Jangan Remehkan Ibu Rumah Tangga

Saya masih ingat ucapan kolega di kantor yang mempertanyakan kenapa istri tidak bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Kolega yang menjadi sekretaris pimpinan itu bilang,”Sudah sekolah dan lulus S1, sayang kalau istrimu nggak kerja”.

Sebenarnya waktu sebelum menikah, istri sempat kerja di salah satu lembaga komputer di Jakarta. Setelah menikah, dia memutuskan ikut saya dan menetap di Pontianak. Secara hitung-hitungan materi apa yang dikatakan kolega di kantor itu benar. Sekolah sampai perguruan tinggi, setelah lulus dan menikah kok jadi ibu rumah tangga. Dalam benaknya, yang namanya lulusan S1 itu seharusnya bekerja seperti dirinya dan punya penghasilan sendiri.

Setelah menjalani kehidupan berumah tangga selama 17 tahun dan dikarunia empat orang anak, barulah saya menyadari betapa pentingnya peran seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya meski dia seorang ibu rumah tangga. Ada banyak hal yang saya amati, cerita yang saya dapat dari anak-anak dan istri yang mungkin itu adalah suatu keberkahan bagi keluarga kami.

Seperti halnya wanita-wanita yang bekerja yang harus bangun pagi supaya tidak terlambat sampai ke kantor, demikian juga dengan istri saya. Kesibukan sudah dimulai sejak jam 4 pagi untuk menyiapkan sarapan dan sesekali mengawasi anak yang lagi belajar.

Setelah mengantar dua anak ke sekolah dan kembali ke rumah, terus memasak lagi untuk makan siang di rumah dan menyiapkan bekal makan siang di sekolah, karena ada dua anak yang pulang sekolahnya jam 3. Mengenai bekal makan siang ini ada cerita menarik dari Dea, anak sulung yang saat ini kelas 11.

Pada hari tertentu, dia membawa bekal makan siang karena setelah selesai belajar di sekolah biasanya dilanjutkan latihan paskibra. Bekal yang dimasak dan disiapkan oleh istri dari rumah dan bukan bekal makanan yang dibeli dari warung atau pesan catering. Saat makan siang tiba, teman-temannya ikut mencicipi dan langsung berkomentar,

”Siapa yang masak ini?’

“Mamaku yang masak”jawab Dea

“Mamamu? Enak masakannya”kata temannya

Mereka heran kalau mamanya Dea masih sempat membuatkan bekal untuk makan siang selain menyiapkan sarapan. Bagi mereka, menikmati bekal makan siang yang dimasak ibunya adalah suatu hal yang jarang dialami karena kesibukan ibunya bekerja.

Tak hanya itu, ketika mengantar Dea ke sekolah, ada juga temannya yang menanyakan,”

“Itu yang mengantar siapa? Kakak kau, kah?”

‘Bukan, itu mamaku”kata Dea.

Kenapa teman Dea menduga seperti itu? Bisa jadi dia melihat wajah istri yang kelihatan awet muda meski umurnya sudah kepala empat.

Kesibukan ibu rumah tangga tidak hanya urusan menyiapkan makanan untuk anak-anak, tapi juga ketika menemani anak-anak belajar. Sering saya lihat istri di rumah menjelaskan lagi pelajaran buat Dea, Caca, Andra dan Nabil sambil menuliskannya di papan tulis kecil. Kalau ada PR yang soal-soalnya nggak bisa dijawab biasanya baru diserahkan ke saya. Seperti ketika Caca yang kelas 8 mengerjakan PR aljabar. Ada beberapa soal yang nggak dimengerti. Akhirnya saya yang turun tangan dan menjelaskan tahap demi tahap jawabannya.

Orangtua sekarang tampaknya memang nggak bisa lepas tanggungjawab kalau anak-anaknya mengalami kesulitan mengerjakan PR. Bukannya memanjakan anak, tapi yang lebih penting adalah perhatian orangtua  saat anaknya kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah. Lebih penting lagi adalah ketika orangtua mengajari anaknya, yang diutamakan adalah proses dan tahap-tahapnya. Cara seperti itu akan memberikan pemahaman yang akan diingat oleh anak-anak.

Satu hal lagi peran ibu rumah tangga yang tidak bisa dianggap sepele adalah menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya. Kesediaan meluangkan waktu untuk mendengar keluh-kesah anak-anak. Terkadang untuk hal yang satu ini,  istri lebih memposisikan diri sebagai temannya anak-anak. Seperti yang pernah dikeluhkan Caca ketika waktu ujian ada temannya yang mencontek. Istri langsung bilang,”Nggak usah ikut-ikutan temannya. Nanti dia sendiri yang rugi”.

Yang agak repot bagi istri justru kalau anak-anak cenderung diam dan nggak mau cerita. Seperti anak ketiga, Andra, yang nggak mau banyak cerita. Setelah tahu anaknya punya sifat seperti itu, akhirnya istri yang berinisiatip bertanya. Itupun ditanyakan berulang-ulang, baru anaknya mau menjawab. Tiap anak memang punya sifat yang berbeda-beda dan perlu cara tersendiri untuk menanganinya.

Melihat apa yang dilakukan oleh istri di rumah, kalau ada sebagian orang berpendapat bahwa istri yang tidak bekerja itu tidak produktif, hanya menghabiskan waktunya untuk bergosip dan kegiatan yang tidak bermanfaat tampaknya tidak sepenuhnya benar.

5 pemikiran pada “Jangan Remehkan Ibu Rumah Tangga

  1. Setuju sekali, Pak Yudhi.
    Menurut saya, lebih tepatnya itu disebut Ibu Rumah Tangga Profesional. Karena mengelola rumah tangga secara profesional, bertanggung jawab atas segala hal yang ada di dalamnya, untuk mencetak alumni anak-anak shalih, cerdas, dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s