Kenapa nggak dari Dulu Belajar bahasa Mandarin?

Bahasa internasional apa yang perlu dikuasai selain bahasa Inggris? Mungkin jawabannya bahasa Jerman, Perancis, Jepang atau Arab. Nggak salah. Namun untuk saat ini dan masa yang akan datang, bahasa Mandarin yang diperlukan. Bukan berarti bahasa-bahasa yang saya sebutkan tadi tidak penting lho.

Waktu masih jadi pemimpin Jawa Pos, Dahlan Iskan sampai mengundang orang khusus ke kantornya tiap hari untuk kursus privat bahasa Mandarin. Padahal umurnya sudah nggak muda lagi.

Tiap hari orang itu disuruh ngomong bahasa Mandarin. Dahlan Iskan mendengarkan dan setelah itu gantian dia yang ngomong. Nggak heran kalau sekarang Dahlan Iskan cukup fasih bicara Mandarin. Nggak percaya? Bisa dilihat di You Tube ketika jadi Dirut PLN dia diwawancarai menggunakan bahasa Mandarin oleh Metro TV.

Demikian salah satu poin yang diceritakan bos kemarin. Bos yang keturunan etnis Tionghoa itu sedikit menguasai bahasa Mandarin. Kalau berbicara dengan sesama etnis yang bisa Mandarin, biasanya dia menggunakan bahasa Mandarin.

Namun bukan berarti semua etnis Tionghoa bisa bahasa Mandarin, lho. Buktinya, anak bos sendiri yang lulusan Bachelor of Art dari Amerika malah dianjurkan supaya pergi ke Tiongkok selama 1 tahun. Khusus untuk belajar ngomong bahasa Mandarin. Kalau cuma enam bulan disana nggak cukup. Minimal harus satu tahun, supaya bicaranya lancar.

Kalau disamakan dengan kita orang Indonesia, bahasa Mandarin itu bahasa nasional. Sama seperti bahasa Indonesia. Dan nggak semua orang Indonesia lancar bicara bahasa Indonesia. Ada yang karena orangtuanya tinggal di luar negeri, anak-anaknya lebih lancar bicara bahasa nasional negara itu dibandingkan bicara bahasa Indonesia. Ada juga yang tinggal di Indonesia, karena tiap hari sejak kecil dibiasakan pakai bahasa daerah, akhirnya penguasaan kosa kata bahasa Indonesianya terbatas.

Nggak salah memang apa yang dikatakan bos. Kanjeng Nabi Muhammad saja pernah menyampaikan supaya kita menuntut ilmu sampai ke negeri Cina-sekarang Tiongkok. Kalimat yang diucapkan nabi itu mengandung dua makna. Arti kiasan dan arti sebenarnya.

Arti kiasannya adalah anjuran untuk menuntut ilmu hingga ke tempat atau negara lain. Belajarlah kemana pun meski harus pergi jauh dari tempat tinggalmu. Merantaulah. Arti sebenarnya bisa ditafsirkan bahwa Nabi Muhammad mengetahui dan mengakui bahwa saat itu teknologi, budaya, perdagangan dan peradaban di Tiongkok sudah lebih maju dibandingkan di Arab. Oleh karena itu dianjurkan supaya umatnya belajar ilmu apa saja yang menjadi keunggulan bangsa Tiongkok.

Nah, kalau kita disuruh menuntut ilmu hingga ke negeri Tiongkok, berarti mau nggak mau, suka nggak suka secara tersirat juga disuruh mempelajari bahasanya. Sama halnya kalau kita mau pergi ke Mekkah untuk berdagang, dianjurkan ya sedikit-sedikit bisa bahasa Arab. Mau pergi ke Tokyo untuk melancong, ya paling tidak bisa bilang arigato kalau ada orang di sana menolong kita. Karena nggak semua orang Arab dan orang Jepang bisa bahasa Inggris.

Apalagi dengan kemajuan negeri Tiongkok sekarang yang sudah bersiap-siap untuk menyalip negeri paman Sam. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, kemajuan teknologi, olahraga, dan produk-produk dalam negerinya, Tiongkok sudah merajai semuanya.

“Anak pak Yudi sekarang yang besar umur berapa?”tanya bos

“Enam belas tahun, Pak”

“Sudah terlambat. Kalau adiknya?”

“Tiga belas tahun, Pak”

“Nah, kasih tahu dia sama adik-adiknya. Selain bahasa Inggris, belajar juga bahasa Mandarin. Nggak ada ruginya kok untuk mereka”

“Oh, begitu ya, Pak”

“Jangan seperti anak saya, sudah dikasih tahu sejak TK supaya belajar Mandarin, tapi nggak diperhatikan”

Sambil mengangguk-angguk, dalam hati saya berkata,”Seandainya saya sejak lama tahu pentingnya bisa bahasa Mandarin”

Xiexie nin

Iklan

10 pemikiran pada “Kenapa nggak dari Dulu Belajar bahasa Mandarin?

    1. Saya dengar dari anak saya jg begitu. Beda intonasi bisa beda artinya………… Mungkin metode pak Dahlan Iskan perlu dicontoh ya. Langsung praktek ngomong.

  1. Saya pernah belajar Bahasa Jepang, Pak pas SMA. Karena memang saya jurusan Bahasa dan Bahasa Jepang masuk dalam kurikulum. Tapi setelah lulus, saya nggak pernah belajar lagi, jadi lupa deh sekarang.. hehe 😀

    1. Mungkin karena jarang digunakan dalam percakapan ya, jadi lupa. Btw, kalau kerjanya di biro travel, bisa bahasa asing kayaknya perlu lho. Siapa tahu ada turis Jepang yg ikut tur 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s