Tiga Kali Gagal Beternak Ikan dan Coba yang Keempat Kali

Usaha pertama beternak ikan lele di lahan kosong di belakang kamar gagal. Kolam ikannya dibuat di permukaan tanah. Bukan digali tapi dari kepingan papan yang dibuat berbentuk persegi panjang.Dari 200 ekor yang ditabur di kolam berukuran 2 m x 1 m, setelah 4 bulan tersisa 17 ekor.  Baru saya tahu kalau ikan lele itu punya sifat memangsa ikan lele lainnya yang ukurannya lebih kecil.

Jadi semasa 4 bulan di kolam itu pasti ada yang ukurannya lebih besar dibanding lainnya. Nah, yang ukuran bongsor ini harusnya ditangkap dan digoreng dulu atau dipindahkan ke bak lainnya kalau nggak ingin teman-temannya jadi korban

Setelah kolam dikuras waktu keluarga liburan di camp akhir tahun lalu, saya beli lagi 200 ekor bibit lele. Belinya dari pedagang ikan yang datang ke camp pakai sepeda motor. Nggak hanya bibit lele saja yang dijual, ada juga nila, ikan mas dan bawal. Harganya seekor seukuran kelingking 500 rupiah. Kalau belinya banyak sampai 500 ekor biasanya dikasih diskon. Seekor turun jadi 400 rupiah.

Semua bibit saya tabur lagi di kolam. Nggak diduga mulai hari kedua satu per satu mulai mati. Badannya bengkak-bengkak. Akhirnya dalam waktu seminggu, semua bibit lele mati. Dengan perasaan sedih saya punguti satu persatu dan saya lempar ke bebek punya tetangga. Rupanya bebek-bebek itu senang dapat umpan bagngkai bibit ikan lele. Tiba-tiba perasaan sedih saya berubah senang melihat bebek-bebek itu berebut ikan lele setiap saya lempar ke kandangnya.

Baru saya ketahui dari teman yang pernah ternak ikan lele kalau bibit ikan lele nggak boleh kena air yang baru diisikan ke kolam. Pasti dia akan mati kedinginan. Pantas saja, waktu itu saya isi kolan dengan tambahan air dari bukit. Karena lupa melepaskan slang dari saluran air, kolam ikan itu penuh.

Boleh-boleh saja tambah air baru, tapi jangan terlalu banyak, Usahakan tidak lebih dari jumlah air yang sebelumnya sudah ada di kolam. Itu pelajaran yang saya peroleh. Gagal kedua kali beternak lele, saya coba ganti bibit ikan. Beli bibit bawal 200 ekor seharga 180 ribu rupiah. Harga per ekornya lebih mahal daripada bibit ikan lele. Saya ajak penjualnya ke kolam ikan dan sama-sama menabur bibit bawal ke kolam.

Setelah 3 hari satu demi satu bibit ikannya mulai mati. Kejadian seperti bibit ikan lele terulang kembali. Saya punguti satu per satu bibit yang mati dan saya lempar ke kandang bebek. Akhirnya semua bibit bawal nasibnya sama dengan bibit lele. Mati semua tanpa sisa seekor pun.

Setelah itu saya cari tahu dan baru ngerti kalau untuk pelihara ikan bawal itu beda dengan ikan lele. Ikan lele nggak perlu air mengalir. Dalam kondisi air tergenang dia tetap bisa bertahan hidup. Beda dengan ikan bawal. Ikan bawal perlu perlakuan khusus. Airnya harus selalu mengalir sama seperti kalau pelihara ikan emas. Sekali air macet, alamat satu per satu ikan akan mati mengapung. Kalau ada peribahasa lain lubuk lain ikannya. Yang saya alami itu namanya lain ikan lain perlakuannya.

Tiga kali mencoba beternak ikan, tiga kali pula masih jauh dari sukses. Menyerah? Nggak juga. Ini usaha keempat yang saya lakukan. Kolam diisi air dan dibiarkan seminggu dulu tanpa ikan.

Waktu ada penjual datang saya beli lagi 270 ekor. Sebenarnya rencana cuma mau beli 200 ekor dulu seharga 100 ribu. Tapi penjualnya bilang kalau beli banyak dapat diskon. Namanya penjual ya pasti senang kalau jualannya banyak laku. Saya nggak berani beli banyak banyak. Cukup 250 ekor dulu ditambah bonus 20 ekor, semuanya 100 ribu rupiah.

