Diskusi Pilihan Studi buat Dea

Si sulung Dea memang masih kelas XI. Kalau sekarang istilah kelasnya lebih simpel. Sebutan kelasnya meneruskan dari kelas VI sampai kelas XII. Dulu jaman saya disebut kelas 2 SMA. Waktu saya masih SMP kalau ditanya kelas berapa, jawabnya ya kelas 1, 2 atau 3. Juga waktu di SMA.

Meski baru kelas XI, tapi sekarang Dea sudah mulai siap-siap milih fakultas atau jurusan untuk SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kalau dulu istilahnya jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Artinya, anak-anak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri tanpa harus mengikuti ujian tertulis. Kalau nggak lolos PMDK, ikut SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Yang ikut tes ini bisa saja lulusan baru atau lulusan yang tahun sebelumnya nggak diterima di kampus yang diidam-idamkan.

Jadi kilas balik deh waktu dulu ikut ujian tertulis. Waktu itu tahun 1989, untuk ikut SIPENMARU saya harus beli formulir IPA karena memilih dua fakultas di perguruan tinggi yang berbeda. Beli formulirnya harus antri di kampus tempat kita akan ikut tes. Harga formulir IPA dan IPS sama, tapi  formulir IPC lebih mahal karena bisa memilih tiga fakultas atau jurusan.

Setelah beli formulir lalu kita isi dan diserahkan kembali. Kemudian kita akan dapat nomor ujian dan lokasinya. Satu hari sebelumnya saya perlu cek dulu lokasinya. Jadi waktu hari H nggak perlu cari-cari lagi. Ada beberapa gedung fakultas yang digunakan untuk ujian penerimaan mahasiswa baru selama dua hari.

Kalau lewat jalur PMDK, nggak perlu ikut tes masal seperti itu. Anak-anak yang diterima di jalur PMDK salah satu syaratnya memiliki rata-rata nilai rapor semester 1-5 yang stabil. Tidak naik turun seperti roller coaster. Pertimbangan lain adalah rekam jejak kakak kelasnya yang diterima di jalur PMDK di perguruan tinggi itu.

Kalau ada kakak kelas yang diterima di fakultas A namun pada saat daftar ulang tidak datang, sekolah bisa diblacklist. Bisa saja pada tahun berikutnya kampus tidak akan menerima adik kelasnya lewat jalur PMDK.

Saat ini istilah PMDK sudah digantikan dengan SNMPTN. Prosedurnya hampir sama dengan jalur PMDK. Nilai rapor rata-rata dan rekam jejak kakak kelas menjadi pertimbangan.

Pada awalnya Dea ingin mendaftar psikologi di salah satu PTN di Jogja. Namun ada aturan bahwa pilihan fakultas atau jurusan harus sesuai dengan jurusan di SMU. Artinya kalau sekarang Dea ambil jurusan IPA, fakultas yang dipilih harus yang berbasis ilmu eksakta. Tidak bisa memilih jurusan atau fakultas berbasis ilmu sosial atau ekonomi. Akhirnya pilihan perguruan tingginya yang berubah. Tetap memilih psikologi tapi di PTN lain yang menerima dari jurusan IPA.

Hal-hal seperti ini yang saya dan mamanya Dea sering diskusikan. Keputusan akhir memang ada di tangan anak. Namun sebagai orangtua kita juga perlu tahun dan mengikuti perkembangan studinya.

8 pemikiran pada “Diskusi Pilihan Studi buat Dea

  1. Kebetulan saya juga prnah ada pengalaman teman yang mendaftar di P TN, hanya karena ada beasiswa dia ikut. Mohon agar Kang Yudhi tetap memberi kebebasan memiliha pada anak, tentunya yang sesuai minat dan bakat. Seperti teman saya yang sekarang malah pusing, gara-gara dia masuk jurusan komunikasi, eh! di tengah jalan ambil enginering karena ada biasiswa. sekarang dia jadi serba salah dan nggak menikmati pekerjaannya.😦 sangat disayangkan!
    :3 saya do’akan semoga Dea bisa lulus dengan sukses dan masuk ke Univ yang diinginkn!
    :p kok namanya dea? jangan2 artis dea imut ya om?! :p wkwkwk

    1. Makasih, mas Rifai. Sejak awal Dea memang ingin banget diterima di psikologi. Pernah berubah pikiran juga mau milih program studi ekonomi manajemen. Tapi terakhir waktu ngobrol sama ibunya, pilihan pertamanya tetap di psikologi.

      Sebenarnya namanya Nadia. Di keluarga biasa dipanggil dgn Dea. Saya juga nggak tahu kenapa dia ingin jadi psikolog. Mungkin karena ingin bantu orang2 yang kena stress 🙂

      1. -_- Kang Yudhi ini mah ngasal aja soal alasan anaknya :p wkwkwk yaa mungkin dia melihat peluang kerjanya di Psikolog itu ada hubungan dengan kemanusiaan astilahnya humanis gitu lah! kan bisa juga jadi guru BK,😀
        Yang perlu dilihat itu passion/kesukaan Kang… alhamdulillah kalo anaknya suka itu, nanti ketika dia kerja dia akan menjalaninya dnegan rasa “suka” bukannya terpaksa..🙂

      2. Ya, kayaknya dia punya kesukaan di bidang itu….aktif di organisasi dan punya teman banyak… rasa solidaritas thd teman2nya juga tinggi. Mungkin itu yg bikin dia pilih psikologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s