Haji Backpacker : Liku-liku Perjalanan Memahami Rencana Tuhan

poster-haji-backpacker

Sepasang calon pengantin sibuk mempersiapkan undangan pernikahan. Sang pengantin pria, Mada (Abimana Aryasatya) terlihat ceria menulis nama-nama tamu. Menempelkannya dalam kartu undangan dan memasukkannya dalam sampul plastik. Berbeda dengan pasangannya, Sophia (Dewi Sandra) yang terlihat muram. Tak terlihat keceriaan seperti wanita lainnya yang menuju pelaminan.

Adegan dilanjutkan arak-arakan pengantin pria dan keluarganya mendatangi rumah pengantin wanita. Senyuman Mada tak lepas dari bibirnya menuju rumah Sophia untuk ijab qabul. Penghulu pun telah hadir, acara siap dimulai. Menit-demi menit berlalu, namun sang mempelai wanita tak juga kunjung keluar dari kamarnya. Akhirnya Mada bersama beberapa orang mendatangi kamar Sophia. Mengetuk pintu berulang kali. Tak ada jawaban sama sekali.

Seperti tak bersabar lagi, pintu pun didobrak dan terbuka. Wajah Mada menunjukkan ekspresi tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak ada Sophia di dalam kamar, dia bergegas menuju jendela dan dijumpainya gulungan kain yang digunakan Sophia untuk kabur dari rumah. Ijab qabul pernikahan yang direncanakan gagal total. Mada malu bukan kepalang. Menyalahkan Tuhan kenapa rencana pernikahan dengan Sophia yang menurutnya sudah direstui Tuhan akhirnya berantakan. Direstui dalam arti dia dipertemukan dengan Sophia, seorang pedagang baju di pasar, berkenalan hingga berencana untuk membina sebuah keluarga. Namun pada saat hari H pernikahan justru Sophia kabur dari rumah.

Inilah sebenarnya plot utama dalam cerita film Haji Backpacker yang saya tonton bersama istri, Aysha, Andra dan Nabil 8 Oktober yang lalu. Sebuah kekecewaan terbesar dalam diri Mada yang menyebabkan dia pergi dari rumah dan memutuskan meninggalkan Indonesia. Berpetualang ke Thailand, Vietnam, Tiongkok, Nepal, Tibet, India, Iran hingga Arab Saudi.

Sejak itu Mada mulai meninggalkan perintah Tuhan, tak pernah lagi sholat dan membaca Al Quran. Bahkan ketika dia berada di Thailand dan diminta kakaknya untuk melakukan shalat ghaib di masjid untuk ayahnya yang meninggal, dia ogah-ogahan.

Untuk melampiaskan kekesalannya, di negeri gajah putih ini Mada bersama teman bulenya menikmati dunia malam dan minum-minuman keras di Pattaya. Pulang dalam keadaan teler, teman bulenya mengambil dompet Mada dan melihat-lihat isinya. Mada nggak terima dan karena berebut, dompet itu pun terjatuh tepat di meja para preman kota Bangkok. Perkelahian tak terhindarkan ketika kepala preman nggak mau mengembalikan dompet Mada.

Dengan keterampilan bela diri yang dimiliki Mada, akhirnya dia berhasil membunuh sang preman dengan mematahkan lehernya. Eh, adegannya agak nggak nyambung, lha wong dia dalam keadaan mabuk kok masih bisa bela diri. Apa pengaruh alkoholnya sudah berkurang ya? Di kota ini pula Mada punya teman cewek, TKW bernama Maryati (Laudya Chyntia Bella), yang nggak tahan lagi bekerja sebagai wanita pemijat dan ingin pulang ke Indonesia. Seringkali ketika punya masalah, Mada datang dan tidur di tempat kerja Maryati yang punya nama populer Marble.

Berita pembunuhan kepala preman oleh warga Indonesia pun tersebar. Staf Kedubes Indonesia yang ikut jamaah shalat qhaib menasehati Mada supaya segera pergi dari Thailand. Akhirnya Mada kabur ke Vietnam. Luka goresan belati di perutnya mulai memperparah fisik Mada.

Tak punya uang banyak ia pun menggelandang dan tidur di taman kota Hanoi. Kondisi fisiknya semakin parah, badannya demam dan menggigil hingga suaranya membangunkan wanita gelandangan yang tidur di bangku taman di sampingnya. Beruntunglah, wanita gelandangan itu punya obat penurun panas dan meminumkannya ke Mada dibantu gelandangan lainnya. Saya pikir waktu itu adegan berikutnnya adalah wanita gelandangan itu akan minta kawannya untuk cari kendaraan dan membawa Mada ke rumah sakit atau dokter.

