Belajar Bersabar dengan Berternak Hewan Piaraan

Jpeg

Dibandingkan beberapa teman kerja di camp, saya termasuk lambat dalam urusan berternak hewan piaraan. Ada yang punya piaraan ikan lele dan ayam kampung. Ada juga yang punya kolam ikan nila. Bahkan ada yang piara ayam, bebek dan ikan lele sekaligus, tapi setelah istri dan anak-anaknya pindah ke Jawa, bebek-bebeknya dijual.

Sejak April lalu saya beli satu induk ayam kampung. Tepatnya barter karena satu ekor ayam kampung itu saya tukar dengan sebuah baju. Ya, saya dan teman yang tinggalnya dekat kamar saya itu sepakat tukar menukar barang seperti jaman dahulu kala :-). Dia memang sejak kecil berternak ayam. Jadi untuk urusan bikin kandang, bikin sarang buat induk-induk ayam yang bertelur sampai menetas, ngasih makan sudah lebih terampil daripada saya.

Jpeg

Setelah sekitar tiga bulan, ayam hasil barter yang berbulu kuning keemasan dan hitam itu bertelur. Tapi sayang, dia berebut sarang dengan induk ayam yang lain. Jadi satu tempat dua induk. Alhasil, tak ada satu pun telur yang menetas. Faktor lain karena sarangnya dari tumbuhan-tumbuhan kering, jadi lembab dan mengundang kutu-kutu kecil atau gurem mengerumuni telurnya.

Belajar dari kejadian tersebut, untuk sarang diganti dengan bekas plastik karung beras. Saya lihat waktu yang keduanya kalinya bertelur ada enam butir, tapi nggak sempat lihat waktu menetas karena ada tugas ke Pontianak. Cuma saya titip ke mas Mul, supaya kalau sudah menetas induk dan anak-anak ayamnya dipindah.

Waktu saya kembali ke camp, alhamdulillah, saya dapat kabar empat butir menetas dan semua anaknya berbulu hitam. Nggak ada satupun yang bulunya mirip induknya. Senang sekali lihat anak-anak ayam itu. Setiap hari, dua sampai tiga kali saya tengok ke kandangnya dan kasih makan. Belum berani saya lepas karena banyak pemangsa anak-ayam. Kucing, burung hantu dan ular siap menyambar jika ada anak ayam yang terpisah dari induknya.

Dari berternak hewan piaraan itu, saya memetik pelajaran pentingnya bersabar untuk mendapatkan hasil. Beda dengan ayam putih atau ayam ras yang cepat besar badannya karena dikasih makanan terus di kandang tiap hari sampai waktunya mau dipotong.

Ayam kampung perlu waktu lebih lama untuk mencapai ukuran berat yang sama. Karena dia cari makan sendiri dengan mengais dan mematuk-matuk tanah. Tapi kelebihannya dia tahan dengan perubahan cuaca. Nggak mudah stres kalau kena hujan atau ada petir. Berteduh sebentar, setelah hujan reda dia cari makan lagi.

Mengasyikkan memang berternak ayam kampung. Semoga anak-anaknya terus hidup sampai besar, berkambang dan menghasilkan telur juga. Selain mengisi waktu luang, juga memenuhi kebutuhan teman-teman di camp yang ingin mengonsumsi daging dan telur ayam kampung. Lumayan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s