Menulislah, maka Hati Terasa Lega

Sebenarnya apa sih tujuan menulis bagi si penulis? Beraneka ragam. Ada yang menulis agar gagasannya dan kemampuannya diketahui orang lain, menulis untuk memenangkan sebuah lomba, menulis karena dipesan pihak lain, menulis untuk mengisi waktu luang dan menulis untuk berbagi pengalaman dan cerita.

Tidak ada yang salah dengan semua tujuan itu. Perbedaan tujuan menulis sah-sah saja. Hampir semua tujuan menulis di atas didorong oleh faktor-faktor dari laur diri penulis. Adakah manfaat langsung menulis bagi diri si penulis?

Tentu ada. Menulis bagi orang yang terbiasa menulis ibarat membuang file-file sampah yang menumpuk di memori RAM dan hardisk komputer. Jika file-file itu nggak secara rutin dibuang, lama-lama akan mengurangi ruangan yang digunakan untuk menyimpan data dan menjalankan sistem operasi.

Menulis bagi penulis bisa juga menjadi sarana detoksifikasi bagi keluarnya racun dan sampah agar pikiran kembali jernih dan hati terasa lega. Sekali tulisan diterbitkan, apa perasaan yang muncul? Plong, lega seperti baru saja membuang kotoran yang melekat di dalam hati dan pikiran.

Oleh karena itu, nggak heran, kalau seseorang yang terbiasa menulis, maka akan tercetus dalam pikirannya untuk menulis dan menulis lagi. Satu tulisan akan merangsang otak dan hati untuk menemukan gagasan lain untuk ditulis lagi.

Kalau sudah mencapai tahap seperti itu, maka tujuan menulis bukan lagi untuk mendapat apresiasi, mengejar hits, atau memenangkan lomba. Ada atau tidak ada apresiasi tetap menulis, hits sedikit masih istiqomah menulis, nggak pernah menang lomba terus rajin menulis. Karena menulis memang menjernihkan pikiran dan melegakan perasaaan. Pernah mengalami seperti itu?

Iklan

8 pemikiran pada “Menulislah, maka Hati Terasa Lega

  1. Saya setiap kali selesai satu posting rasanya lega, plong. Apalagi posting kita diberi komentar sama yang baca, rasanya senang banget.
    Jadi menulis bagi saya salah satunya untuk menyenangkan diri, hehe…

  2. Seperti Pak Habibie yang dianjurkan dokter untuk menulis ketika beliau merasa begitu kehilangan Bu Ainun. Ternyata memang menulis menjadi salah satu terapi yang baik untuk menghilangkan stres. Saya jadi pengen posting sesuatu nih Pak tentang bagaimana Ibnu Khaldun menarasikan bahwa para penulis memang punya peran penting dan termasuk pekerjaan yang hebat. 🙂 Terima kasih postingannya, Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s