Keakraban Belanja di Warung

Satu hal yang nggak kita jumpai dan rasakan saat berbelanja di mall adalah keakraban penjual dan pembeli. Suasana keakraban yang justru akan kita temui saat belanja di warung.

Mall atau supermarket memang nyaman untuk berbelanja. Ruangan full AC, tempat parkir khusus, lantai bersih, barang-barang tersusun rapi dan dipisah tiap kelompok produknya. Pelayannya juga berseragam dengan dandanan dan riasan wajah yang menawan.

Namun dibalik kenyamanan dan gemerlap mall, suasana keakraban tidak terjalin antara pembeli dan penjual. Ini yang saya rasakan ketika membandingkan berbelanja di mall dan di warung.

Karena pagi adalah waktu paling sibuk di rumah, saya dan istri bagi-bagi tugas. Nabil yang kelas 3 SD dan Aysha yang kelas 2 SMP saya antar ke sekolah. Jam 6.15 berangkat dari rumah. 10 menit sudah sampai ke sekolahnya Nabil pakai motor. Andra yang kelas 4 SD diantar mbaknya, Nadia, yang SMA. Nah, istri yang kebagian tugas beres-beres rumah.

Setelah antar Nabil dan Aysha pulangnya mampir ke warung dulu belanja. Ada titipan istri supaya beli tempe, ayam, dan sayur untuk makan siang dan makan malam. Catatan belanja sudah saya bawa.

Sampai di warung, sambil dibantu mbaknya ambil barang saya ditanya,”Lho, ibunya mana pak? Lagi sakit kah?”

Mungkin dia heran kok saya sendiri yang belanja. Biasanya saya yang mengantar istri dan dia yang belanja. Saya cuma lihat-lihat saja di warung sampai istri selesai belanja.

“Ada di rumah, mbak. Ini bagi-bagi tugas. Gantian saya yang belanja habis antar anak sekolah”jawab saya.

“Kalo nggak belanja nggak masak ya, Pak”kata seorang bapak yang juga keluarga dari yang punya warung.

Begitu hapalnya mbak penjual terhadap pembeli yang sering belanja di warungnya. Sekalli nggak belanja saja sudah ditanya. Apalagi beberapa kali nggak beli di warungnya. Pasti suatu saat ketika datang lagi akan ditanya kenapa. Ya, mungkin itu sekadar sapaan atau obrolan biasa. Tapi dalam ilmu manajemen pemasaran atau penjualan, bisa jadi itu sebuah perhatian bagaimana mengikat pelanggan agar tetap loyal.

Saya juga baru tahu dari istri, rupanya orang-orang yang bekerja di warung itu masih ada hubungan saudara. Ada dua mbak-mbak yang kalau dengar logat bicaranya kayaknya dari sekitar Banyumas atau Tegal. Bahasa Melayu Pontianaknya nggak kepas dari logat ngapak-ngapak.

Warung itu memang setiap pagi ramai. Ada ibu-ibu yang habis olahraga mampir dulu belanja. Ada juga ART yang tinggal di seberang warung yang belanja. Biasanya saya parkir kendaraan di depan ART itu tinggal. Ada juga ibu-ibu yang bermobil singgah pas di depan warungnya.

Warung jualannya posisinya bukan di tepi jalan besar. Di belakang ada rumah tinggal yang punya warung dan di depannya ada toko sembako milik warga tionghoa. Informasinya dulu toko sembako itu juga jual sayur, ikan, daging tapi nggak laku. Akhirnya produk-produk itu gantian dijual sama ibu pemilik warung.

“Berapa semuanya, Mbak?”tanya saya sebelum membayar.

“Tiga puluh tujuh ribu, Pak”jawabya sambil menghitung pakai kalkulator warung. Maksud kalkulator warung itu kakulator yang cuma ada tanda tambah, kurang, bagi. Nggak ada fungsi matematika lain kayak sin, cos, tg. Selembar seratusan ribu saya serahkan. Setelah terima kembaliannya saya langsung menuju parkir kendaraan.

“Lho, Pak, ini belanjaannya kok nggak dibawa”kata mbaknya menunjuk kantong kresek hitam di atas meja.

“Astaghfirullah, untung diingatkan, mbak. Kalau sudah sampai rumah baru ingat, bisa balik lagi ke sini”kata saya.

Mbaknya sih cuma senyum-senyum melihat saya hampir saja ketinggalan barang belanjaan.

10 pemikiran pada “Keakraban Belanja di Warung

  1. Iya begitulah. Keakraban serupa jarang terjadi di supermarket, kecuali kalau memang yang jadi kasir teman sendiri atau sudah sangat akrab. Keramahan di supermarket kerap superfisial belaka karena tuntutan pekerjaan, berbeda di warung yang cenderung lebih personal. Malah kadang ada yang kelewat perhatian, sampai saya pernah tersinggung akibat pertanyaan pemilik warung, hehe.

    Kalimat ketiga dari bawah, apakah maksudnya “kantong” Mas bukan kantok?

    Salam dari Bogor🙂

    1. Betul, yg saya rasakan umumnya keramahan penjual di warung lebih tulus daripada di mall atau supermarket…. padahal mereka mungkin nggak pernah dapat pelatihan gimana melayani pembeli atau pelanggan….makasih mas koreksinya🙂

  2. Menarik! Betul sekali. Kisahnya akan srupa jika sudah berkeluarga seperti om, haha tapi kalo saya yang masih mahasiwa, lbih langganan ke warung ramesan atau Angkringan dibanding di food court atau cafetaria. Nuansa keakraban persis seperti yg Om gambarkan.

    Yuk, ttp belanja di warung… Hehehe

    1. Hahaha….sering juga ya ke warung angkringan. Suasananya rileks, makanannya juga lebih murah dan yg bikin gayeng itu ya penjual dan pembeli udah akrab kayak keluarga saja🙂

  3. Wah, akrab banget ya, Pak Hendro.
    Saya juga lebih milih belanja di warung tetangga atau di pasar tradisional, yg kebetulan dekat dg rumah saya.

    Yang saya takutkan itu adalah adanya petuah moyang kita jaman dulu: “Pada saatnya kelak pasar ilang kumandange”.
    Jual beli dalam perdagangan klasik adalah interaksi sosial, tawar-menawar, bersapa, dan ada semangat silaturahim. Itu semua yang membuat pasar terdengar berkumandang.
    Sedangkan mall, super market, hadir dengan harga pas, dan interaksi hanya ada di depan kasir, itupun berupa angka.
    Pasar tradisional akan hilang kumandangnya / kemeriahan sosialnya.
    Semoga kita dikaruniai pemimpin yg kebijakannya pro rakyat, menumbuhkan ekonomi kerakyatan, bukan bermazhab neo liberalisme yang bakal memutilasi pasar-pasar tradisional.

    1. Benar, Pak. Kalau kita sering belanja di warung-warung atau pasar tradisional, secara nggak langsung kita juga membantu mereka, agar tetap bertahan dari serbuan mall, minimarket dan supermarket.

  4. Saya juga kadang lebih suka belanja di pasar daripada di supermarket. Pertama harga,😀, kedua si mamangnya udah hafal gitu… kadang suka dikasih bonus juga. Hahahaha. Tapi memang bener juga sih, kalau si penjualnya menunjukan perhatian sama kita, kita jadi merasa terikat sama mereka😀

    1. salut buat mamang penjual yg hapal sama pembelinya termasuk juga nya, terus dia kasih bonus…hal2 spt itu yg bikin kita kangen belanja di pasar atau warung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s