Yang Berangkat Berlima, yang Mengantar Dua Kali Lipatnya

Jpeg
Jpeg

Hari Minggu jam 04.30 habis sholat subuh, saya dan anak-anak sudah meluncur ke bandara Supadio. Mengantar istri yang mau berangkat umroh. Rencana berangkat bersama-sama empat jamaah lainnya. Tiga ibu-ibu dan seorang bapak. Dua diantaranya sudah berusia di atas 70 tahun. Berangkat dari rumah masing-masing dan janjian ketemu di bandara.

Tiba di Supadio, ternyata empat jamaah lainnya belum datang. Padahal kami sudah sepakat dari rumah berangkat jam 04.30. Jadi seharusnya jam 05.15 paling lambat sudah sampai di bandara.

Sampai jam 05.30, mereka belum juga nongol. Istri mulai gelisah karena pesawat Garuda tujuan Jakarta jam 06.10 berangkat dari Pontianak. Connect ke Jeddah dari Soekarno-Hatta jam 11.20.

Untungnya, sehari sebelumnya empat jamaah yang sedang ditunggu itu sudah dibantu istri city check in. Paling tidak sudah mengurangi waktu check in di bandara. Cukup check in untuk melaporkan barang-barang yang masuk bagasi.

Akhirnya kami lega setelah melihat dua mobil menurunkan penumpang di depan pintu keberangkatan. Langsung saya dan istri sambut mereka.

Banyak juga rupanya anggota keluarganya yang mengantarkan ke bandara. Mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Setelah saya sapa dan ngobrol sebentar, saya ajak mereka segera foto-foto.

“Ayo kita foto-foto dulu buat kenang-kenangan”kata saya.

Mereka pun berjejer dan bersiap-siap untuk difoto. Selesai foto, saya sampaikan supaya segera masuk ruang check in. Waktu hendak masuk itulah, ada beberapa anggota keluarga yang nggak kuat menahan tetesan air mata. Seolah-olah mereka akan berpisah selamanya dengan orangtuanya, mertua, kakek sekaligus nenek mereka. Terharu saya dibuatnya.

Saya pun paham mereka agak mepet waktu tiba di bandara. Mungkin sebelum berangkat dari rumah, mereka kerepotan. Bukan hanya mengurus keluarganya yang mau berangkat umroh. Tapi juga mengatur anggota keluarganya yang mau ikut mengantar.

Mulai membangunkan anak-anak, memandikan, memastikan kendaraan sampai menjemput keluarga lainnya yang berbeda rumah. Kelihatannya sepele, tapi nggak mudah mengorganisir kegiatan seperti itu.

Itulah rasa kekeluargaan yang masih erat di negeri kita. Jika ada satu atau dua orang yang akan bepergian jauh, apalagi ke luar negeri, selalu ada rasa keinginan untuk mengantar sampai bandara. Ada perasaan tidak nyaman dan penyesalan ketika ada anggota keluarga hendak terbang ke tempat lain, tapi kita nggak bisa mengantarkan. Apalagi yang akan bepergian itu keluarga atau sanak saudara.

Juga bagi yang bepergian. Hati terasa hampa ketika tidak ada satu pun keluarga menemani ke bandara. Sewaktu pergi maupun ketika kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s