Beralih dari Media Cetak ke Media Digital

Setelah sinyal internet bisa diakses di camp, satu persatu teman kerja mulai berhenti langganan media cetak. Yang biasanya langganan tabloid olahraga, sudah stop dan beli tablet untuk baca informasi digital. Yang rajin langganan majalah berita mingguan juga migrasi. Sekarang lebih rajin baca berita di handphone, laptop atau desktop. Perlahan tapi pasti, teman-teman kerja yang sebelumnya pelanggan setia media cetak mulai berkurang.

Saya termasuk yang agak belakangan bermigrasi. Baru kemarin memutuskan stop langganan koran cetak nasional yang ongkos perbulannya sekitar 120 ribu. Biasanya saya terima koran cetak itu di camp dua hari setelah tanggal terbitnya. Memang nggak bisa dapat informasi terbaru, tapi ada beberapa artikel favorit yang terbit di hari Sabtu dan Minggu.

Saking favoritnya, artikel tiap Sabtu itu selalu saya gunting dan saya simpan. Sekali-sekali saya baca ulang artikelnya. Beberapa waktu kemudian saya baru tahu kalau tulisan dari salah seorang pekerja kreatif itu dijadikan buku dan dijual di toko buku dan dijual online.

Koran-koran yang sudah saya baca, biasanya saya kasihkan ke teman-teman. Ada yang dibaca di kantor. Ada juga yang dibawa masuk ke hutan. Koran yang edisi hari Minggu saya bawa ke Pontianak, karena sesekali pernah diminta Nadia untuk bahan tugas sekolah.

Kemarin agak berat memutuskan stop langganan, karena sudah sepuluh tahun lebih saya langganan koran itu. Dulu, waktu masih SMP juga sudah baca koran itu. Setiap loper koran datang dan menyisipkan di bawah pintu ruang tamu, saya nggak sabaran mengambil.

Dengan kemajuan teknologi dan adanya internet, setelah saya timbang-timbang saya memang harus memilih salah satu. Meninggalkan koran cetak dan beralih ke koran digital. Tapi untuk buku-buku, masih belum bisa pindah ke lain format. Belum migrasi dari buku cetak yang tebal ke e-book.

Bersyukur juga saya mengalami masa peralihan teknologi. Dari masa ketika pengiriman surat berperangko beralih ke email. Dari telepon rumah dan telepon umum berganti ke telepon seluler. Dari koran dan majalah cetak beralih ke bentuk digital.

Perubahan teknologi apa lagi ya yang akan terjadi di masa depan?

Iklan

12 pemikiran pada “Beralih dari Media Cetak ke Media Digital

  1. Dari kecepatan informasi, sesuatu yang digitalkan lebih cepat sampainya. Tapi dari segi kenikmatan membaca ada “rasa” yang hilang.
    Semakin banyak koran yang beralih ke dunia digital. Kalo gak berubah malah ditelan perubahan.

  2. perkembangan masa selalu punya kenangan sendiri, dan mau tak mau kita harus menyesuaikan ya om.. karena bisa jadi lebih baik dan lebih murah, lebih gampang…
    ada yang hilang, ada yang lebih baik. dan tinggal kenangan.
    duh.. duh..
    jadi inget masa surat menyurat dulu… :’D

      1. baik om… alhamdulilahhh… om sehat??
        kalo yang masa2 smp dulu g ada lagi om.
        kalo yang 2 tahun lalu masih ada… πŸ˜€
        masih nyimpen.. πŸ˜€
        masih utuh sama bingkisan2nya..

        selalu punya sisi yang menarik dari surat menyurat πŸ˜€

      2. alhamdulillah, sehat jua Dyaz…wah romantis banget sampai nyimpen bingkisannya. so, pasti ada true story yg nggak terlupakan yaaaaa πŸ™‚

      3. iyah…. saling bales-bales itu yang bikin asik om… πŸ˜€

        ada bukti yang g akan pernah hilang..
        kecuali yang g tau naruhnya dimana πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s