Memberi Makanan Induk Ayam

Ada satu kegiatan tambahan yang hampir setiap hari sekarang saya lakukan. Memberi makan induk ayam kampung dan anak-anaknya. Yang punya ayam teman kerja yang sedang cuti. Memang dia nggak nitip khusus ke saya untuk mengurus ayam yang waktu itu sedang bertelur. Dia mungkin titip ke salah satu bawahannya yang sekali-kali menempati kamarnya, dua kamar dari kamar saya.

Namun saya lihat jarang sekali dia mengurus ayam yang telurnya sudah menetas itu. Saya hanya tahu ketika induk dan anak-anaknya sudah dipindah ke kandang. Namun jarang saya lihat dia memberi makan.

Saya juga baru sekitar tiga bulan ini memelihara seekor induk ayam, Sekarang sedang bertelur. Dua kolam ikan lele juga saya punya. Satu kolam join dengan tetangga saya yang sedang cuti itu. Satu kolam lagi punya saya.

Setiap hari, selain memberi makan ikan lele, saya sempatkan juga melihat ayamnya yang di kandang. Saya ambilkan gabah untuk makanannya. Pernah juga saya lihat wadah air minumnya kering. Saya ambil dan isi dengan air segar dari kolam.

Sebelum menetas, pernah saya hitung telurnya di sarang yang terbuat dari kotak papan bekas spare part. Ada sebelas butir. Namun sayang, hanya dua yang menetas dan hidup. Yang lainnya ada yang menetas, namun mati di kotak papan. Ada juga yang mati setelah dipindah ke kandang. Telur lainnya nggak menetas dan terlihat dikerubuti kutu-kutu.

Mungkin gara-gara kutu itu pula badan saya sekarang jadi gatal-gatal. Setelah digaruk, ada warna merah di tangan, perut dan dada. Bisa jadi kutu-kutu itu menular ke badan. Karena sering terasa sekali gatal-gatal, saya setelah mandi sering  menggosok badan dan tangan dengan bedak. Alhamdulillah, sekarang sudah berkurang.

Karena pernah kena gatal-gatal itulah, saya mulai hati-hati waktu memberi makan ayam dan ikan. Penginnya sih nggak usah kasih makan lagi di kandang atau kolam yang letaknya di belakang kamar. Serahkan ke orang lain untuk mengurusnya. Karena untuk ke tempat itu, saya harus jalan kaki lewat depan rumah, berbelok ke kanan, menuruni tangga dan menyusuri permukaan tanah yang licin.

Bisa juga saya stop memberi makan induk sama anak ayam itu, tapi nggak sampai hati. Atau melepaskan induknya dari kandang supaya cari makan sendiri. Tapi anak-anak ayamnya pasti ramai dengan suara ciap-ciap mencari induknya. Pernah sekali terdengar suara nyaring anak ayam itu memanggil induknya. Rupanya jatuh dari kandangnya. Saya pelan-pelan dekati, tangkap dan kembalikan lagi.

Memang agak merepotkan sih, tapi rasanya ada kepuasan hati bisa berbuat seperti itu. Memberi makan, mengumpulkan kembali anak ayam yang terjatuh dengan induknya atau melihat induk dan anak ayam itu mematuk-matuk makanan yang saya tebarkan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s