Tanyakan Apa yang dibutuhkan Konsumen

Pernah kan teman-teman ditawari membeli suatu produk? Kadang-kadang saat kita belanja di mall, minimarket atau sedang menunggu kendaraan umum, ada saja salesman atau salesgirl yang membujuk supaya kita membeli produknya.

Nggak hanya itu, ada juga yang langsung datang ke rumah. Kalau nggak ada tuan rumahnya mereka sebar brosur. Pernah juga seorang yang menawarkan produk pembasmi serangga menelepon ke nomor handphone saya. Setelah saya tahu harga produk baru itu lebih mahal dari produk sejenis, spontan saya tolak secara halus.

Nggak hanya saya yang dihubungi, ada juga produk lainnya yang ditawarkan lewat istri. Meski istri sudah menjelaskan kalau di rumah ada jaringan internet dan saluran televisi, masih ada juga tawaran untuk menggunakan produk baru. Paket internet dengan televisi kabel yang biaya bulanannya 2,5 kali lipat dari tagihan saat ini.

“Internet yang ada di rumah sudah cukup, mbak. Anak-anak juga jarang nonton tv karena banyak kegiatan dan tugas sekolah. Kalau mau lihat film malah sering buka tab dan nonton di youtube”istri saya menjelaskan.

“Begitu ya, Bu”kata mbaknya di telepon.

“Yang kami perlukan sudah ada di rumah, ada internet untuk mencari informasi. Juga bisa untuk nonton film atau video”tambah istri saya.

Mendengar cerita istri, saya jadi berpikir kalau kita sebagai konsumen memang harus tegas dalam membeli suatu produk. Tidak mudah luluh oleh penawaran penjual yang belum tentu kita perlukan.

“Kalau kita beli produk baru itu, Mas, kita harus bayar uang bulanan 790 ribu. Lebih mahal 500 ribu dari yang sekarang”ungkap istri.

“Iya ya. Mending selisih uangnya ditabung. Nanti setelah tiga bulan bisa buat beli emas batangan”jawab saya🙂.

8 pemikiran pada “Tanyakan Apa yang dibutuhkan Konsumen

  1. pernah
    dan meskipun sudah bilang TIDAK, tetap saja dibujuk-bujuk untuk mendengar penjelasannya dulu. Yang kayak gini bikin tambah sebel.
    Tapi pernah juga kejadian, saya bilang tidak, terus si salesgirl itu nggak nawar-nawarkan lagi tapi minta saya berfoto dengan memegang produknya, katanya sebagai bukti bahwa dia sudah berusaha mencari konsumen. Klo kayak gini, ya saya layani aja, satu jepretan sudah cukup🙂

    1. Kayaknya salesgirlnya belum dibekali ilmu bagaimana mengambil hati konsumen, mbak. Di satu sisi memang dia diberi target bos/ perusahaannya mencari konsumen, namun dalam operasionalnya perlu luwes juga sih. Nggak asal nawarin produk ke setiap orang, tanpa orang itu ditanya perlunya apa. Tapi boleh juga tuh sekali-kali ajdi fotomodel, mbak🙂

  2. Memang Pak. Telemarketing fokusnya hanya jualan dan jualan aja. Tidak memperhatikan konsumen seringnya. Padahal ilmu yang saya pelajari dulu, jualan akan lebih efektif kalo berdasarkan kebutuhan target kita.

    1. Nah, kalo ilmu yg mas Dani katakan itu setuju saya. Dengarkan dulu apa yg dibutuhkan konsumen, terus kita kasih pilihan-pilihan solusinya. Jadi kesannya nggak mendesak-desak atau memaksa

  3. Kalo berkunjung ke hyperm*rt setiap akan membayar pasti ditanyain: isi pulsa pak?
    Saya beranggapan ini hanya cara mereka menambah pemasukan.
    Kalo telemarketing yang menghubungi, -darimana mereka tau nmr hp saya?- saya biasanya jawab gak butuh. Apalagi kalo yang menghubungi asuransi saya bilang udah punya 3 asuransi. Sekali lagi saya bertanya, darimana mereka tau nmr hp saya?

    1. Saya jg kadang2 mikir, darimana ya mereka bisa tahu nomor hp kita. Setelah saya telusuri, mungkin mereka dapat dari akun sosmed kita. Dari pengalaman itu akhirnya data identitas diri di akun sosmed termasuk nomor hp saya hapus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s