Karena uang makin menipis, Mada pun bekerja jadi kuli di Vietnam. Kerjaannya memindahkan barang dari toko ke truk. Tidurnya berpindah-pindah. Dari bangku taman, emperan toko hingga di dalam kotak kardus di pasar. Tak disangka oleh Mada, rupanya kotak-kotak kardus itu yang membawanya ke Tiongkok. Mada yang tertidur di salah satu kotak kardus juga diangkut ke truk.

Inilah salah satu kejanggalaan dalam film ini. Yang menjadi tanda tanya adalah mengapa orang-orang yang mengangkut kardus ke dalam truk tidak merasa aneh dengan isi kardus. Kalau seseorang kerjaannya sehari-hari mengangkat kotak kardus, tentu dia akan merasakan perbedaaan. Karena bila kardus berisi barang biasanya di dalamnya diberi ganjal busa atau kayu sehingga posisinya tidak bergeser ketika diangkat. Tapi kalau isinya orang yang sedang tidur dan tidak ada ganjalnya, waktu diangkat apalagi kardusnya miring tentu akan bergeser.

Sesampainya di Tiongkok, Mada dalam kondisi tertidur di sebuah rumah imam masjid  di wilayah Lijiang yang mayoritas muslim. Tokoh agama tersebut ternyata juga seorang tabib yang membantu penyembuhan luka di perut Mada. Dia punya anak perempuan cantik, Suchun, yang diperankan oleh Laura Basuki.

Di sini saya salut dengan akting kemampuan bahasa Mandarin Laura Basuki. Karena sang ayah adalah warga Tiongkok, ketika berbicara dengan ayahnya dia harus menggunakan bahasa Mandarin. Dia juga menjadi penerjemah bagi Mada dan ayahnya ketika berbicara. Mada nggak bisa bahasa Mandarin, tapi bisa bahasa Inggris. Sementara ayahnya hanya bisa bahasa Mandarin. Mungkin benar apa yang dibilang bos saya bahwa sebagian besar rakyat Tiongkok jarang bicara bahasa Inggris, bahkan yang berada di kota besar sekalipun seperti Shanghai.

Sedikit pemandangan alam dan suasana negeri Tiongkok tergambar ketika Mada dan Suchun berjalan-jalan. Hal lain yang bikin saya agak takjub adalah kondisi jalan di wilayah tersebut. Meski berada di perbatasan dengan Vietnam, ternyata wilayah Lijian punya jalan aspal yang mulus dan lebar seperti jalan tol. Kapan ya daerah perbatasan di Indonesia punya jalan seperti itu?

Ini yang bikin saya agak iri. Cuma kalau pemandangan alamnya masih kalah dengan di Indonesia, karena di tepi jalan aspal yang mulus dan lebar itu, kiri-kanannya adalah perbukitan yang gersang. Pemandangannya nyaris seragam. Ada juga adegan yang bikin saya tersenyum ketika melihat dandanan Suchun yang dibantu Mada saat menyabit rumput. Apa memang dandanan wanita di pedesaan seperti itu ketika di ladang? Pakaiannya rapi, necis dan berlipstik seperti menghadiri kondangan.

Di Lijiang ini juga Mada bekerja menjadi penjaga toko milik pamannya Suchun. Dia juga beberapa kali bermimpi terbang dengan balon. Ketika berada di atas masjid, salah satu kubahnya menggores balon sehingga kempes dan Mada terjatuh. Mada tak tahu apa arti mimpi itu, hingga disarankan pemilik toko di sebelah toko pamannya untuk menemui gurunya di India.

Setelah pamit dengan sang paman pemilik toko, Mada pun diberi upah kerja dan melanjutkan perjalanan menuju India. Suasana dan pemandangan khas negeri berikutnya yaitu Nepal dan Tibet diperlihatkan oleh sutradara Daniel Rifki dalam bentuk penduduknya yang sedang menjalankan ritual keagamaan. Satu hal bahwa dua negara tersebut berada di tempat yang tinggi. Perlu jalan menanjak bisa sampai ke tempat ibadah yang juga menjadi obyek wisata.

Di India, Mada berjumpa guru yang sedang dicarinya untuk menafsirkan mimpinya. Baru saja menceritakan sedikit peristiwa yang dialaminya, sang guru sudah bisa menebak jalinan cerita selanjutnya dan menafsirkan mimpi-mimpinya. Di sinilah Mada mulai tersadar, melalui bantuan sang guru sebenarnya Tuhan sedang mempunyai rencana terhadap dirinya.

Rencana yang selama ini tidak selalu sejalan dengan rencananya. Jika rencana Tuhan sejalan dengan rencananya, maka ia akan patuh dengan apa yang diperintahkan. Termasuk ketika ia bertemu dengan Sophia, berkenalan dan merencanakan pernikahan. Namun jika rencana Tuhan berbeda dengan rencananya yaitu ketika acara pernikahannya yang sudah dirancangnya gagal, ia pun mulai meninggalkan perintah Tuhan. Dan ia merasa tidak ada gunanya lagi sholat dan mengaji. Dua hal yang telah diajarkan oleh ayah dan ibunya sejak ia kecil.

