Galaunya Ketika Bukti Penitipan Barang Hilang

Berkali kali saya cari sepotong kertas karton kecil di saku celana dan baju, tapi tetap nggak ketemu. Sepotong kertas yang berisi nomor penitipan sandal/sepatu di masjid. Sempat masuk lagi ke masjid dan terpikir mau minta ke petugas masjid supaya membuka kotak amal, siapa tahu terbawa waktu masukkan uang sumbangan.

Tapi akhirnya saya urungkan. Bikin repot orang aja ya. Kalau kotak amalnya sudah dibuka, mungkin saya bisa amati dan langsung minta kalau ketemu barangnya.

Keluar dari masjid, jamaah sholat Jumat saling berdesakan mengambil sandal/sepatunya masing-masing. Saya lihat mereka menyodorkan kertas kecil tadi sambil menyerahkan uang sumbangan. Ada yang dimasukkan ke kotak kecil di atas meja. Ada juga yang langsung diserahkan ke petugasnya.

Perasaan galau muncul gara-gara tanda bukti titipan barang hilang. Rasa bersalah seperti membebani badan ketika ikut maju sambil minta diambilkan sepatu. Nanti kalau ditanya mana tanda bukti titip barangnya, gimana jawabnya?

Akhirnya saya tungguin orang-orang yang lagi sibuk ambil sandal dan sepatunya. Setelah agak kosong, baru saya mendekati meja penitipan dan sodorkan uang sumbangan dalam posisi terlipat ke petugasnya.
Sebelumnya saya sudah memastikan di mana posisi sepatu saya disimpan, karena nggak ingat lagi nomor berapa tanda buktinya. Biasanya, petugas minta nomor tanda bukti titip barang dan dia akan mencari nomor kembarannya di loker.

Sebelum dia minta kertas tanda buktinya, sambil menunjuk ke bawah saya bilang,”Tolong sepatu warna hitam itu, Mas”.

Dia nggak sempat lagi minta kertas bukti titip barang, terus dia menerima uangnya dan mengambilkan sepatu seperti yang saya tunjukkan. Mungkin dipikirnya tanda bukti titip barangnya ada di dalam uang kertas yang saya serahkan.

Dalam perjalanan pulang,  masih belum tahu dimana hilangnya tanda bukti penitipan barang tadi. Sampai di rumah, saya keluarkan dompet warna hitam dari saku celana kanan. Kalau orang lain biasanya menyimpan dompet di saku celana belakang, saya malah simpan di saku depan kanan. Ini juga terkait bagaimana menghargai uang dan identitas berharga lain seperti SIM, KTP, Kartu ATM.

Dompet saya ambil dan ketika dibuka, tiba-tiba jatuhlah sepotong kertas dengan tulisan nomor 91 yang tadi saya cari-cari. OMG, rupanya bukti titipan barang tadi terselip di dompet. Pantas dicari-cari nggak ketemu. Kok, tadi nggak terpikir cari di dompet ya? 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Galaunya Ketika Bukti Penitipan Barang Hilang

  1. Kalo saya menarok karcis penitipan itu di saku kosong bagian belakang. Selalu begitu. Jadi kalo udah mau ambil lagi sepatu yang dititipkan tinggal ambil.
    Sebaiknya memang harus diingat dimana kita menarok karcis sebelum melangkah ke dalam masjid.

  2. Kebiasaan ya mas. Kalau taruh yang seperti itu di kantong, jadi gak kepikir di dompet ya?
    Kakak juga kayak gitu. Tiket karcis kebiasaan ditaruh di dompet, tapi gak pernah dia cek dompet duluan. :d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s