Sebuah Penyesalan

Saat itu pukul 11.15 WIB. Setelah mentransfer uang di bank syariah, seorang pria bergegas menyusuri jalan menuju toko penjualan handphone dan asesorinya. Jaraknya tak sampai 100 meter dari bank. Sebuah handphone layar sentuh dual simcard seharga satu juta baru saja dia beli online. Ada dua slot simcard di dalamnya. Satu simcard akan dia pindahkan dari hp jadulnya yang cuma bisa untuk telepon dan kirim SMS.

“Mau beli simcard baru, mbak”ujarnya kepada sales di toko yang juga menjual jam tangan dan jam dinding itu.

“Yang biasa atau yang bisa untuk internetan, Pak?”sales itu balik tanya.

“Yang bisa untuk internetan”jawab pria itu.

“Yang bisa internetan tinggal dua biji. Harganya satu enam puluh ribu kuota 2,5 mega dan kalau habis bisa diisi lagi, Pak”sales itu menjelaskan.

“Pilih yang satu ini, Mbak”kata pria itu sambil menunjuk Simcard di tangan kanan sales.

Sesaat ketika pria itu mengambil dompet dari saku belakangnya, seorang pengemis mendekati dan menengadahkan tangan. Pengemis yang masih bocah itu menunggu, hingga akhirnya pria itu memberinya selembar dua ribuan.

Setelah membayar pembelian simcard dia bergegas pulang. Tak sampai lima langkah kakinya beranjak dari toko, matanya tertuju pada seorang ibu di dekat tempat parkir sepeda motor. Ibu tua yang kurus yang baru saja meletakkan dagangannya di lantai. Beberapa sisir pisang diletakkannya di baskom. Pasti ibu itu sebelumnya membawa baskom berisi pisang-pisang itu dengan menyunggi. Menawarkan ke beberapa orang di sepanjang jalan dan berharap ada yang membeli.

Dalam hati pria itu ingin sekali membeli satu-dua sisir pisang untuk dibawa pulang. Membeli sekaligus berniat membantu ibu itu. Agar tak perlu menunggu hingga sore supaya dagangannya terjual habis. Namun hal itu tidak dia lakukan. Dia bergegas pulang ke rumah untuk makan siang.

Dalam perjalanan ke rumah, hatinya berkecamuk bermacam perasaan. Sebuah penyesalan dirasakannya ketika suara hatinya menyindir,”Buat beli simcard saja rela keluar uang enam puluh ribu, tapi buat beli pisang masih mikir-mikir. Buat pengemis yang kerjanya minta-minta cepat ngasihnya, tapi buat ibu yang kerjanya jualan pisang malah berat ngeluarin duit”.

12 pemikiran pada “Sebuah Penyesalan

  1. Itulah, Mas. Saya juga belajar bahwa untuk berbuat baik tidak perlu ditunda-tunda meski itu berarti kehilangan sesuatu terbaik yang kita miliki. Terima kasih atas nasihat ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s