Kenapa Keluarga di Negara Barat Jarang Pakai Asisten Rumah Tangga?

Kalau kita lihat film-film barat di televisi, ada satu hal yang terlihat berbeda dengan film atau sinetron di tanah air. Apa itu? Di film barat jarang sekali saya lihat ada Asisten Rumah Tangga (ART) dalam sebuah keluarga. Hayo, ikut memperhatikan juga nggak nih.

Dulu waktu ada film keluarga bagus “The Cosby Show” yang sering saya tonton, nggak ada tuh ART di rumah Pak Huxtable. Semua urusan rumah tangga ya dikerjakan sama Pak Huxtable dan istrinya. Memang sih untuk pekerjaan rumah tangga, mereka juga memiliki peralatan yang lengkap. Semuanya pakai mesin dan serba elektronik. Ada lemari es, mesin cuci, kompor gas, microwave, vacuum cleaner.

Kenapa nggak pakai ART, waktu itu saya pikir karena mereka sudah dididik mandiri sejak kecil. Jadi semua pekerjaan rumah tangga bisa mereka tangani sendiri tanpa bantuan ART. Setiap anggota keluarga termasuk anak-anak sudah tau tugasnya masing-masing. Jadi mereka bisa mandiri walaupun nggak ada ART.

Setelah saya ketemu teman yang sekarang lagi sekolah S3 di Florida AS yang baru saja memberikan workshop di camp, ternyata apa yang saya pikirkan itu nggak sepenuhnya tepat.

Mereka jarang pakai ART karena memang upahnya cukup mahal. Dia cerita profesornya saja kalau mau bersihkan rumah atau menebang pohon dia kerjakan sendiri. Nggak menyuruh orang lain. Sebabnya ya itu tadi, kalau menyuruh orang lain bayarannya mahal. Upahnya bukan lagi harian atau mingguan, tapi dihitung perjam.

Mendengar cerita teman tadi, kita yang tinggal di tanah air dan punya ART di rumah harusnya banyak bersyukur ya. Karena biasanya yang dikerjakan ART di rumah itu seabrek, mulai mencuci dan menyetrika pakaian, menyapu, mengepel, belanja ke pasar, memasak, kadang-kadang juga disuruh jaga anak.

Nah, kalau saatnya dia gajian kemudian kita nggak bayar tepat waktu padahal bayarnya bulanan dan bukan mingguan apalagi per jam, apakah kita sampai hati?

8 pemikiran pada “Kenapa Keluarga di Negara Barat Jarang Pakai Asisten Rumah Tangga?

  1. Kalau teman saya di Eropa, mereka tidak memiliki ART dalam pengertian yang penuh, melainkan petugas kebersihan yang datang sesuai kesepakatan. Tugasnya membersihkan rumah dan apa saja sesuai kesepakatan. Setelah bersih, mereka pulang.
    Pernah teman saya yang orang Indo mengusulkan pada suaminya agar mereka mempekerjakan pembantu dari Semarang asal si cewek. Si cowok ternyata menolak karena menganggap itu bentuk ‘perbudakan’ modern. Tentu pendapatnya bisa kita perdebatkan.
    Namun bagi si cowok, membayar orang untuk mengerjakan begitu banyak pekerjaan tentulah tidak manusiawi. Maka tak heran bila gaji pembantu di sana sangat tinggi.

    Sebaliknya, jadi miris ya kalau di tanah air seperti yang Mas Hendro sebutkan, ART bekerja hampir 24 jam dengan beragam tugas. namun imbalannya tak sepadan, kadang malah telat dibayarkan.
    Konon si suami teman saya itu setuju membawa orang dari Indonesia dengan syarat bahwa selain membantu membantu merawat rumah, dia harus mereka sekolahkan atau kuliahkan sesuai kemampuan, tidak melulu bersih-bersih.
    Demikian terakhir yang saya dengar. Salam dari Bogor🙂

    1. Memang kalo mau memperkerjakan ART, perlu ada kesepakatan dua pihak. Apa yg harus dikerjakan ART dgn berapa upah yg harus dibayar.

      Kemudian apalagi tambahan2 lain yg harus diberikan si pemberi pekerjaan, misalkan dapat THR, ada hari libur dll.

      Diharapkan kalo ada kesepakatan apalagi tertulis, akan lebih baik bagi keduanya. Karena yg terjadi adalah hubungan saling memerlukan. Cuma hal spt ini mungkin belum lazim di tanah air.

      Salam dari Kalimantan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s