Berwisata Sejarah ke Keraton Kadriyah

P_20151219_094627A

Hari Sabtu pekan lalu (19/12), saya berkesempatan menemani salah seorang keluarga dari Jogja berwisata keliling kota Pontianak. Sebelum mengisi seminar umroh yang waktunya siang hari, pagi harinya kami ajak dia jalan-jalan.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Keraton Kadriyah. Maklum, keluarga yang adik ipar istri ini memang hobi mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti keraton, istana atau makam raja-raja dan para pahlawan nasional. Di setiap tempat atau kota yang punya wisata sejarah, dia usahakan untuk mengunjungi tempatnya di sela-sela kesibukannya sebagai pembicara seminar umroh.

Lokasinya nggak jauh dari kota. Dari pusat kota Pontianak, kami menyeberangi jembatan Kapuas, terus belok ke kiri melewati gapura penanda keraton. Jalan masuk keraton agak sempit untuk kendaraan roda empat. Jadi kalau berpapasan dengan kendaraan lain, salah satu kendaraan harus menepi.

Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan sekitar 100 meter ke sebelah kiri tempat parkir. Kiri-kanan jalan menuju keraton padat dengan rumah-rumah warga.

P_20151219_094929A

Untuk masuk ke Keraton Kadriyah nggak perlu bayar tiket masuk. Gratis. Sampai di dalam keraton, kita akan disambut oleh pemandu wisata yang masih keturunan sultan. Dia menjelaskan kalau sultan sedang berbincang-bincang dengan rombongan tamu lain di teras di sisi kiri keraton. Wah, sayang sekali nggak bisa ketemu dan ngobrol dengan sultan.

Akhirnya, waktu yang ada kami gunakan untuk melihat-lihat ruangan di dalam keraton yang didominasi warna kuning. Berbagai barang peninggalan sejarah masih tersusun dengan rapi. Sepasang kursi singgasana dan latar belakangnya menjadi obyek menarik untuk berfoto ria.

P_20151219_095810A

Juga gambar-gambar keluarga sultan dan foto disain burung garuda juga terpasang rapi di dinding. Rupanya, lambang negara kita, burung garuda itu konsepnya yang membuat Sultan Hamid II.

Puas menikmati keraton Kadriyah yang didirikan tahun 1771, kami meneruskan perjalanan menuju Masjid Jami. Cukup berjalan kaki sekitar 200 meter, sudah sampai di masjid yang letaknya di samping sungai Kapuas.

P_20151219_101106A

Namun sayang beribu sayang, kami nggak sempat masuk. Hanya melihat dari luar bangunan masjid yang atapnya terbuat dari sirap kayu belian atau ulin.

Di pondok tepi sungai Kapuas, banyak pemandangan menarik yang bisa dilihat selain bangunan masjid Jami. Jembatan Kapuas yang terlihat kokoh, kapal wisata yang sedang menurunkan penumpang dan warga yang menggunakan sampan bermesin untuk menyeberang sungai.

Buat teman-teman yang akan berwisata ke Pontianak, jangan lupa ya agendakan juga untuk berkunjung ke tempat ini.

8 pemikiran pada “Berwisata Sejarah ke Keraton Kadriyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s