Buka Lapak Dulu, Sewa Ruko Kemudian

“Ini rukonya punya sendiri atau sewa, mbak?”tanya saya

“Sewa, Pak. Setahun 20 juta, sekaligus 2 tahun sewanya”jawab mbak Atun.

Sambil menunggu tamu dari Jepang, saya sempatkan ngobrol setelah menikmati sepiring gado-gado buatannya.

Biasanya, setelah tiba di Pinoh pagi hari, saya sering sarapan di lapaknya di lapangan kecamatan. Cukup sederhana. Bukan warung makan apalagi restoran. Tetapi sebuah gerobak makanan dan beberapa meja kursi yang ditata di tepi lapangan. Kelebihannya, tempatnya buka lebih pagi dibanding tempat makan lainnya. Soto ayam seporsi sering saya pesan sebelum kembali ke camp.

Ada satu juru masak yang dibayar 100 ribu per hari. Dua orang pembantu  digaji separuhnya per hari. Mbak Atun sering juga terlihat meracik hidangan, sambil sesekali menyapa pembeli dengan senyum ramahnya.

Rupanya bukan hanya di lapangan kecamatan itu usaha kulinernya. Dia juga buka cabang dengan menyewa ruko tiga tingkat. Di lapangan kecamatan omsetnya sehari 1,5 juta. Buka jam 7 pagi, jam 2 siang sudah ludes hidangannya. Di cabang yang baru buka sebulan, sehari dia bisa dapat 600 ribu. Dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Ada satu orang yang membantu dia tempat itu.

“Kenapa juru masak sama pembantunya tidak dibayar bulanan, mbak?”tanya saya

“Saya ingin dapat uang hari ini, upah mereka dibayarkan hari ini juga, Pak. Biar nggak numpuk-numpuk, karena kalau dibayar bulanan berarti saya masih ada tanggungan”

“Terus, daftar harga ini mbak yang nyusun?

“Saya suruh orang lain buatnya. Harganya saya belajar dari kantin rumah sakit waktu saya nengok teman di Pontianak. Es jus saya jual di bawah harga 10 ribu, Pak. Lebih baik harganya 8 ribu tapi laku 20 gelas daripada saya jual 10 atau 12 ribu tapi cuma laku 10 gelas sehari”jelasnya

Dihitung-hitung, untuk sewa rukonya dia harus siapkan sekitar 1,7 juta sebulan atau 56 ribu per hari

Saya yakin mbak Atun bisa mendapatkan hasil lebih dari itu per hari. Karena dari makanan dan minuman yang harus saya bayar buat berenam, dia dapat 108 ribu.

Terus terang, saya belajar banyak darimu, mbak Atun. Bahwa memulai usaha itu nggak perlu muluk-muluk. Nggak harus utang dulu, tapi mulai dari apa yang sudah dimiliki. Setelah berjalan usahanya barulah mencoba membuka cabangnya. Buka lapak dulu, setelah itu baru sewa ruko.

Iklan

7 pemikiran pada “Buka Lapak Dulu, Sewa Ruko Kemudian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s