Kita Sebenarnya Memerlukan Puasa

Kita perlu bersyukur kepada Allah karena masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan di tahun ini.

Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, rahmah dan ampunan. Allah menyediakan satu bulan dalam satu tahun sebagai pelatihan bagi kita untuk mengendalikan diri dari nafsu duniawi. Nafsu yang dapat menggelincirkan diri kita dari derajad ahsani taqwiim atau sebaik-baik bentuk makhluk ciptaan Allah menjadi tingkatan yang asfala saafiliin alias yang serendah-rendahnya.

Puasa di bulan Ramadhan adalah metode pelatihan yang efektif untuk mengingatkan kita akan pentingnya pengendalian diri.

Puasa adalah cara yang ampuh untuk menahan diri dari luapan emosi yang muncul secara spontan dan sesaat. Luapan emosi yang akhirnya merugikan diri kita sendiri dan membuat kita menyesal. Puasa kita perlukan saat kita menghadapi berbagai permasalahan di rumah, di tempat kerja, di jalanan, di dalam kendaraan umum bahkan ketika kita sendirian. Apa jadinya ketika kita menghadapi semua masalah tanpa kemampuan untuk menahan dan mengendalikan diri? Betapa banyak masalah terjadi akibat kurang mampunya diri kita dalam mengendalikan diri.

Ya, makna puasa sejatinya adalah menahan atau mengendalikan. Menahan diri untuk tidak berbuat yang membatalkan puasa dan pahalanya. Menahan untuk tidak makan dan minum hingga tiba waktunya. Menahan diri untuk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Mengendalikan diri agar tidak sering berpikir negatif terhadap apa yang terjadi pada diri kita.

Berprasangka buruk dan berpikir negatip adalah dua hal yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa dan raga kita. Apakah berprasangka buruk dan berpikir negatif  dapat berpengaruh bagi kesehatan diri kita? Jawabannya adalah ya. Bila kita sering berprasangka jelek dengan orang lain, maka hormon pemicu stres dalam tubuh kita akan meningkat.

Bila kita sering berpikir negatif terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, maka tingkat kekebalan tubuh kita akan menurun. Oleh karena itu, tidak heran bila seseorang yang banyak berprasangka buruk dan berpikir negatip, lebih mudah jatuh sakit dibandingkan orang-orang yang lebih berpikir positip dan berprasangka baik.

Puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan prasangka buruk dan berpikir negatip. Tidak hanya raga kita saja yang berpuasa dari makan dan minum. Pikiran kita juga perlu berpuasa dari hal-hal negatip, seperti rasa pesimis, putus asa dan tak berpengharapan. Hati kita juga harus dipuasai dari sifat yang merusak mental seperti iri, dengki dan dendam.

Oleh karena itu berterima kasih lah kepada Allah yang telah menciptakan metode pelatihan pengendalian diri yang efektif secara gratis. Kalau kita ikut pelatihan atau seminar tentang pengendalian diri biasanya kita harus bayar, lho. Tapi latihan pengendalian diri dengan puasa ini gratis. Nggak ada mentornya, nggak ada coachnya. Juga nggak dapat sertifikat kalau sudah selesai pelatihan. Semuanya dikembalikan pada diri kita yang menjalaninya.

Kita diwajibkan berpuasa bukan hanya bentuk ketaatan kita kepadaNya. Puasa yang kita lakukan tidak hanya sebagai tanda bukti kita telah menjalankan ajaran agama. Namun, sebenarnya diri kita lah yang memetik banyak manfaat puasa. Kita membutuhkan puasa bagi kesehatan jiwa dan pikiran kita.

2 pemikiran pada “Kita Sebenarnya Memerlukan Puasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s