan dan rumah, tabungan untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal di luar rencana, juga alokasi untuk asuransi.

Pepatah Kegedhen Empyak Kurang Cagak yang pernah saya dapatkan ketika SD sekitar 30 tahun lalu ternyata hingga saat ini masih relevan. Sebuah ajaran yang mengingatkan agar kita jangan terjebak dengan kehidupan yang mengutamakan gengsi yang akhirnya justru mengorbankan kondisi keuangan kita. Jangan sampai bergaya hidup glamor karena ingin tersohor, akhirnya malah bikin tekor.

banner

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes GA Sadar Hati โ€“ Bahasa Daerah Harus Diminati

24 pemikiran pada “Kegedhen Empyak Kurang Cagak

  1. Ya salah satu resiko dari berbisnis adalah kegagalan. Kalau dia madih punya jaminan rumah situasinya tak terlalu gawat. Dia masih bisa cari rumah lain dengan menjual mobil dan aset2 yang lain ya, Mas

    1. Mendingan mobil atau aset lainnya spt tanah, logam mulia yg dijadikan agunan utk dapat utangan, mbak. Kalau rumah yg ditempati dijadikan jaminan, kasihan sama anak2 dan istrinya kalau sampai terusir karena disita.

  2. Kejadian ini sam dengan yang dialami tetangga saya. Kena investasi bodong gara-gara nggak cek ricek. Padahal itu dipotongin dari gaji dia. Akhirny ngutang sana sini

    1. Investasi yg menjanjikan hasil tinggi dalam jangka pendek memang perlu dicermati ya, mbak.

      Bulan2 awal hasilnya menggiurkan. Padahal ini adalah jebakan spy investor tertarik menanamkan uangnya lebih banyak lg.

  3. suka banget sharingnya….:)
    dari modelnya yg usaha ini dan itu udah bisa ditebak deh ujung2nya kejerat utang. satu pertanda dia juga: gak konsisten usaha. banyak lompatannya. gonta ganti. gak konsist satu ampe mateng jalan baru konses lain. tapi yah susah juga sih …
    naudzubilla min dzalik

    1. Iya, mbak. Kalo aku ora kuat sama modalnya itu, lho. Banyak banget. Sampai harus nyediain ratusan juta. Kalau berhasil dapatnya memang banyak. Tapi kalo gagal, siap2 bangkrut deh.

  4. Hmm, filosofi Jawa luar biasa ya Pak. Sangat relevan utkj kondisi kapanpun dan dimanapun. Tetangga saya juga ada yang kayak begini. Good luck utk kontes keren ini ya pak.

    1. filosofi yg mengajarkan kita juga untuk merencanakan dgn benar. sebelum kita memasang empyak, cagaknya harus dibuat kokoh dulu. supaya rumahnya nggak ambruk. makasih ya๐Ÿ™‚

  5. Kalau wirausahawan mmg sering ngalamin yg kayak gitu pak. Tetangga saya ada juga yg begitu, dia sampe berulang kali harus pindah rumah dan jual asset karena proyeknya gagal atau dananya gak cair2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s