Sekali lagi dikisahkan Tuhan memiliki rencana buat Mada ketika dalam perjalanan menggunakan bis dan memasuki Iran. Sebuah jeep berisi orang-orang yang bersenjata mencegat dan memaksa bis untuk berhenti dan satu-persatu penumpang disuruh turun. Semua penumpang lolos kecuali Mada yang dicurigai agen mata-mata Israel yang sedang menyusup. Interogasi dan intimidasi pun dilakukan di sebuah pondok dengan todongan senjata.

Tamparan keras diterima Mada ketika dia ditanya darimana asalnya dan tidak segera menjawab. Dengan suara perlahan Mada menjawab supaya lihat di paspornya. Komandan malah menguliahi Mada dengan banyaknya paspor palsu yang dia punya. Jawaban bahwa dia turis dari Indonesia tetap nggak diterima. Sang komandan tetap tak percaya karena di paspornya tercantum stempel Thailand, Tiongkok, Nepal, Tibet dan India.

Tamparan kedua membuat Mada terjengkang. Sambil menahan marah, pertanyaan dilontarkan sang komandan,

“Apakah kamu muslim?”

“Ya, saya muslim”

Komandan itu mengambil Alquran dan menciumnya. Kemudian meletakkan di meja.

“Baca halaman ini!”ucapnya kepada Mada dengan suara keras.

“Tembak kalau dia nggak bisa baca!”perintahnya kepada pengawal.

Sebelum membaca Mada minta ijin untuk bertayamum. Dengan mengusap kedua tangannya ke meja, Mada mengusap wajah dan lengannya. Dan Al Quran yang sengaja diletakkan oleh komandannya dalam posisi terbalik itu diputar oleh Mada di hadapannya.

Bacaan Yaasin pun dilantunkan Mada dihiasi kenangan ketika dia belajar mengaji pada sang ibu. Sang komandan diam tertunduk menyimak bacaan Mada. Suasana hening. Tak sampai sepuluh ayat, komandan pun berucap,”Cukup. Kamu seorang muslim yang baik. Astaghfirulah. Maafkan aku yang telah bersalah”.

Ini adegan yang membuat saya berkaca-kaca. Suasananya menegangkan. Detik-detik dimana nyawa Mada sudah berada di ujung tanduk. Dengan todongan senjata, tak ada pilihan lain ketika dia harus membaca Al Quran seperti perintah sang komandan. Apa jadinya seandainya Mada tak bisa mengaji dan tak tahu kalau letak Al Quran terbalik? Keterampilan mengaji yang diajarkan sang bunda menjadi jalan penyelamat Mada ketika nyawanya terancam.

Sang komandan pun berbalik sikap. Yang tadinya garang berubah menunjukkan sikap bersahabat, bahkan membantu Mada mencarikan pekerjaan. Dia diterima sebagai tenaga pembersih kapal yang menuju Arab Saudi. Dengan rencana dan pertolongan Tuhan pula akhirnya Mada tiba di Arab Saudi. Beribadah umroh dan berziarah ke makam ayahanda yang meninggal ketika ibadah haji. Sambil menunggu datangnya musim haji, Mada memutuskan untuk bekerja di Arab Saudi.

Apresiasi patut diberikan untuk produser dan sutradara Haji Backpacker. Karena tak mudah menemukan film Indonesia seperti ini yang lokasi syutingnya harus berpindah-pindah di 9 negara. Sebuah film yang tak hanya menyampaikan pesan tentang skenario Tuhan terhadap hambaNya. Namun juga mengajak kita melancong ke negara-negara lain, melihat kondisi alam dan kehidupan masyarakatnya sehari-hari.

Sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=film+haji+backpacker&hl=id&tbm=isch&imgil=CoTp3mvaaVLg0M%253A%253BZs9XnfmGiPpBLM%253Bhttp

Iklan

14 pemikiran pada “Haji Backpacker : Liku-liku Perjalanan Memahami Rencana Tuhan

    1. ya, ceritanya panjang karena plot ceritanya menyesuaikan dengan novelnya…sebenarnya film ini masih bisa dibikin bersambung, karena kisah Mada waktu berada di Arab Saudi kurang terwakili misalkan dia kerja sebagai apa, tinggal dimana 🙂

  1. Asli panjaaaang tenan cerita nya. Tapi sy selesai ngebacanya lho. Keren yah tuh pilm. Masih di bioskop nggak yah? Maklum jarang bgt nonton.

    1. kalau di buku biasanya lebih lengkap ya ceritanya.. saya juga termasuk jarang nonton di bioskop,mbak. sebelum nonton haji backpacker ini terkahir nonton laskar pelangi

      1. Aduh malu…. Smpyn salah, sy selesai kan baca mksude baca tulisane smpyn pak. Bukan novel nya.
        Maluuuu saya. Pilm nya nggak apalagi bukunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s