Tak Selalu Harus Bertanya

Tentu kita masih ingat dengan pepatah “Malu Bertanya Sesat di Jalan”. Sebuah pepatah yang sudah saya kenal sejak duduk di bangku SD. Bahkan sekarang, pepatah itu masih juga jadi pedoman bahwa kita dianjurkan bertanya jika ada yang belum kita ketahui. Bertanya kepada orang lain yang tahu jalan agar kita nggak tersesat.

Pertanyaannya adalah betulkah kalau kita malu bertanya kemudian kita akan tersesat di jalan? Belum tentu, lho. Bisa jadi yang bikin kita tersesat di jalan bukan karena malu bertanya, tapi nggak mau membaca petunjuknya atau malas membaca pedomannya.

Pertanyaan seperti itu muncul ketika tadi pagi ada teman yang menelepon. Mewakili 11 orang teman-temannya yang akan ikut diklat, dia mengabarkan sudah sampai di hotel tempat diklat.

Dia bilang kalau sudah menelepon perwakilan perusahaan tapi handphonenya nggak aktif. Terus dia menelepon ke camp dan tanya harus menghubungi siapa lagi. Saya bilang akan ambil surat dari instansi teknis yang menyelenggarakan diklat itu karena di situ ada contact personnya. Setelah itu dia bilang akan tunggu jawaban saya.

Mendengar pecakapan itu, teman kerja yang duduk di depan bilang,” Sebelum berangkat, saya sudah berikan fotocopy surat panitia diklat. Coba dia tanya kawannya”.

Saya telepon lagi teman itu dan jelaskan surat panitia diklat sudah dibawa salah satu temannya. Di surat itu ada nama panitia dan nomor handphonenya yang bisa dihubungi.

Nggak sampai lima belas menit, dia telepon balik dan sudah menghubungi panitia. Semua peserta siang harinya diminta daftar ulang sekaligus menyerahkan berkas-berkas persyaratan diklat.

Nah, coba kalau sebelumnya temannya membaca surat dari panitia diklat itu. Dia bisa jelaskan ke temannya yang lain dan nggak perlu repot-repot bertanya. Semuanya sudah tercantum di surat itu. Kapan waktu pelaksanaan diklat, lokasinya, persyaratan yang harus dibawa sampai contact person dan nomor yang bisa dihubungi.

Kejadian itu jadi pelajaran bagi saya. Pentingnya membaca sebelum bertanya. Bukan berarti kita nggak boleh bertanya lho. Yang saya maksud, kalau kita mau ikut diklat, seminar, workshop atau acara-acara lainnya, sebaiknya kita baca dengan cermat undangannya, brosurnya, iklannya atau suratnya.

Kalau mau ikut acara seperti itu, langkah pertama bukan bertanya, tapi baca dulu isinya. Bacanya jangan sekali, kalau perlu dua atau tiga kali. Setelah dibaca berulang kali dan ada hal-hal yang belum jelas, barulah ditanyakan.

Bertanya memang lebih mudah karena langsung mendapatkan jawaban. Nggak seperti membaca yang harus mikir dan memerlukan waktu lebih lama. Tapi kalau kita membaca dulu, minimal kita akan tahu pertanyaan seperti apa yang akan kita lontarkan. Biar nggak tulalit.🙂

8 pemikiran pada “Tak Selalu Harus Bertanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s