Filosofi Ketupat

Dalam filosofi Jawa, kupat adalah simbol. Makanan yang biasa kita nikmati saat lebaran ini adalah simbol pengakuan atas kesalahan yang dilakukan.

Kupat, ngaku lepat. Mengaku salah.

Sebuah sikap terpuji yang  mengikis rasa egoisme dalam  diri kita.

Rasa egois yang  menyebabkan  diri seseorang  merasa paling benar. Merasa pintar tapi tidak pintar merasa.

Dan dalam suasana Idul Fitri ini, saya mohon maaf atas salah dan kekhilafan.

Iklan

4 pemikiran pada “Filosofi Ketupat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s