Dua Puluh Enam Channel, Kapan Nontonnya?

Baru saja ngobrol sama teman kerja waktu saya fotocopy surat  yang sudah diparaf pimpinan.

“Di kamar, tivinya berapa channel, Pak?”

“Empat belas saluran”jawab saya

“Wah, masih perlu disetting lagi, pak, bisa sampai dua puluh enam channel”

“Dua puluh enam channel?”

Saya memang termasuk yang nggak  sering nonton tivi. Nggak betah lama-lama nonton. Jadi nggak sempat lagi setting supaya dapat puluhan channel.  Di rumah maupun di camp, jarang sekali saya nonton tivi. Kebanyakan malah cari informasi di internet. Bukan dari tivi. Kalau ada info baru olahraga saya cari di detik.com atau lihat videonya di youtube.

Terus waktu lainnya digunakan untuk apa saja? Cari ilmu di internet. Misalnya gimana membuat disain presentasi yang menarik. Nah, kalau hal seperti ini saya betah belajar sampai coba praktekan. Pokoknya hal-hal yang ada kaitannya dengan pekerjaan.

Kadang-kadang juga buka media sosial. Facebook buat tahu perkembangan terbaru teman-teman. Twitter juga hampir tiap hari saya buka, buat menyerap ilmu dari para motivator atau ustadz yang saya perlukan.

Makin banyak channel tivi memang makin banyak pilihan. Kita bisa tonton acara yang kita perlukan.  Bagi orang lain banyak channel adalah kesempatan buat nonton tivi dan dapat hiburan sepuas-puasnya.

Tapi buat saya, meski nanti disetting sampai dua puluh enam channel, hanya 3-4 tontonan saja yang saya ikuti. Kick Andi dan I’m Possible di MetroTV, Suluk Semalam di Aswaja TV dan National Geographic. Lainnya? Nggak tertarik.

 

8 pemikiran pada “Dua Puluh Enam Channel, Kapan Nontonnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s