Berani Menikah Meski Belum Punya Rumah

“Liburan ini keluarga nggak naik ke camp?”tanya istri teman kerja kemarin sore.

“Nggak, mbak, lagi banyak kerjaan di Pontianak”jawab saya

“Lho, keluarganya di Pontianak? Bukan di Jawa?”komentar mbak yang lain yang istri teman kerja juga

“Anak yang pertama yang sekolah di Jawa, ibunya sama adik-adiknya masih di Ponti”kata saya

Bukan kali ini saja saya mendapat pertanyaan seperti itu. Ditanya di mana keluarganya dan yang nanya terkejut ketika mendengar keluarga tinggal di Pontianak

Sebagian besar teman atau keluarga teman di camp yang baru pertama ketemu sering mengira keluarga saya tinggal di Jawa. Padahal istri dan anak sudah tinggal di Pontianak 16 tahun lebih.

Mungkin mereka melihat karyawan lain dari Jawa terutama yang asalnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jadi bujangan lokal. Maksudnya, suami atau ayahnya kerja dan tinggal di camp, tapi istri dan anak-anaknya di Jawa. Ada yang ketemunya tiga bulan sekali, ada yang enam bulan sekali. Jadi waktu di camp statusnya bujangan, tapi waktu di rumah berubah. 🙂

Ada juga yang baru menikah, istrinya diajak ke camp. Setelah istrinya hamil, dipulangkan ke kampung halaman. Setelah sang anak lahir ada juga yang beberapa tahun kemudian diajak lagi tinggal di camp.

Memang nggak mudah awalnya istri mutuskan ikut saya dan pindah ke Pontianak setelah menikah. Apalagi nggak ada keluarga atau saudara dan dia juga  bekerja di Jakarta. Tapi istri punya pertimbangan kalau dia di Jakarta, saya di camp nggak mudah ngatur pertemuannya bagi suami istri yang sama-sama bekerja. Belum lagi kalau anak-anak lahir. Kalau tinggal di Jawa, frekuensi pertemuan lebih jarang dibandingkan kalau dia ikut ke Pontianak.

Setelah dua tahun bekerja, kami menikah bulan Juli tahun 1997. Prosesnya cukup singkat. Kenalan lewat teman kuliah. Bulan Pebruari 1997, saya cuti pulang ke Jogja dan bertemu teman seangkatan yang sudah menikah. Istrinya yang kuliah di pertanian rupanya punya teman akrab. Waktu saya main ke rumahnya, saya dikenalkan dengan teman istrinya. Karena waktu itu lebaran, gantian kami bertiga yang berkunjung ke rumah  teman istrinya. Bertemu dengan bapak ibunya.

Setelah waktu cuti habis saya pulang ke camp. Komunikasi dengannya lewat surat, telegram dan telepon di wartel. Waktu itu belum ada handphone apalagi internet. Waktu saya tugas di Pontianak, saya langsung tanya dia apa bersedia menikah dengan saya. Dia jawab bersedia dan setelah itu saya bicara sama ibu di Jogja untuk membicarakan rencana selanjutnya. Pertemuan antara dua orangtua terjadi. Disepakati tunangan  dilaksanakan  Mei 1997 dan akad nikahnya bulan Juli 1997.

Setelah menikah karena waktu itu belum punya rumah, kami beberapa kali berpindah-pindah tempat tinggal. Kalau saya di camp, istri tinggal sama-sama di mess. Kalau ada tugas ke Pontianak, kami menginap di losmen. Sampai sekarang losmen itu masih ada dan berubah menjadi hotel.

Waktu istri hamil, pernah juga tinggal di salah satu keluarga yang kenal sama istri waktu naik pesawat dari Jogja ke Pontianak. Tiga bulan setelah nikah, istri diantar ibunya dan ibu saya ke Pontianak.

Karena kabut asap, akhirnya pesawat batal terbang ke Pontianak dan penumpang diinapkan di Jakarta. Saat itulah mereka berkenalan dengan bu AS Trisno, istri Kapolres Mempawah, yang kemudian menawarkan istri untuk tinggal di rumahnya di Pontianak. Saat itu istri menolak dengan halus karena ingin ikut saya ke camp

Nggak lama setelah di camp, ada tanda-tanda kalau istri hamil. Waktu ada tugas ke Pontianak, saya ajak istri dan kami naik bis ekonomi dari Nanga pinoh ke Pontianak. Waktu itu bus eksekutif rute tersebut belum ada.

Karena goncangan selama di perjalanan, istri sampai di Pontainak sempat alami pendarahan. Saya periksakan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang terkenal di jalan Gadjah Mada. Diberi obat penguat kandungan dan disarankan dokter agar tidak melakukan perjalanan jauh.

Karena pertimbangan keselamatan janin yang dikandungnya, kami putuskan menerima tawaran tinggal di rumah bu Trisno sampai menjelang kelahiran. Usia kandungan delapan bulan, istri memutuskan kembali ke Jogja dan melahirkan Nadia di sana bulan  Juli 1998.

 

Iklan

3 pemikiran pada “Berani Menikah Meski Belum Punya Rumah

  1. even garden

    saya juga nggak punya rumah pak. di keluarga saya ada banyak kamar tapi semua untuk saudara-saudara. saya jadi bingung mau tinggal di mana. mau di kontrakan, gak ada uang, padahal suami punya kewajiban memberi nafkah dan tempat tinggal bagi istrinya. apakah sebaiknya tinggal di rumah istri sama mertua pak? kata banyak orang biasanya hubungan mertua dan menantu tidak selalu baik. menurut bapak gimana?

    1. Untuk sementara waktu bisa tinggal di rumah mertua jika memungkinkan…memang harus menjalin komunikasi yg baik dgn mertua mengenai keadaan yg anda hadapi…pada saat yg sama anda juga berusaha cari kontrakan yg sederhana… Inshaa Allah jika bersungguh-sungguh anda akan mendapatkannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s