Adik Angkatan 22 Tahun

“Adik-adik angkatan berapa?”tanya saya ke tiga mahasiswa praktek kerja.

“2011, Pak”, jawab salah satu mahasiswi

“Kalau bapak angkatan berapa?”dia balik tanya

“Saya masuk tahun 89”, jawab saya pendek

“Wah, saya belum lahir, Pak”komentarnya lagi

“Belum lahir? Berarti adik-adik ini kelahiran tahun 90-an ke atas. Nggak terasa, bedanya sudah 22 angkatan,”ungkap saya sambil menghitung-hitung tahun.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Namun kerja di hutan, perubahan yang cepat itu nggak terasa. Tau-tau udah 20 tahun kerja. Baru sadar udah punya adik angkatan yang selisihnya 22 tahun. Rasanya seperti baru setahun dua tahun kuliah, lulus terus kerja.

Kedatangan mereka seperti menyadarkan saya.

Dua cewek dan satu cowok yang memilih praktek kerja dan riset di luar Jawa, meski program itu sifatnya pilihan dan bukan wajib.

Saya salut sama mereka. Meski tidak diharuskan praktek kerja dari fakultas, tapi mereka mau meninggalkan zona nyaman: ingin cepat-cepat lulus. Memilih dua bulan praktek kerja di perusahaan sekaligus penelitian. Yang namanya pilihan, pasti kebanyakan mahasiswa memilih nggak perlu praktek kerja.

Kenapa? Karena untuk praktek mereka harus bersusah-susah dulu. Cari informasi perusahaan yang bisa nerima mereka untuk praktek. Ada perusahaan yang mau nerima, ada juga yang nolak. Harus keluar biaya dan menyediakan waktu. Masalah biaya memang menjadi kebijakan masing-masing perusahaan. Ada yang menanggung biaya transportasi dari tempat asal sampai lokasi praktek kerja plus makan dan akomodasinya. Ada juga yang hanya menanggung akomodasi dan makan, biaya transportasi ditanggung oleh mahasiswa.

Nah, kalau sampai mereka mau praktek kerja, itu berarti daya juang mereka mencari ilmu di luar kampus memang cukup bagus. Saya semangati mereka, meski adik-adik keluar biaya transportasi pp, tapi adik-adik akan dapat gantinya. Dapat banyak ilmu yang nggak ada di kampus. Juga dapat banyak kawan dan juga siapa tahu ketemu jodohnya di hutan. 🙂

Ilmu itu memang harus dicari, bukan ditunggu seperti kita duduk di kelas nunggu dosen datang. Juga nggak seperti orang yang mau memancing, tapi cuma duduk di tepi danau dan berharap ikan-ikan itu datang menghampiri. Kayak lagunya Koes Plus aja 🙂

Kalau ilmu itu ada di lapangan atau di hutan, carilah dan datangilah. Seraplah pengalaman bagaimana orang-orang bekerja di hutan. Bagaimana mereka mencari jalan keluar atas permasalahan. Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh dan menghasilkan anakan. Semua akan adik-adik lihat sendiri, rasakan sendiri suasananya di dalam hutan. Bukan hanya mendapat ilmu dari buku, diktat atau gambar di internet.

Kelak semua pengalaman di lapangan itu akan menjadi bekal berharga adik-adik waktu terjun ke dunia kerja. Nggak terasa juga saya ngomong panjang lebar sama mereka. Sampai-sampai waktu sarapan hampir habis. Ngobrol sama yang muda-muda memang mengasyikkan.

Iklan

4 pemikiran pada “Adik Angkatan 22 Tahun

  1. Iya benar sekali, waktu terasa berjalan begitu cepat. Tahu-tahu sudah berpuluh tahun, 😦
    Semangat buat adik tingkatnya tentu makin memotivasi.

  2. Jadi ingat masa PKL dulu mas, ada enaknya, ada juga nggak enaknya… Enaknya ya ketemu teman2 baru, nggak enaknya di kejar deadline TA, tapi itulah ilmu, nggak bisa di tunggu terus, tapi kudu di kejar… Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s