Tas Buat Kerja, Lokal Buatannya

Jpeg

Kalau teman blogger berangkat kerja atau sekolah, tas apa yang sering dibawa? Pastinya sering bawa tas tangan atau ransel. Buat yang kerja di kantoran atau di dalam ruangan memang tas seperti itu yang cocok. Isinya pun nggak jauh-jauh dari laptop, ipad, atau gadget lain dan berkas dokumen. Pokoknya tas dan isinya keren-keren deh.

Beda dengan yang kerja di tengah hutan. Kalau karyawan yang masih di kantoran sih kurang lebih yang dibawa seperti karyawan yang kerja di kota. Tas laptop. Tapi buat teman-teman yang di lapangan, pergi pagi pulang sore tas yang dibawa lain lagi. Seperti yang terlihat di foto di atas. Itu fotonya saya ambil waktu ada tugas dua hari ke lapangan. Jalan-jalan ke hutan, lihat orang kerja sambil nggak lupa motret obyek-obyek yang menarik dan unik.

Salah satunya tas kerja atau orang di lapangan biasa menyebutnya lajung. Kalau yang berukuran besar disebut tengkalang. Kenapa tas tadi saya bilang unik? Karena terbuat dari rotan, artinya bahan bakunya memang dari hutan. 100% asli bahan lokal, bukan impor. Yang kedua, tas itu bukan buatan industri atau pabrik tapi hand made. Tidak semua orang bisa membuat tas seperti itu. Hanya masyarakat atau karyawan yang punya keahlian yang bisa mengerjakannya.

Keahlian itu mulai dari memilih tanaman rotannya, meruncing (meraut rotan sehingga batangnya halus) memakai kaleng yang tutupnya dilubangi sampai menganyam. Biasanya perlu waktu 1-2 minggu untuk membuat sebuah tas seperti itu. Tas rotan itu juga termasuk awet, bisa tahan sampai 3 tahunan. Yang biasanya rusak duluan itu tali pengikatnya. Harganya juga nggak mahal, 60 – 70 ribu rupiah sebiji.

Tas itu juga unik karena biasa dipakai membawa rantang plastik tiga susun, minuman dan buku. Biasanya rantangnya berisi nasi, sayur-mayur dan lauk. Untuk minumannya juga cukup sederhana. Pakai botol plastik yang diisi air putih. Dan satu lagi, tas itu juga berisi buku ekspedisi. Buku yang dipakai mencatat hasil kerja.

IMG_4955

Kalau tas ukuran lebih besar yang biasa disebut tengkalang, biasa dipakai ibu-ibu dari desa waktu jualan sayuran dan hasil kebun lainnya. Mereka naik kendaraan perusahaan dari desa ke camp – camp. Setelah sampai di camp mereka menawarkan dagangannya ke karyawan, keluarga karyawan atau mbak-mbak yang tugas di dapur. Jadi beda dengan di kota. Bukan pembeli yang mendatangi penjual, tapi penjual yang menemui pembelinya.

Tas ukuran besar juga dipakai karyawan di bagian persemaian, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Fungsinya berubah sesuai ukuran. Sering dipakai untuk membawa bibit tanaman atau tanah topsoil. Bisa dibayangkan gimana kerja mereka. Berat dan banyak gerak. Harus jalan kaki naik turun bukit dan memikul tengkalang berisi 10-20 bibit tanaman. Terus mengecer bibit satu per satu untuk ditanam. Namun kerja berat mereka tujuannya mulia. Setelah tanaman tumbuh, tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan, namun juga kehidupan. Menghasilkan udara segar, menyimpan air dan megalirkannya ke sungai-sungai dan membuat pemandangan menjadi indah.

Begitulah kalau bekerja dan tinggal di tengah hutan. Tas kerjanya memang sederhana dan lokal buatannya. Namun, sangat bermanfaat dan ramah lingkungan.

9 pemikiran pada “Tas Buat Kerja, Lokal Buatannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s