Membahagiakan Orangtua dengan Cara Sederhana

“Kok Mas Yudhi sekarang nggak pernah komen di BBM”kata ibu mertua ke istri saya.

Mendengar komentar seperti itu dari istri, terus terang saya kaget. Rupanya selama chatting di Black Berry Messenger (BBM), beliau yang biasa disapa eyang putri selalu memperhatikan siapa saja anak-anak dan menantunya yang jarang berkomentar. Salah satunya adalah saya. Selama ini saya memang lebih sering jadi silent reader.

Bagi saya nggak pernah komentar di BBM bukanlah satu masalah, tapi bagi beliau hal itu bisa jadi pertanyaan besar. Ada apa menantuku yang satu ini kok nggak mau komentar lagi? Apa nggak sreg dengan status yang ada? Apa lagi sibuk dengan pekerjaannya? Berbagai pertanyaan muncul dalam hati beliau yang nggak pernah saya pikirkan.

Saya dan keluarga istri memang punya grup di BBM. Sebuah nama grup yang diambil dari nama jalan dimana bapak dan ibu mertua saat ini tinggal, yaitu di daerah Pringwulung, Gejayan, Jogja.

Satu hal yang bikin saya salut dengan beliau adalah semangatnya untuk belajar menggunakan gawai. Terampil upload foto, bikin status dan menanggapi komentar anak-anak dan menantunya. Padahal beliau sudah berumur 65 tahun, tapi masih suka ngobrol di BBM.

Waktu saya tanya sama istri,”Mama bisa BBM-an siapa yang ngajarin?”.

“Belajar sendiri, Mas”jawab istri.

Kegiatan beliau saat ini memang tidak sesibuk seperti saat bapak mertua masih aktif sebagai PNS. Selain chatting sama anak-anak dan menantunya, hari-harinya biasa diisi dengan arisan, pengajian, senam dan merawat rumah.

Beberapa hari lalu, saat beliau upload foto rumah di Jogja, banyak sekali komentar dari anak-anak dan menantunya. Saya pun akhirnya ikut nimbrung dan bilang,

”Lihat rumah itu jadi ingat 18 tahun yang lalu. Ada 3 in 1 di tahun 1997. Bulan Pebruari silaturahmi ke rumah, bertemu eyang putri dan eyang kakung. Mei naik motor berdua sama Nina ke KUA. Puncaknya bulan Juli waktu akad nikah”.

Komentar lanjutan pun bermunculan. Adik istri yang nomor dua bilang,”Nostalgia nih…suit-suit”. Istri dari adik ipar yang bungsu juga nulis,”Salut sama mas Yudhi. Masih ingat dengan kejadian-kejadian kecil masa lalu”.

Nggak cuma itu, saya komentar lagi,”Sekarang sih komunikasi enak ya. Bisa pakai BBM, WA atau email. Dulu kami berdua pakai surat-suratan yang ditulis tangan. Nunggu balasannya bisa sampai dua minggu. Tapi anehnya waktu terima surat, hati kok berdebar-debar ya. Sampai sekarang surat itu masih saya simpan, lho” .

Tanpa diduga ibu mertua langsung menanggapi,”Nanti kalau ke Jogja, bawakan suratnya yang bisa bikin hati Mas Yudhi berdebar-debar, ya. Saya kok pingin baca”. Hah.

Ramai sekali tanggapan di grup. Yang bikin istri saya tertawa ketika membaca komentar dari istri adik bungsunya yang tinggal di Jakarta,“Mama kok kepo bingiits sih”.

Akhirnya beliau komentar lagi,”Tadi itu cuma guyon. Kalau kata orang Jogja biar tambah gayeng ngobrolnya”. Oh, rupanya ibunda lagi bercanda, saya pikir serius.

Baru saya sadari, ternyata perhatian yang kita anggap sepele buat orangtua, merupakan hadiah tak ternilai yang dapat membahagiakannya. Meski hanya memberikan komentar dan ngobrol di BBM, sudah lebih dari cukup untuk menghibur dan menyenangkan hatinya.

Iklan

7 pemikiran pada “Membahagiakan Orangtua dengan Cara Sederhana

    1. Ya, pak Iwan. Di saat anak-anaknya telah bekerja dan berkeluarga, saya yakin orangtua tetap mengharapkan perhatian mereka meski hanya sekadar menyapa, menelepon atau ngobrol di media sosial.

    1. Bagi yg tinggal berjauhan dari orangtua seperti saya dan keluarga, fungsi gawai penting sekali, bro. Minimal untuk mengetahui kabar orangtua dan tetap bisa komunikasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s