Hari itu juga ikan saya tabur ke kolam yang airnya penuh dan kasih makan. Lincah sekali gerakannya waktu berenang di kolam. Beberapa hari kemudian, saya lihat kok ada bibit ikan yang loncat-loncat. Walah, rupanya ada “kapal selam” alias ikan lele besar yang nggak tahu gimana bisa masuk di kolam yang baru saya tabur.

Kolam yang saya isi posisinya diapit dua kolam ikan lele juga. Sebenarnya punya saya yang sebelah kiri tapi karena kelamaan nganggur akhirnya sama teman kerja diisi bibit ikan. Mungkin “kapal selam” itu ikan lele besar yang loncat ke kolam yang di tengah.

Tahu ada ikan lele besar, sore itu juga saya kasih tahu teman supaya segera dievakuasi. Awalnya dia nggak percaya. Setelah saya tunjukkan gerakannya di kolam baru dia membenarkan.

Segera kami tangkap dan pisahkan dari ikan lele yang masih kecil-kecil. Kalau nggak ketahuan, bisa-bisa terulang lagi kejadian 200 bibit ditabur, setelah 4 bulan hanya tersisa belasan ekor. Gara-gara dimangsa ikan lele yang besar. Karena susah ditangkap pakai tangan, dia cari serok jaring dari kain. Berdua kami berusaha menangkap dan akhirnya berhasil. “Langsung dieksekusi saja, Pak”katanya melihat saya melepaskan ikan itu dari jaring dan meletakkannya di ember.

Akhirnya malam itu si “kapal selam” langsung dieksekusi. Digoreng untuk lauk makan malam. Meski satu ekor, enak sekali rasanya makan ikan hasil tangkapan sendiri.

Iklan

8 pemikiran pada “Tiga Kali Gagal Beternak Ikan dan Coba yang Keempat Kali

  1. Wah seru sekali ceritanya Pak Yud, nanti diupdate lagi ya Pak setelah beberapa bulan. Luar biasa, sampai 3x mencoba. Kalau perlu air mengalir gitu berarti harus bikin siklus perputaran airnya ya Pak..

    1. Kalo pake tanah yg digali lebih bagus sebenernya Pak. Lebih banyak mikrobanya. Jadi pakan lebih irit karena sudah melimpah pakan alaminya, sekaligus sebagai suplemen. Tapi sebelum diisi bibit, airnya musti didiamkan dulu seminggu atau dua minggu sambil diberi tambahan sisa makanan atau sampah organik pas pertama kali memberi air. Oh ya, ini khusus untuk lele, saya kurang tau kalo untuk jenis ikan yg lain. Tapi emang bener tuh lele itu kanibal. Harus sering dikontrol dan dipisahkan kalo ada yg tidak merata pertumbuhannya.

      1. Wah, banyak juga pengalamannya pelihara ikan ya… Sudah profesional nampaknya atau bahkan sudah taraf skala bisnis, bukan coba2 spt saya. 🙂

        Bikin kolam yg digali itu menarik juga ya. Yg spt itu pernah dicoba sama teman di belakang rumah, cuma kondisi tanahnya berbatu dan batu2nya nggak mudah dipindahkan. Akhirnya pakai cara lain. Bikin di atas tanah pakai papan bekas dan dilapisi terpal plastik….

    2. Sampai dengan hari yg ke-10, bibit ikan yg hidup masih lebih banyak. Yg mati sekitar 9 ekor dan seperti biasa, jadi makanan yg lezat buat bebek2….

      Ya, kalau pelihara ikan bawal, ikan emas atau ikan nila memang spt itu, airnya harus mengalir. Kalau ikan lele airnya nggak mesti mengalir, karena dia masih bisa bertahan. Sesekali aja air yg lama dibuang sebagian dan diganti yg baru… Tertarik ?

  2. beternak ikan gampang2 susah ya pak ..
    dulu pernah punya aquarium.., kl airnya dikuras habis dan ganti air baru semuanya ikan2nya malah teler dan mati
    akhirnya dicoba air diganti cuma sebagian aja.. lebih berumur panjang ikannya

    1. Betul, mbak. saya juga baru dapat ilmunya. Kalau kita mau ganti air di aquarium atau kolam, sisakan sebagian baru diisi air baru. Atau bisa juga diisi air baru tapi dibiarkan dulu 1-2 minggu spt kata mbah Andik. Cara itu bisa mengurangi ikan-ikan yg mati…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s