Pernikahan bukan untuk Menyatukan Dua Hati

“Nyumbangnya yang banyak ya, Mas”suara ibu saya di seberang telepon

“Iya, uangnya sudah disiapkin untuk kotak amal Jumat”jawab saya langsung ingat hari Jumat.

“Maksudnya nyumbang untuk pernikahannya Raffi”kata ibu lagi sambil tertawa. Baru ngeh saya kalau beliau lagi bercanda. Rupanya meski sudah berusia kepala enam, ibu mengikuti juga berita di televisi termasuk pernikahannya Raffi Ahmad dan Nagita Slavina kemarin.

Bulan Oktober atau Dzulhijah ini memang banyak yang menikah. Tiga undangan pernikahan ada di atas meja kerja. Satu dari rekan kerja yang putri sulungnya menikah di Pontianak. Calon suaminya tinggal sekota. Satu lagi undangan dari teman kerja. Dia pulang ke Jogja untuk menikah dengan pujaan hatinya. Satu lagi undangan dari mempelai yang tinggal di kecamatan yang nggak begitu saya kenal. Mungkin dia tahu saya tapi saya yang nggak ingat dan kenal dia.

Melihat undangan pernikahan itu, satu harapan yang ada dalam diri ini. Semoga kedua insan itu dapat menerima perbedaan sifat yang ada dalam hati masing-masing. Pernikahan bukanlah untuk menyatukan dua hati. Namun bagaimana agar masing-masing pihak dapat mengelola perbedaan yang muncul. Diantara dua orang pasti ada banyak persamaan sekaligus perbedaan.

Persamaan sifat ini nggak susah untuk mengelolanya. Namun perbedaan sifat hati lah yang harus pandai-pandai menanganinya. Jika yang satu temperamental, pasangannya harus lebih sabar. Sepanjang tidak bertindak kasar dan menyakiti secara fisik atau merendahkan pasangannya dengan kata-kata, keutuhan rumah tangga masih bisa dipertahankan. Karena bila batu berbenturan dengan batu maka keduanya akan pecah. Atau jika kepala memaksakan membentur tembok, maka kepala akan gegar otak atau minimal pusing tujuh keliling.

Pernikahan juga adalah kemampuan seseorang yang mempunyai sifat ABCDE menoleransi pasangannya yang mempunyai sifat VWXYZ. Nggak mudah untuk memaksa pasangan memiliki sifat seperti kita. Sebaliknya juga bukan perkara gampang bila diri kita harus mengikuti sifat-sifat pasangan. Sepanjang masing-masing pihak berupaya untuk bergerak menuju posisi tengah menuju KLMNO, bahtera rumah tangga akan selamat sampai di tujuan. Meski di tengah samudera hujan badai menerjang.

Pernikahan adalah keikhlasan hati untuk menahan diri dan mendengarkan saat pasangan kita berbicara. Bukannya hanya mau didengarkan namun kurang mau mendengarkan. Bisa jadi banyak masalah rumah tangga muncul karena masing-masing pihak lebih banyak bicara dan cuma mau didengarkan.

Dan menjalani pernikahan juga harus terus belajar bagaimana menjadi suami atau istri yang bertanggung jawab. Menjadi ayah atau kepala keluarga yang baik. Dan untuk belajar bertanggung jawab dan menjadi baik itu nggak ada sekolahnya. Nggak ada kursusnya. Nggak seperti kalau kita ingin bisa bikin rainbow cake, terus ikut kursus membuat kue. Apa ada sih lembaga yang membuka kursus pernikahan?

Nah, karena nggak ada sekolahnya, nggak ada kursusnya, belajarnya otodidak. Kuncinya apa? Mau bertanya, rajin membaca dan bercermin pada kisah orang lain. Dan ada atau nggak ada masalah tetaplah bicara dengan belahan jiwa kita. Jangan saling mendiamkan. Kalau perlu mengalah dan ambil inisiatif untuk mulai bicara. Karena jika merasa gengsi dan saling menunggu, terus kapan berkomunikasinya?

7 pemikiran pada “Pernikahan bukan untuk Menyatukan Dua Hati

  1. saya mau berangkat ke acara nikahan nih siang ini, pak

    semoga para pengantin baru, dan semua pasangan, hidup bahagia bersama pasangan masing-masing, menjadi keluarga samara

  2. Assalamu’alaikum w.w..Mas Hendro..

    Pripun kabare, Mas..? Sehat ke mawon nggih.?

    Kalau menurut saya, justru persamaan sifat dalam rumah tangga itu yang agak susah mengelolanya. Misalnya suami keras kepala istrinya juga demikian, atau sama2 cemburuan, sama2 egois, sama2 pemarah, sama2 pendiam, dst..dst.. Justru persamaan sifat itu kadang malah jadi penyebab perceraian. Kalau pun nggak cerai rumah tanggane kurang harmonis.
    ini sudut pandang saya saja dan setiap orang tentu beda beda..

    O ya, malam pertamanya Raffi- Gigi live stasiun tv mana ya Mas..??

    wkwkwkw…

    1. Wa ‘alaikum salam mas Zainal. Alhamdulillah sae kabaripun. Sampun dangu nboten kepanggih njenengan.

      Iyo,mas, sudut pandang yg tepat. Perbedaan2 itu paribasane tumbu entuk tutup. Karena perbedaan itulah suami istri saling melengkapi. Hahaha…. nek acara sing kuwi mbayare larang🙂

  3. Undangan Kopdar Pontianak.

    Selamat Siang, Dalam Rangka Hari Blogger Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober 2014, Kami dari Relawan TIK Kalbar bermaksud mengadakan sebuah Kopdar Pontianak, dalam kegiatan ini seluruh Blogger akan di ajak menulis dengan tema “Mengapa Saya Menjadi Blogger?” Bagi Blogger yang berada di Luar Kota Pontianak, kami mengajak kalian semua untuk menulis dengan tema “Mengapa Saya Menjadi Blogger” yang dan di Publis serentak pada Tanggal 27 Oktober 2014 Pukul 20:30. kami akan senang sekali apabila anda bisa berpartisipasi

    Demikian undangan ini kami sampaikan, untuk info lengkap silahkan kunjungi http://www.bg-io.com/2014/10/menyambut-moment-hari-blogger-nasional.html

    Salam

    Liu Purnomo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s