Penjualnya nggak ada, tapi Tetap bisa Belanja

Wah, jualan apa lagi ini, kok sampai penjualnya nggak ada tapi bisa belanja. Apa yang melayani mesin? Atau jualan online?

Yang melayani tetap manusia, bukan mesin apalagi jin. Jualannya juga konvensional. Ada uang ada barang, nggak ada uang ngebon dulu nggak dilarang. Pilih barang yang mau dibeli, terus tulis di kertas sekalian jumlahnya. Setelah itu, bawa pulang. Hebaaat ‘kan…….!

Siapa sih yang jualan seperti itu? Teman kerja di camp. Atas ide istrinya, enam bulan lalu dia buka warung. Mereka jeli melihat peluang di tengah krisis di perusahaan. Suplai bahan makanan yang berkurang ke perusahaan, disiasati dengan buka warung dan berjualan.

Bukan mendirikan warung. Tapi manfaatkan ruang keluarga dan dijadikan warung untuk jualan. Rak-rak dari papan kayu dipasang di dinding berbentuk huruf L. Ada beberapa tingkat. Barang-barang yang ringan seperti mie instant, kue-kue kering, minuman ringan dipajang di atas rak. Telur, bawang merah dan bawang putih diletakkan di bawah.

Pertama kali saya beli di warungnya dua hari lalu. Nggak sengaja. Awalnya saya mau beli telur ayam di Kopkar, tapi stok habis. Datangnya kapan nggak bisa dipastikan. Ada teman kerja yang dengar telur di kopkar habis, dia sarankan beli saja di Mas Yono. Swalayan.

“Lho, orangnya kan nggak ada di camp? Gimana mau belanja?”tanya saya

“Bisa, Pak. Ambil aja kunci kamarnya di atas pintu. Nanti bapak ambil sendiri barangnya, terus tulis di kertas.”jawab teman kerja yang lain.

“Oooo, gitu. Nanti siang saya ke sana”kata saya masih terheran-heran.

Siangnya saya ke mess mas Yono. Saya cari kunci kamarnya di atas pintu. Ketemu. Sempat ragu masuk ke warungnya. Nggak ada orang lain. Nggak ada CCTV. Saya belanja 10 butir telur ayam dan 3 bungkus mie instan. Terus tulis belanjaanya, nama dan tanda tangan saya di kertas.

Sebelum pulang, saya sempatkan lihat-lihat barang-barang lainnya yang dipajang di rak. Kreatif. Benar-benar jadi solusi bagi karyawan lain.

“10 butir telur sama 3 bungkus mie, berapa harganya, Mas?”tanya saya ke mas Yono di kantor. Dia ambil kalkulator dan dengan cepat menjawab,” Dua puluh tujuh ribu lima ratus, Pak”.

Mungkin itu yang namanya warung kejujuran. Pembeli ambil barang dan tulis di kertas tanpa ada yang mengawasi. Benarkah nggak ada yang mengawasi? Kejujuran pembeli benar-benar diuji. Apakah yang ditulis di kertas, sesuai dengan barang-barang yang dibeli. Saat itulah malaikat mencatat dan menjadi bukti, ketika kita di akhirat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s