Dari Hutan Meranti ke Hutan Pinus

Jpeg
Jpeg

“Jadi kita sepakat ya wisata ke hutan Pinus di daerah Imogiri”kata salah salah satu adik ipar yang tinggal di Jakarta.

Pertemuan keluarga dua hari setelah lebaran itu akhirnya memutuskan tujuan wisata yang disepakati adalah melihat hutan Pinus di daerah Imogiri, Bantul.

Saya yang ikut hadir sebenarnya ingin wisata lain seperti Banyu Mili atau Edu Park. Dua tempat wisata yang belum pernah saya, istri dan anak-anak datangi. Tapi rupanya adik-adik ipar hampir semuanya pernah ke situ. Harap maklum saja karena mereka tinggal di kota-kota di Jawa. Jadi mengunjungi tempat seperti itu sudah biasa.

Beda dengan saya dan keluarga yang tinggal di Pontianak. Saya yang sehari-hari kerja di hutan, ingin sekali wisata yang bukan melihat hutan lagi deh. Apalagi waktu akhir tahun yang lalu, keluarga juga sudah liburan ke camp.
Namun yang namanya keputusan ya harus diikuti. Saya kalah suara waktu diadakan pemungutan suara menentukan lokasi mana yang akan dikunjungi. Semuanya setuju mau jalan-jalan ke hutan Pinus. Padahal waktu itu saya sampaikan juga kalau selepas dari Jogja, jalan ke lokasi wisata itu menanjak. Jadi kendaraan harus benar-benar prima. Tapi mereka tetap ingin melancong melihat hutan.

Akhirnya, menggunakan tiga mobil rombongan keluarga meluncur Imogiri. Ada empat keluarga yang ikut. Total semuanya ada 16 orang. Eyang putri dan eyang kakung nggak bisa ikut karena masih ada acara lain. Waktu masih kuliah dulu, saya pernah juga ke lokasi itu. Karena sudah lama nggak keliling-keling jogja, rutenya agak lupa. Makanya waktu bawa mobil, saya nggak duluan tapi di posisi kedua. Mobil pertama dibawa adik ipar yang dari Jakarta, sedangkan mobil ketiga disupiri adik yang dari Kroya.

Dari Jogja ke lokasi hutan Pinus Imogiri waktu tempuhnya sekitar satu jam. Sampai di areal dituju, mobil langsung masuk ke tempat parkir. Perjalanan selama memasuki jalan tanjakan harus konsentrasi penuh. Selain menanjak, jalannya juga banyak tikungan dan kelokan yang kalau supir tidak gesit mengoper gigi, mobil bisa mati mesin.

Seperti yang saya alami, waktu jalan menanjak dan berkelok , saya pikir bisa pakai gigi dua, ternyata mobil nggak mampu. Saya gas lagi dan pindahkan ke gigi satu tapi terlambat, akhirnya mobil berhenti mendadak. Masih untung nggak ada mobil dalam jarak dekat di belakang. Nggak cuma mobil yang saya bawa yang mati mesin, ada dua mobil yang saya lihat berhenti di tepi jalan karena radiatornya panas. Selain kondisi mobil harus prima, sopir juga harus lihai mengemudi.

Wisata di tempat ini tergolong murah, karena kita nggak perlu beli tiket masuk. Waktu mau masuk ke hutan Pinus nggak perlu bayar lagi. Cukup keluarkan biaya buat parkir mobil atau motor.

“Bagus sekali pemandangannya”kata istri saya. Meski pernah jalan-jalan ke camp dan lihat hutan, dia terpesona dengan pemandangan pohon-pohon Pinus dan lokasi di sekitarnya. Nggak salah sih, hampir setiap pengunjung yang datang ke lokasi itu setelah melewati pintu masuk yang dilakukan adalah berfoto. Saya sendiri melihat pemandangan seperti itu juga nggak sabar ingin memotret.

Berbeda dengan hutan tropis di Kalimantan yang jenis pohonnya cukup banyak. Di areal itu memang hanya ada pohon Pinus yang tumbuh tinggi dan meneduhkan. Aktivitas pengunjung juga bermacam-macam. Ada yang membawa tempat tidur dari tali yang kedua ujungnya diikatkan ke dua pohon. Setelah itu dia berbaring dan bergoyang pelan mengikuti ayunan talinya. Waktu itu sebelum sampai ke lokasi wisata, saya heran kok ada ibu-ibu dan mbak-mbak yang jualan di pinggir jalan sambil memajang anyaman tali yang diikatkan di pohon untuk tidur-tiduran. Kok mereka jualan tali yang dianyam seperti itu? Pertanyaan saya terjawab ketika saya berada di dalam hutan pinus itu.

Ada juga pengunjung yang naik ke bangunan yang dibuat untuk melihat bentang alam di bawahnya. Beberapa pengunjung lainnya duduk-duduk di batang pohon yang difungsikan seperti kursi.

Selesai melihat-lihat pohon pinus dan berfoto, kami keluar dari areal hutan Pinus. Rupanya pintu masuk dan keluarnya hanya ada satu. Jadi kalau banyak pengunjung yang datang bersamaan, harus sabar antri.

Sebelum pulang, karena perut sudah agak lapar kami mampir dulu beli jajanan. Ada banyak penjuan yang berada di dekat tempat parker mobil. Ini bagus juga ya, karena para penjual makanan itu nggak masuk ke dalam hutan, tapi menunggu pembeli di pinggir jalan di seberang pintu masuk dan keluar.

wpid-p_20150719_121718.jpg

Selain penjual bakso pentol dan siomay, yang saya lihat ada juga yang jualannya unik. Penjual es krim pot. Baru kali ini saya lihat ada orang jualan es krim yang bentuknya seperti pot kecil. Jualannya pakai mobil dan diletakkan di bagasi. Jadi pembeli bisa langsung pesan dan melihat cara pembuatannya. Wadahnya untuk es krim seperti pot warna hitam, di dalamnya ada potongan roti tawar, coco crunch dan ditutup dengan es krim di atasnya. Setelah itu ditancapkan bunga di atas es krimnya. Bentuknya seperti pot bunga kecil. Memang kreatif juga penjualnya.

Selesai menikmati jajanan, kami pun meluncur pulang ke Jogja. Ternyata berwisata di hutan Pinus Mangunan, Imogiri, Bantul benar-benar mengasyikkan. Ya pemandangan alamnya, pohon-pohon pinusnya, juga jajanannya. Nggak salah deh pilihan adik-adik untuk melancong ke tempat itu.

7 pemikiran pada “Dari Hutan Meranti ke Hutan Pinus

  1. Seru juga ya Pak tempat wisatanya. Jadi pengen tahu foto lokasinya lebih banyak. Oiya Pak Yudhi, mohon maaf lahir batin ya Pak..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s